
Jam Besuk dimulai,
seperti biasa Biyanka Barnia menjadi orang panggilan yang selalu aktif dalam setiap harinya mendapatkan besukan, sebab dirinya selalu penasaran dengan kabar sang pujaan yang membikin dia semakin gila di jeruji besi ini,
Blezen,
"Apa Nona ingin mengetahui segalanya, sekarang juga? "
jawabnya,
"Kau pikir apa gunanya aku membayar mu selama ini? kau adalah orang bayaran ku jadi ingatlah tugas mu itu! lalu sekarang informasi apa yang akan kau katakan kepada ku, emm? "
Sebenarnya hati terdalam Blezen,
"Kau itu selalu saja mengincar orang yang tak pernah peduli pada mu, sedangkan kau juga orang yang perlu mendapatkan perhatian dari seseorang, seandainya kau menganggap ku bukan sebagai orang bayaran, maka kau juga akan berubah sama seperti sedia kala, aku bahkan harus bersikap seperti ini demi dirimu, Biyanka Barnia, nyaris tak pernah kau mengingat siapa sosok orang yang kau panggil Blezen ini, padahal kau adalah orang yang paling spesial bagi ku,dan untuk kabar dari mereka aku sudah mempersiapkan segalanya yang menarik untuk mu! "
tanya nya kembali,
"Hallo Blezen, apa kau melupakan sesuatu disini? emm, "
senyum seringai terpampang nyata, sontak Biyanka menjadi heran dengan sendirinya,
Tegas Blezen kepada nya,
"Sepertinya Stive El Zeidan menghilang ditelan bumi juga, "
Biyanka terpancing,
"Apa katamu? bagaimana bisa kau mengatakan seolah dia menyusul sang wanita nya itu? "
balik berkata,
"Ya memang itu kabarnya saat ini, lalu sekarang kau ingin aku bagaimana? haruskah aku juga lenyap ditelan bumi seperti mereka, emm? "
berpikir sambil bergumam,
"Mustahil hilang begitu saja,
(menatap curiga Blezen)
Kau sengaja membuat ku ter kelabui dengan semua alasan konyol mu itu, katakan sejujurnya! "
Gumamnya Blezen pelan,
"Harusnya aku tidak menyampaikan nya saja, supaya hasil usaha ku tidak diremehkan, seperti sekarang ini, padahal jika bukan karena aku siapa yang akan membantu orang yang sudah berstatus seperti nya, hahh menyebalkan, "
gerutunya,
"Kau bilang apa barusan? jadi kau berani padaku Blezen! "
__ADS_1
Blezen langsung pergi meninggalkan nya begitu saja, namun dibalik pintu terdengar suara teriakan Biyanka Barnia yang sedari tadi mengomel memanggilnya,
Batinnya,
"Kau membutuhkan orang seperti ku Biyanka,mencoba mengendalikan ku dengan uang yang tak seberapa itu,sekarang saatnya aku yang akan mengendalikan mu dengan semua uang yang ku miliki, bahkan tak ada satu anggota keluarga nya yang datang kemari untuk membesuknya,dan mengenai Pria idaman tergila mu itu,tak ada satupun yang tidak aku ketahui, namun kenyataan nya aku sembunyikan segalanya darimu agar kau berubah Biyanka Barnia, dan mengenai uang untuk meringankan hukuman mu, sebenarnya belum aku berikan seperti kemauan mu, aku hanya menunggu waktu saja, jika kau mampu berubah seperti Biyanka yang ku kenal dulu, maka aku sendiri yang akan membuat mu keluar dari sini, keturunan tunggal Barnia, ini akan sangat menarik selanjutnya, "
Bahkan seseorang yang dianggap harapan sebagai senjata kini menyerang balik pemiliknya, walau begitu niat baiknya adalah hal yang menjadikan dia berani sampai bertindak sejauh ini,
***********
Dikediaman Dezir,
Elzedam duduk mematung sambil menyentuh dahinya yang sekarang kebingungan, karena keputusan yang akan diambil untuk membuat alasan mengenai masalah pelik ditengah kegusaran nya, bagi Elzedam Deziren tak ada yang paling menakutkan dari keluarga Dezira,
Ujar seseorang yang sedari tadi mengawasi dengan pantauan menyeramkan
"Kau itu diambang gila atau apa? bahkan hanya menjawabnya saja kau sampai berkeringat dingin, atau kau memang membuat kesalahan, jika iya, bersiap lah, Elzedam Deziren! "
Semua ucapan itu layaknya jarum yang telah menusuknya, seandainya ada Erghone Dezirev disini maka yang bisa dia lakukan adalah dengan menenangkan hati tetua ini, dan itu hanyalah dia seorang, tapi apa daya nya jika kini orang yang bisa membantu jalan satu-satunya juga dalam keadaan untuk menjaga sang putri tercinta maka,
"Ada apa dengan tatapan itu? "
"Kau masih tak mau membenarkan nya, Elzedam Deziren, apa kau pikir walaupun dia berada di singgah sana mu aku tetua dari Dezira akan melepas pantauan begitu saja? tidak, bahkan setelah semua keputusan gila itu kau membuat cucuku Stres sehingga mengalami kecelakaan ditengah jalan, "
Elzedam tersentak kaget, tentu saja, bahkan hari ini dirinya baru saja mendengar kabar dari putra tertuanya, lalu bagaimana bisa tetua Dezir lebih dulu mendengar nya, semua sudah diatur oleh penguasa mutlak Dezira, dihadapan Daddy selama ini dia hanya berlogat baik, tapi dibalik itu semua Erghone Dezirev adalah penerus asli Dezira atas kuasa mendiang Elviren Dezira,
semua berjalan dengan sangat sempurna, setidaknya agar dia seorang Daddy tak langsung mengambil kesimpulan dengan meminta sang putri tunggal melakukan keinginan nya, inilah alasan utama Erghone langsung mengabarkan segalanya mengenai Elghora Dezira, namun semua sikap atau pun perilaku putra tertuanya sama sekali tak membuat kecurigaan kepada tetua Dezir, karena selama ini dirinya begitu patuh kepadaNya, namun disaat pertunangan yang dilakukan membuat dampak bagi Elghora, maka ia tidak Terima dengan semudah itu, asumsi terbesarnya adalah dengan mengatakan kebenaran kepada keluarga mendiang Elviren Dezira,alhasil mereka pun langsung mendatangi kediaman besar Dezir dengan menyudutkan Elzedam Deziren,
*********
"Bisa kau ikut aku sebentar, Lezif! ada yang mau aku bicarakan kepada mu, "
Lezif pun langsung menjawab,
"Tentu, "
lalu keduanya pun pergi keluar ruangan dan berbicara sesuatu yang sangat serius,
Erghone,
"Bagaimana bisa kau berada disini? "
menatap Erghone dengan seksama,
"Secara tidak sengaja, aku mengikuti dibelakang laju mobil mu dengan kecepatan yang luar biasa, dan untung aku masih bisa menyusul, jadilah aku berada disini, ada apa? kau seperti nya nampak begitu kaget? "
memejamkan mata sambil bersandar pada kursi dirumah sakit,
"Kau tau, ini sungguh sulit untuk dikatakan, tapi, apa kau yakin dengan keputusan menyakitkan ini, Lezif? "
__ADS_1
cakap nya,
"Kau bicara seperti itu karena mengkhawatirkan ku bukan,aku sangat mengenal mu lebih dari siapa pun, tapi jika aku mundur maka seumur hidup pasti akan dihantui oleh keputusan terbodoh ku, setidaknya ini perlu dicoba kan, Erghone Dezirev, "
geleng-geleng kepala sembari melihat ekspresi wajah Lezif,
"Kau pasti terkejut, apa lagi kalau seseorang yang disukai oleh adikku adalah_"
sebelum melanjutkan ia malah tersenyum puas dihadapan Erghone,
"Ini seperti keberuntungan terbesar dalam hidup ku, kau tau Erghone,karena Stive orang yang tidak pernah main-main dengan sebuah pilihan, maka dari itu semua yang akan terjadi kedepannya juga akan sangat mengejutkan, "
gumam Erghone,
"Aku mencemaskan tapi seperti nya percuma, orang yang dikhawatirkan malah justru menikmati akan adanya keseruan yang akan ditunggu kedepan nya, kau benar-benar sulit dipercaya,Lezif Zoead, "
Ucap penuh kebahagiaan,
"Baiklah ayo kita masuk, aku tidak mau membiarkan tunangan ku berduaan saja dengan kekasih nya yang gila itu, cepatlah Erghone kau ini kenapa sangat pelan sih, apa perlu aku carikan wanita baru, emm? "
menahan emosi,
"Mau aku pukul atau hajar sekarang juga, hah, "
jawab berkulai senyum bahagia,
"Iya ya paham, hehe, "
sedang didalam ruangan Stive El Zeidan selalu tersenyum ceria di sisi Elghora Dezira, dirinya tengah mendapatkan kehidupan nya kembali jika bisa berada di dekat gadis cantik itu, Lezif yang melihat langsung ekspresi kecerian diwajah Elghora membuat hati kecilnya seolah tak mampu bertahan tapi, ia menyemangati dirinya agar selalu siap mengahadapi apapun kedepannya,
gumamnya dari balik pintu masuk ruangan yang ditempati Elghora Dezira,
"Walaupun aku tau dia kebahagiaan mu El, tapi aku juga ingin bahagia disisi mu,"
sahut Erghone Dezirev,
"Inilah sebabnya kau akan selalu terkena serangan mental jika melihat keduanya bersama! "
lanjut nya lagi menghadap Erghone,
"Yah ini lebih baik dari pada tidak merasakannya sama sekali, bukan begitu Erghone Dezirev, "
tatapan penuh emosi,
"Kau menyindir ku, Lezif Zoead, "
senyum sinis mengadanya,
"Itulah yang paling menyenangkan, jika bersama dengan mu, "
__ADS_1
pikir nya yang menatap Lezif pergi menghampiri kedua orang yang sedang tersenyum dari kejauhan mata,
"hah terserah kau saja, jika itu aku lebih baik tak merasakan dari pada hidup dibuat menyesakkan setiap saat,"