
Gumamnya dalam hati,
'Maafkan aku karena keputusan terbesarku saat ini, walaupun kehilangan atas nama ini tak membuatku terkejut, namun sebuah pilihan yang mengharuskan aku me**ninggalkan satu keputusan terberat adalah dimana hatiku tak mampu melepaskan Elghora Dezira untuk kedua kalinya, ku mohon maafkan kakak mu ini Limoran**! '
Lalu dengan menyandarkan punggung itu kesofa ia menghela nafas panjang,
Ujarnya,
"Padahal waktu begitu lama untuk nya, tapi sepertinya dia masih belum mengutarakan nya, dasar wanita bodoh, "
mendongak kan kembali wajah itu sambil membicarakan Lezif zoead,
"Seandainya dia benar-benar menyampaikan pesan kepada mu mengenai perasaan nya apa yang akan kau lakukan? sepertinya aku hanya bisa menduga satu hal, bahwa kau akan menghindari nya, itu pasti sangat disayangkan dengan semua ketulusannya terhadap mu, Lezif zoead! "
. Lezif yang sedari tadi mendengarkan alasan ucapan yang sedikit mengejutkannya malah membikin ia nekat mendekat sembari menggenggam erat jemari tangannya,
"Maaf atas semua kebodohan ku Elghora, bisakah kau memaafkan ku! "
tanggapan tak terduga disambut hangat olehnya,
"Benarkah apa yang aku dengar barusan? seorang Lezif zoead meminta maaf atas sikapnya terdahulu, apa aku begitu menghantui dirimu, emm? "
dengan menempelkan telapak tangan Elghora kepipi Lezif yang sekarang tampak memerah Karena sikap wanita itu,
Bisiknya lagi yang teramat mendengung dalam pendengaran yang membikin deru detak jantung Lezif memburu cepat seolah ingin menerkam nya dengan habis-habisan,
"Semua tergantung dari sikap mu, Lezif zoead, ternyata kau masih sama tak menariknya seperti sebelumnya! "
mendengar ungkapan yang dirasa sangat membuat kegundahan serta ketidak nyamanan sontak, seketika ia membalikkan badan Elghora Dezira sehingga kini sudah berbaring disofa dengan Lezif zoead diatasnya, melihat hal demikian Luwis Ndrizen yang hendak membantu nya terhenti sebab mendapatkan perintah dengan kode diam pada tangannya,
akhirnya Luwis Ndrizen lebih memilih untuk mengawasi tindakan Lezif zoead, namun ketika dirinya hendak membuat bibir yang teramat dirindukan untuk dirasakan ternyata Limoran dengan gigih datang dan memisahkan Lezif zoead dari posisi yang dibenci oleh nya,
melihat tindakan bodoh wanita itu Lezif zoead sangat menahan amarah nya yang sudah diketahui oleh Elghora Dezira telah memuncak, tinggal menunggu akankah dilayangkan atau dilesatkan ke sembarang arah,mengingat bahwa si pengganggu adalah adik angkat kepercayaannya sendiri,
batinnya,
'Apa yang sekarang bisa kau perbuat Lezif zoead? melihat adik angkat mu yang sama sekali tak menghargai usaha serta jirih payah mu dengan tindakan gegabah nya karena takut kehilangan dirimu, apa kau mampu bersikap lebih jauh dengan sedikit keegoisan mu? aku benar-benar ingin tau mengenai hal ini, aku akan menjadi penonton setia mu kali ini! '
__ADS_1
Dengan wajah yang penuh luapan amarah dia memarahi Limoran tepat dihadapan Elghora Dezira,
"Apa kau tau yang kau lakukan sekarang? kenapa kau hanya bisa menghancurkan segalanya? aku bisa membuat mu mendapatkan keinginan mu, tapi seharusnya kau juga harus memahami keinginan ku, apa kau sudah hilang akan mengganggu ku disaat seperti ini, Limoran? "
bentakan begitu keras membuat ketidak percayaan nya akan Lezif yang mampu membuat wajah penuh harapan agar bisa dipahami meneteskan buih air mata disana,
"Aku bersikap seperti ini karena kakak, aku takut kehilangan mu, dan aku lakukan semuanya agar aku bisa mendapatkan mu sebagai milikku, karena aku menyukaimu, Kak Lezif! "
tubuh itu tiba-tiba langsung ambruk disofa yang berada tepat cukup jauh dari sofa yang diduduki Elghora,
"Kau bodoh hah, kau sadar dengan ucapan mu barusan, detik ini juga kau menyadarkan ku atas kebodohan dirimu, kupikir kau berbeda dengan keluarga mu, maka aku sampai bertindak sejauh ini untuk masa depan mu, ternyata kau cukup picik sampai aku menyesal menghancurkan keluarga ku demi wanita seperti mu, jadi menyingkir atau aku sendiri yang akan menyingkirkan mu! "
hanya diam dengan menatap sendu wajah kakak yang kini sudah menghilang dari tatapan nya, berdiri menarik pergelangan tangan Limoran dengan kasar melebihi Luwis memperlakukan nya, dengan cepat dia melempar tubuh itu keluar pintu utama sembari berkata,
"Mulai detik ini kita bukan lagi saudara angkat, melainkan orang Asing yang tak pernah bertemu sebelumnya, jadi enyahlah dari hadapan ku, atau sekali saja kau menampakkan dirimu maka jangan harap kau bisa hidup tenang seumur hidup mu! "
mendengar penegasan itu Elghora Dezira dibuat terkejut bukan main, menutup pintu utama dengan rapat, ia menatap tajam wanita yang memandang datar tanpa ekspresi membikin jantung itu semakin memuncak hebat, langsung saja ia kembali melakukan sesuatu hal yang begitu didambakan oleh nya sejak lama,
namun ketika beberapa kecupan sudah menjalar ke sisi leher jenjang Elghora, ia menjelaskan sesuatu yang sangat menarik,
"Kau harus menyiapkan satu kamar khusus untuk putra ku Lezif zoead, sebab dia juga akan tinggal disini, dan kau tau dia_"
"Dia putra ku El, benarkah apa itu anak ku? "
membelai wajah penuh harap akan buah hati yang selama ini tertanam tanpa sepengetahuan nya adalah miliknya, namun,
"Dia adalah Putra dari Stive El Zeidan, bagaimana menurut mu? bukankah kamu puas dengan kejutan ku,kaulah yang membuat ku bertindak sampai sejauh ini, jika sejak awal kau jujur,maka semua ini tak akan terjadi,Mantan suami ku, emm, "
disingkirkan tubuh itu dari hadapan nya dan kini ia kembali menuju kamar untuk beristirahat,
melihat punggung yang semakin menjauh dia sangat terkejut hingga tak mampu bicara lagi,
"Sadarlah kau benar tengah kehilangan dirinya yang menjauh sangat tinggi dari mu Lezif zoead! "
Didalam kamar Elghora Dezira menatap atap langit sambil berdecah kesal,
"Mereka itu hanya bisa membuat kepala ku pusing saja, jika bukan karena keinginan Paman, hahh sekali pun aku tak ingin menginjakkan kaki ku dikediaman ini, benar-benar harus melawan jalan yang sebaliknya, "
__ADS_1
sedangkan Luwis Ndrizen masih berjaga didepan pintu kamar Elghora Dezira yang menjadi penjaga Nona,
Ditempat Lain Biyanka Barnia tergeletak lemah pucat bagai mayat hidup yang terkapar diatas ranjang,
"Seperti nya aku masih memiliki delapan nyawa lagi yang tersisa, "
sahut Manis seseorang yang disamping nya,
"Kalau begitu jika aku melakukan ronde kedua berarti tinggal tersisa tujuh nyawa lagi, begitu kan, baiklah kita lanjutkan ber-interaksi riang diatas ranjang yang sudah rapi tak jelas dilihat, Biyanka Barnia! "
mencoba berlari menghindar namun sebelah kaki itu tercekal kuat sehingga,
"Hi-dup ku kenapa harus berada di tiang gantungan sekarang?"
Ujar Blezen yang bingung dengan perkataan Biyanka,
"Maksud mu apa Biyanka? Tiang gantungan, yah buatlah kekasih mu ini bisa Menetralisir semua pemahaman liar mu itu! "
"Biar kau merantau sejauh apapun, ku pastikan kau gila akan semua ucapan yang selalu aku lontarkan kepada mu, Kenapa gak di sini, disana? hidup ku selalu berakhir tragis, "
"Memang siapa yang mencoba membunuh mu hemm! "
"Kau, "
"Aku bagaimana bisa? "
"Kau memasukkan pedang mu itu padaku, tentu saja aku sudah mati satu kali, jika kau melakukan nya lagi, kau pikir aku bisa hidup hah! "
"Pedang, memasukkan, Astaga, bukannya lebih Enakan begitu Biyanka, kau sendiri saja menikmati nya, "
"Menikmati dari hongkong, apanya,kau itu yang kurang kerjaan, pemaksaan, sekarang tinggal memaki ku dengan kata menikmati nya, hei kau Blezen, bukannya kata itu untuk dirimu sendiri hah! "
"Iya, Kenapa? jika tidak,mana mungkin aku menginginkan mu lagi saat ini, "
"Ogah banget, "
Namun lagi-lagi tubuh kecil itu sudah berada dibawah kendalinya.
__ADS_1
"Aku benar-benar bodoh, dulu dia orang kepercayaan ku yang ku anggap sebagai tangan kanan ku, sekarang malah aku yang dimakan oleh nya, dasar pria mesum gila, "