
Hari-hari yang dijalani Meilani begitu berat. Namun, keluarganya selalu mendukung Meilani. Karena omongan tetangga yang membuat kuping Meilani panas setiap hari, orang tua Meilani mengungsikan dia ke rumah kakaknya.
"Mbak Mira, siapa dia?" tanya tetangga kakak Meilani.
"Owh, ini adik saya. Dia pindah ke sini karena suaminya baru saja meninggal dunia." Kakak Meilani terpaksa berbohong untuk melindungi adiknya. Dia tidak mau Meilani mendapat perlakuan buruk di lingkungannya yang baru.
"Ya ampun, kasian sekali. Saya turut berduka ya mbak. Namanya siapa?" tanya ibu-ibu yang rumahnya persis di depan rumah Mira.
"Meilani, Bu," jawabnya lirih.
"Hamil ya, Mbak?" Meilani mengangguk.
"Yang sabar ya mbak. Saya tahu pasti berat sekali ditinggal ketika sedang hamil begini. Tapi kamu jangan bersedih demi anak yang kamu kandung." Ibu itu berkata dengan halus. Dia tidak tega melihat Meilani menangis tersedu-sedu.
Meilani menangis karena dia harus mengandung anak laki-laki yang sama sekali tidak tahu asal usulnya. Kejahatan sek*sual yang dia alami masih menyisakan luka di hatinya. Padahal seharusnya saat ini dia menyandang status sebagai istri Gilang.
Tiba-tiba Meilani mengingat Gilang. "Bagaimana kabarmu sekarang, Mas?" batin Meilani pilu. Dia mengusap perutnya yang mulai membesar. Kini dia sudah bisa menerima bayi yang dia kandung. Berat badan bayinya pun mulai bertambah.
Di tempat lain, Gilang sudah kembali bekerja. Itu semua atas dukungan dari Ruli. Dia ingin mencari Meilani. Maka dia harus mendapatkan kembali semangat hidupnya.
Gilang sudah bertekad untuk menerima Meilani dan anaknya jika benar dia tengah mengandung anak ba*ji*ngan yang memperko*sanya.
"Kamu tidak mungkin hidup begini terus. Pikirkan tujuan hidup kamu. Setidaknya kamu lakukan apa yang ingin kamu lakukan. Aku dukung sepenuhnya."
Kata-kata Ruli itu membuat Gilang berpikir untuk mengejar cinta Meilani kembali. Dia tidak peduli jika orang tuanya menentang hubungan mereka. Lagi pula Gilang sudah dewasa dia tahu apa yang baik untuk dirinya sendiri karena dia yang akan menjalani kehidupannya.
"Jadi gimana, Bro? Apa kamu sudah datangi rumah Meilani?" tanya Ruli pada Gilang.
"Dia disembunyikan oleh orang tuanya. Mereka hanya bilang ingin melindungi Meilani dari omongan yang membuat dirinya semakin terpuruk."
__ADS_1
"Jadi apa dia disembunyikan karena dia hamil?" Ruli bertanya dengan hati-hati agar tidak melukai perasaan Gilang. Tapi Gilang menggelengkan kepalanya karena tidak tahu kabar terakhirnya. Orang tua Meilani benar-benar bungkam.
Ruli menepuk bahu Gilang. "Sabar. Jika kamu memang masih terikat benang merah dengannya, Tuhan pasti akan mempersatukan kalian kembali. Hanya tinggal tunggu waktu." Ruli menasehati Gilang dan memberikan dukungan pada sepupunya itu.
Gilang merespon dengan tersenyum. Kali ini dia tidak lagi berbuat semaunya. Dia kembali menjadi Gilang yang dulu sebelum pernikahannya batal dengan Meilani.
Waktu berlalu begitu cepat. Pencarian Gilang nampaknya membuahkan hasil. Dia mencari tahu keberadaan rumah kakak Meilani. Karena setahunya Meilani memiliki dua saudara lain yang tinggal di luar kota. Tapi Gilang baru mendapatkan informasi dari orang suruhannya setelah sekian lama mencari informasi secara diam-diam.
Gilang sengaja menyempatkan waktu untuk menyusul Meilani. Berharap hari ini keberuntungan ada di pihaknya. Gilang menunggu Meilani keluar dari rumah kakaknya. Dia menunggu di dalam mobil dan mengawasinya dari jauh agar tidak mencurigakan.
"Kak, titip anakku ya," pamit Meilani. Dia sekarang bekerja di sebuah toko baju yang tak jauh dari rumah kakaknya. Tentu saja dia harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan anaknya terutama untuk membeli susu dan diapers yang sangat diperlukan untuk bayinya yang berusia sekitar enam bulan itu.
Gilang melihat dengan jelas Meilani sendang mencium anak kecil yang digendong oleh seorang perempuan yang dia duga adalah kakaknya.
"Apa itu anak Meilani?" gumam Gilang. Kemudian dia mengikuti Meilani. Ketika Meilani akan masuk ke dalam angkot, tangan Gilang mencekalnya. Meilani menoleh. Jantungnya berdebar ketika dia melihat mantan kekasihnya itu berada di sana.
Gilang tidak berkata apa-apa. Dia menarik tangan Meilani lalu membawanya masuk ke dalam mobil. "Mas kamu mau bawa aku ke mana?" tanya Meilani bingung.
Gilang tidak menjawab. Dia melajukan mobilnya lalu dia berhenti di sebuah taman. Meilani sebenarnya ingin melarikan diri tapi itu percuma. "Mas apa maumu sebenarnya?" tanya Meilani.
"Ayo menikah!"
Deg
Jantung Meilani seolah ingin melompat dari tempatnya. "Apa kamu sadar apa yang kamu bicarakan ini, Mas?" tanya Meilani histeris.
Gilang memberikan jawaban dengan mencium bibir Meilani. Dia memegang dagu Meilani lalu mencium bibirnya dengan rakus.
Meilani meneteskan air mata. Wanita itu sudah lama tidak melakukannya dengan Gilang. Rasa rindu bercampur haru menyelimuti hati Meilani. Dia pun pasrah ketika Gilang menciumnya.
__ADS_1
Sesaat kemudian Gilang melepas pagutannya. "Aku mencintaimu Meilani. Hari ini besok dan seterusnya. Cintaku padamu tidak akan pernah berubah."
Meilani menangis mendengar ucapan Gilang. "Mas kamu tahu bukan aku ini kotor. Aku sudah dilecehkan. Mana pantas wanita sepertiku menjadi istrimu."
Gilang memegang bahu Meilani. "Mel, aku tidak peduli. Itu bukan kemauan kamu. Aku menerima kamu apa adanya."
"Bagaimana dengan orang tua kamu, Mas. Bukankah mereka membatalkan pernikahan kita karena aku sudah tidak suci lagi waktu itu?"
"Maafkan kedua orang tuaku Mel. Aku tahu mereka salah aku juga salah karena aku tidak bisa melawan keinginan mereka. Percayalah padaku, kali ini aku serius untuk menikahi kamu. Apapun kondisi kamu?" Gilang berkata dengan penuh penekanan.
"Meskipun aku sudah memiliki anak?" tanya Meilani. Gilang mengerutkan keningnya. Dia tahu ini resiko setelah Meilani mendapatkan pelecahan sek*sual tersebut.
Gilang menghembuskan nafasnya berat. "Kenapa tidak? Anak kamu akan menjadi anakku juga. Kita rawat dia sama-sama."
Air mata Meilani meleleh semakin deras ketika mendengar ucapan Gilang. Kata-kata Gilang benar-benar membuatnya terharu. "Apa kamu janji untuk menerima aku dan anakku, Mas?" tanya Meilani sambil menatap ke dalam mata Gilang.
Gilang pun membalas tatapan mata wanita yang dia cintai. "Tentu," jawabnya dengan mantap.
Meilani pun tidak ragu lagi memeluk tubuh laki-laki yang dia cintai. "Aku mencintai kamu Mas. Aku sangat merindukanmu beberapa bulan ini."
"Aku tahu, sayang. Aku tahu." Gilang pun ikut menangis haru. Dia sangat bahagia setelah sekian lama terpisah dengan orang yang dicintai kini akhirnya mereka bisa dipertemukan.
...♥️♥️♥️♥️...
Aku nulisnya ini mode crazy up ya jadi kalau ada yang typo kalian bisa komen langsung di bagian yang ada typonya.
Sambil nunggu kalian bisa mampir ke sini ya
__ADS_1