
Tak sanggup lagi untuk mengutarakan segalanya Elghora Dezira harus memilih dengan kebungkaman agar dirinya tak kehilangan Stive El Zeidan, pikiran nya kacau bahkan sekarang baginya sangatlah sulit untuk menyingkirkan posisi dimana ia akan mengalami sebuah kekalahan dari semua hal yang terjadi,
sedikitpun ia sama sekali tak mampu menatap kedua manik mata yang mungkin akan selalu dirindukan nya,bulir air mata tak kunjung berhenti berlimang pada pipih merona Elghora Dezira,
Hati Stive,
"Mampukah aku menyelamatkan nya dengan melukai perasaan mu, bisakah aku menenangkan mu El,tapi aku juga tak mungkin membiarkan gadis itu mati begitu saja, mengingat rahim itu memiliki nyawa disana, El kau bahkan tak menatap ku, apa yang harus aku lakukan? "
Berjalan mendekati Elghora Dezira, Stive El Zeidan terduduk dihadapan Gadis yang saat ini mengalami kekacauan yang teramat sempurna,
Ucap penuh ketegasan dari Stive kepada nya,
sembari menyentuh lembut pipih basah berlinang air mata Stive menahan untuk lebih memilih keputusan sang kekasih,
"Katakan El, apa yang harus ku lakukan? dia sahabat mu, juga teman semasa kecil ku,haruskah kita membiarkan nya? sedangkan saat ini pikiran ku cuma satu, janin itu tak bersalah bukan! "
seketika Elghora Dezira mengangkat pandangannya menatap rapuh Stive El Zeidan,
Ujarnya,
"Lakukan apapun yang terbaik bagi janin itu, ya dia tidak bersalah, kita juga tak seharusnya se egois ini bukan, lalu_? "
"Apa kau percaya padaku El? "
"Ya, Stive, "
"Kalau begitu bisakah aku yang mengambil keputusan ini dan Elghora ku cukup mematuhi ku, maka semua akan membaik, bagaimana? "
".... "
"Hatiku hanya untuk mu El, tidak ada yang mampu melawan apalagi menguasi tempat ini selain dirimu, "
lalu dengan sangat berat ia menganggukkan kepalanya dan disitulah Stive El Zeidan berdiri memalingkan tubuhnya menghadap Biyanka berjalan mendekati nya dengan, mengulurkan sebuah tangan jemari yang menerimanya begitu saja,
"Turunlah, bukankah itu tidak baik untuk mu Biyanka! "
mendengar penuturan dari Stive akhirnya Biyanka Barnia mengurungkan niatnya untuk melakukan bunuh diri disana, pelukan erat Biyanka pada tubuh Stive seolah membuat hantaman luar biasa bagi Elghora Dezira,
Batinnya,
__ADS_1
"Sepertinya mulai hari ini semua akan terbagi dan itu dengan sahabat ku sendiri, kenapa aku harus mengalami semua ini? "
Stive pun merasa kalut luar biasa melihat binar pucat itu menatap dirinya namun nampak sebuah senyuman yang membuat hati Stive El Zeidan mematung sesaat,
"Apa arti senyuman itu El? "
mencoba sekuat tenaga berdiri Elghora Dezira berdiri kembali menyingkir dari mereka yang dirasa sangat mencekiknya, dengan keselamatan nya, ia tak rela berbagi kekasih kepada siapa pun apalagi jika wanita itu adalah sahabat nya sendiri,
pergi dengan berat hati ia menyekat sebuah taxi dan kembali untuk beristirahat menenangkan pikiran nya, dirinya tak ingin tau atau terlibat dengan semua keputusan gila yang masih berlanjut,dia lebih memilih pergi dan akhirnya Elghora Dezira memilih untuk kembali ke rumah kosan yang dianggap nya lebih nyaman saat ini,
Namun setibanya Limoran yang membuka pintu tersebut tercengang melihat wajah yang begitu sembab buruk itu kini berada dihadapan nya tanpa mengatakan apapun bahkan menyapa pun sulit bagi Elghora Dezira, masuk langsung pergi kekamar Sin yang melihatnya dari jauh pun tak berani berbicara hanya bisa berharap semuanya baik-baik saja,
************
Keesokan harinya ketika Limoran mencoba mengetuk pintu dan tak ada jawaban maka dengan sangat lancang ia menerobos masuk walaupun tanpa izin, disetiap sudut ruangan tak nampak ada Elghora Dezira, bahkan dikamar mandi juga tidak ada, Limoran yang merasa cemas pun pergi menghampiri Sin sehingga dengan nafas yang tersengal ia harus mengatakan Elghora Dezira menghilang dari kamarnya,
Limoran sangat khawatir,
"Sin bagaimana jika terjadi sesuatu kepada nya? "
"Jangan berpikir negatif terlebih dahulu, mungkin ia sedang kembali menuju apartemen nya Li, "
"Semua akan baik-baik saja Li, tenanglah, "
**********
Sedangkan dikediaman besar keluarga Barnia mereka sedang melakukan persiapan untuk pernikahan sang putri Biyanka Barnia dengan Stive El Zeidan, namun acara tersebut hanya dihadiri oleh kedua belah pihak keluarga saja, sedangkan di Vila Seluruh keluarga Stive tercekat melihat sang putra menahan emosi atas keputusan gegabah kali ini,
Bukan hanya itu dirinya juga kebingungan mencari Elghora Dezira yang menghilang lenyap hanya dalam waktu semalam, bahkan penjagaan khusus pun tak mampu mengawasinya, kepergian Elghora Dezira akan membuat semua semakin kacau,
"Brakk,"
hantaman keras meja keluarga,
"Ingatlah aku akan melengserkan mereka satu persatu, barulah setelah itu gadis benalu yang terakhir merasakan akibatnya! "
seluruh keluarga tau jika putra tertuanya sampai tersulut emosi yang tak kunjung terhenti, maka yang sekarang mampu menenangkannya hanya gadis itu, Elghora Dezira yang kini lenyap bagai ditelan bumi,
Mereka tau putra nya hanya merasa kasihan dengan janin itu, tapi jika suatu saat yang menjadi penghalang lenyap, maka kemungkinan besar nyawa gadis itu pun tak akan selamat ditangan Stive El Zeidan, murka nya adalah ketika cintanya menghilang, semua berubah bahkan sikap nya seolah tak bisa terkontrol atau pun dikendalikan hanya bisa membuat seisi keluarga bahkan kedua adik laki-laki nya terdiam ditempat,
__ADS_1
*********
Pernikahan yang terjadi saat ini seperti sebuah badai bagi keluarga besar Zeidan, mereka telah kehilangan kehangatan sang putra tertua juga tak mampu banyak bicara dengan semua masalah kali ini, lalu setelah selesai Biyanka Barnia pun ikut bersama dengan Stive El Zeidan dikeluarga besarnya,
DiVila akhirnya keduanya berada saat ini tanpa bicara ataupun memandang Biyanka Stive hanya berjalan lurus tanpa menghiraukan nya, mencoba berlari menyusul Stive ternyata tepat diruang tamu ketika semua sedang berkumpul putra tertua Zeidan meluapkan keinginan nya,
"Pak Kim, semua sudah siap! "
"Ya Tuan, semua sudah selesai seperti keinginan anda, "
"Tidurlah ditempat yang tengah disediakan, jangan mengharapkan apapun dariku, bukan lah kau hanya ingin sebuah identitas baru, sekarang aku sudah memberikan apa mau mu, jadi jika kau berani ikut campur urusan hidup ku, maka aku akan hancurkan hubungan ini, disaat itulah bahkan aku tak akan lemah hanya karena anak yang bukan milik ku itu, camkan ucapan ku ini, Biyanka Barnia, Pak Kim bawa dia ketempat nya! "
"Baik Tuan, "
Biyanka Barnia hanya menurut dia menerima semua perlakuan kasar dari sikapnya walau tak sampai main tangan, tapi sifat Stive El Zeidan berubah sangat besar dari sebelumnya yang pernah memberikan perhatian kepada nya,
Biyanka yang melihat kearah keluarga dengan begitu menyesal melihat keheningan yang teramat dingin mereka kepada dirinya yang baru datang di keluarga ini,
Ujar sang ibu kepada nya,
"Lakukan apapun selagi itu tidak menyusahkan atau mencoreng reputasi keluarga ini, bukankah kau sudah puas dengan hasilnya, maka jangan berharap lebih juga dari kami, karena mungkin jika bukan karena putra ku, aku pun tak sudi melihat wajah gila mu itu, Biyanka Barnia, "
sembari pergi meninggalkan dirinya,
Tak ada satupun dari keluarga yang menyambut hangat kedatangannya, semua karena kesalahannya sebab itulah dia menerima semua ini dengan senyum berat diwajahnya,
ucapnya,
"Aku tidak peduli dengan sikap kalian setidaknya aku sudah berada di Vila ini dan mendapatkan sebuah status itu sudah cukup untuk ku dan bayi ku, Stive suatu hari nanti kau pasti akan menerimanya! "
lalu datanglah seseorang yang secara gamblang menyahutinya,
"Mustahil karena semua yang ada didalam hati bahkan tubuh itu hanya ber pemilik Elghora Dezira, jangan lupakan itu, wanita benalu penghancur hubungan orang, aku bahkan jijik melihat kegilaan mu, dan kau tak akan pernah dianggap oleh keluarga ini, atas penghinaan dan tuduhan yang pernah kau berikan itu, ingat ucapan ku, wanita bodoh! "
Dia adalah putra ketiga dari keluarga Zeidan yaitu Stiya El Zeidan.
akhirnya tanpa berpikir panjang lagi Biyanka Barnia langsung mengikuti langkah kaki pak Kim yang menunjukkan kamar untuk dirinya beristirahat,pernikahan adalah sebuah harapan yang sejak dari awal mengambarkan kebahagiaan namun kali ini Biyanka Barnia seolah mendapatkan penderitaan dari orang yang pernah memberikan kepercayaan lebih kepada dirinya,
"Kenapa dulu aku harus begitu bodoh dengan keputusan gila ku, Biyanka lihatlah semua seolah terbalik hancur menghantam ku sendiri, "
__ADS_1