
Hari ini Ruli kedatangan Siena. "Papa," panggil Siena ketika memasuki restoran milik Ruli.
"Siena?" Ruli terkejut melihat kedatangan anaknya yang beranjak remaja.
Siena memeluk Ruli dengan erat. "I miss you."
"Miss you too. Datang bersama siapa?" tanya Ruli pada anak kecil yang merupakan anak mantan istrinya itu.
"Sendiri," jawab Siena.
"Mana orang tuamu?" tanya Ruli.
"Mereka ke luar negeri setelah mengantarku." Ruli menjadi khawatir saat Siena berkata demikian. Dia takut Siena akan minta tinggal bersamanya.
"Duduklah dulu akan aku pesankan minum."
Siena menarik tangan Ruli. "Aku ingin tinggal bersama papa," ucapnya sambil menangis.
Ternyata dugaan Ruli benar adanya. "Siena ingat papa dan orang tuamu pernah bertengkar karena masalah hak asuh kamu?" Siena mengangguk.
"Lalu bagaimana kalau kali ini mereka kembali memusuhi papa kalau kamu minta tinggal bersama papa? Papa ingin sekali merawat kamu sayang, tapi papa tidak berdaya karena kamu masih jadi tanggung jawab orang tuamu." Ruli mencoba menjelaskan panjang lebar agar Siena mengerti.
"Tapi mereka membuangku, Pa." Siena menyerahkan sepucuk surat untuk Ruli.
To Ruli
Kami serahkan Siena padamu. Dia tidak bahagia bersama kami. Kami menyayanginya tapi dia hanya menyayangi kamu. Kami tidak mau setiap hari Siena menangis karena merindukan kamu. Maka kami serahkan Siena padamu. Kami tidak akan menuntut hak asuh lagi. Setelah ini, kami pindah ke luar negeri, jagalah Siena dengan baik. Kami tahu kamu juga menyayangi Siena.
From Grace & Hans
Ruli menitikkan air mata selesai membaca surat itu. "Ini nggak bohong kan?" tanya Ruli pada Siena. Dia khawatir anak itu memalsukan surat atas nama orang tuanya. Setelah itu, dia menelepon Grace.
"Grace apa maksudnya ini? Kamu benar-benar membuangnya?" cecar Ruli pada mantan istrinya.
Terdengar suara tawa di balik sambungan telepon itu. "Aku tidak membuangnya, Mas. Aku menitipkannya padamu jika waktunya kembali biarkan dia kembali padaku. Tapi selama dia masih mau tingga bersamamu jangan paksa dia kembali."
Usai mendengar ucapan Grace, Ruli menutup teleponnya. "Siena, kamu bisa tinggal bersama papa," ucapnya sambil memeluk anak itu.
Setelah itu Ruli mengajak Siena kembali ke rumah. "Dia siapa, Pak?" tanya Lala.
"Dia anak saya." Lala yang belum tahu asal usul Siena hanya bisa terkejut.
"Siena ini mbak Lala yang jadi pengasuh adik-adik kamu," terang Ruli.
__ADS_1
"Adik?" tanya Siena.
"Papa." Glen dan Gwen berlari ke arah Ruli. Meraka berhambur ke pelukan Ruli.
"Sayang, papa mau kenalin seseorang. Ini namanya Kak Siena," tunjuk Ruli.
Gwen dan Glen mengulurkan tangannya. Mereka berebut untuk bersalaman dengan Siena. Tapi sikap yang ditunjukkan Siena berbeda. Dia langsung merangkul kedua anak kecil itu. "Sekarang kita saudara."
"Siapa nama kalian?" tanya Siena usai melepas pelukannya.
"Glen."
"Gwen."
"Ayo kita masuk. Papa akan menyuruh bibi untuk siapkan kamarmu dulu sayang." Siena mengangguk.
"Ayo kita main di kamar kalian."
Cukup lama mereka bertiga main di kamar sampai Glen dan Gwen ketiduran. Siena keluar setelah adik-adiknya tertidur. "Mereka sudah tidur, Pa," lapornya pada Ruli.
"Papa tidak menyangka kamu pandai mengurus adik-adikmu," puji Ruli pada anak itu.
"Di mana nenek?" tanya Siena yang belum tahu kabar meninggalnya mama Lira.
"Jangan bersedih. Nenek orang baik pasti akan dijaga dengan baik. Banyak kejadian setelah kepergianmu waktu itu."
Siena mendongak. "Apa mama Kristal akan menerima aku kembali?" tanya Siena dengan wajah sendu.
"Kenapa tidak?"
Tak lama kemudian orang yang dibicarakan datang. Kristal mengentikan kakinya ketika melihat seorang anak gadis berdiri di samping Ruli. Ruli dan Siena menoleh ke arahnya. "Apa dia..." Kristal tak meneruskan kata-katanya.
Ruli mengangguk. Dia tahu siapa yang dimaksud oleh istrinya. "Dia memang Siena."
Kristal menutup mulutnya. Anak gadis itu sudah beranjak remaja. Kristal merentangkan tangan agar Siena berlari ke pelukannya. Siena ragu kemudian dia melihat ke arah Ruli. Laki-laki itu pun menganggukkan kepala. Tanpa ragu lagi Siena memeluk Kristal. "Mama."
Suasana berubah haru. Siena dan Kristal sama-sama menangis. "Akhirnya mama bisa bertemu denganmu lagi," ucap Kristal sambil mengusap rambut panjang gadis itu.
"Aku juga senang bisa memeluk mama lagi."
Sesaat kemudian Siena melepaskan pelukannya. "Ma, apa aku boleh tinggal di sini?" tanya Siena sambil menatap Kristal nanar.
Kristal tidak bisa memutuskan. Dia menatap suaminya seolah bertanya dalam diam. "Dia akan tinggal bersama kita." Ruli menyerahkan surat yang dibawa Siena tadi. Kristal pun menerima surat itu lalu membacanya.
__ADS_1
"Aku masih tidak mengerti," ucap Kristal yang bingung.
"Grace menyerahkan Siena pada kita. Dia bilang Siena lebih bahagia tinggal bersama kita."
"Mas, aku takut kalian akan bertikai lagi."
"Tidak, karena aku sudah memastikan kebenarannya pada Grace secara langsung."
Kristal menangis bahagia. "Keluarga kita bertambah satu lagi," ucap wanita yang sedang hamil itu.
"Mama apa aku akan punya adik lagi?" tanya Siena polos saat melihat perut Kristal yang semakin membesar. Ya, usia kehamilan Kristal kini menginjak lima bulan.
Kristal mengangguk menjawab pertanyaan Siena. "Apa kamu mau merawat adik-adik kamu dan juga menyayangi mereka?" tanya Kristal.
"Mau, aku akan merawat dan menyayangi mereka." Siena memeluk wanita itu dari samping.
Setelah itu kamar yang disiapkan untuk Siena sudah siap. "Kamarnya sudah saya bersihkan."
"Baik, Bi. Terima kasih banyak ya," ucap Ruli.
"Sayang kamu bisa beristirahat dulu," perintah Ruli pada anak gadis itu. Siena menganggu patuh. Kemudian Ruli mengajak istrinya ke kamar.
"Jadi kapan kamu ambil cuti sayang?" tanya Ruli.
"Sekitar dua bulan lagi, Mas. Ketika menginjak usia tujuh bulan kehamilanku," jawab Kristal.
"Apa kamu tidak capek? Sini aku pijit kakinya." Ruli mengangkat kaki istrinya ke atas paha laki-laki itu. Dia memijit dengan lembut agar peredaran darah di kakinya lancar.
"Betapa beruntungnya aku punya suami sebaik kamu, Mas. Laki-laki lain belum tentu mau memijit kaki istrinya seperti ini."
Ruli tersenyum mendengar pujian dari istrinya. "Kamu memuji pasti ada maunya kan?" ledek Ruli.
"Nggak ada, Mas. Aku bilang apa adanya. Suer." Kristal bahkan mengangkat jarinya membentuk huruf V.
Ruli terkekeh. "Iya percaya. Lalu apa kamu tidak mau gantian memijit aku sayang?" tanah Ruli pada Kristal.
"Baiklah, bagian mana yang mau dipijat?" tanya Kristal.
Ruli mengarahkan tangan istrinya ke bawah. "Ini sih namanya pijat plus-plus."
...😁😁😁...
Kalian jangan mikir yang macem-macem ya. Hari ini akan othor tamatin cerita ini. Nanti pindah baca ke novel lainnya ya. Jangan lupa mampir di novel yang udah tamat.
__ADS_1