
Keesokan harinya saat Stive El Zeidan terbangun tanpa keberadaan Elghora Dezira disamping nya, membuat dirinya mengacak-acak rambut sembari berpikir bingung sesaat,
"Apa dia merencanakan sesuatu sekarang? "
namun sahutan dari seseorang membuyarkan pikiran nya,
"Jangan berpikir jauh banget deh sayang! ini masih pagi lo, emmuachh, "
sebuah kiss pagi mendarat tepat di bibir Stive yang masih terkejut, mendapatkan sambutan hangat dari sang istri tercinta,
lalu tanpa diduga kedua mata Stive mengarah pada pakaian tipis yang kini sedang menempel pada tubuh indahnya, sehingga nampak lah body menarik sang istri yang membuat nya terbangun di pagi hari,
gerutunya,
"Oh astaga sayang, kau membuat nya terbangun, tanggung jawab dong, emm, yah mau, oke, "
...Tanpa sebuah protesan tiba-tiba sikap extrim sang istri membuat sang empu pria terdorong keras diatas ranjang, rasa perpaduan di antara kedua bibir yang saling berpaut merasakan sensasi liar membikin Stive semakin dirasa panas disana, bagaimana tidak serangan dari gencarnya Elghora membuat tubuh Stive kini berada dibawah wanita cantik tersebut,...
selanya disaat keduanya membutuhkan pasokan nutrisi,
"Kau benar-benar spesial dari yang lain sayang, kau milik ku, dan semuanya hanya kau yang mampu membuat ku mabuk ranjang seperti sekarang ini, "
sambil membelai lembut wajah merona Stive akan tingkah dari semua sentuhannya, Elghora pun menyematkan sebuah kata dengan sebuah bisikan terhangat,
"Dan kau pun tau, bahwa kau lah yang selama ini mengubahnya menjadi seperti sekarang, maka kau pun harus merasakan segalanya karena mu, sayang, "
terjangan lebih dan sangat dalam dilakukan oleh Elghora, bahkan sampai sulit bagi Stive mengimbangi permainan dari mahir nya sang istri tercinta tersebut, kepandaian wanita itu membuat Stive luluh dan hancur sejadi-jadinya dalam genggaman erat Elghora Dezira,
Batin Stive,
"Aku tidak menyangka jika kau mampu membuat ku jatuh dalam jurang terindah mu ini, Elghora Dezira, bahkan aku tak peduli lagi dengan kebodohan orang lain, melainkan hanya kau yang selalu menjadi pusat penglihatan ku saat ini, "
suara khas dari rasa percampuran antara kedua sang pria dan wanita membuat suasana ruang kamar itu berdurasi sangat menarik, sebab Elghora Dezira masih menjadi orang yang mendominasi rencana untuk membuat sang suami merasakan kehebatan luar biasa dari hubungan terdalam mereka,
sedangkan disisi lain,
"Menjauh dari ku Blezen! apa kau akan membuat ku terbunuh hahh? "
perkataan Biyanka justru membuat mata Blezen terbelalak seketika,
"memang salah ku apa sayang? sampai kau mengatakan akan terbunuh begitu, aku begini kan ya karena aku rindu berat pada mu, "
menghela nafas berat,
"Dari mana itu rindu berat bisa nempol ke lo sih? yang ada tiap hari kita ketemu yang namanya rindu kan ya gak ada, masak baru di tinggal ke toilet bentar bisa rindu berat, seperti nya kau butuh diperiksa jika begini terus, "
Blezen pun berbicara kembali,
"Kan ayang pergi ke toilet kan satu jam masak ya gak lama, lama banget itu, "
__ADS_1
Biyanka Barnia justru dibuat geleng-geleng kepala,
"emang sejam ditoilet ngapain aku, ada-ada saja kau ini, lagian juga gak sampai lima menit juga dibilang sejam, apa cinta itu bisa bikin orang jadi gak waras yah? "
masih bergulat bingung dengan perubahan Blezen,
melihat wajah bingung Biyanka tanpa pikir panjang dirinya langsung menggigit telinga kanan nya,
"Aauhh sakit tau, apa sih yang kau lakukan sekarang ini? kalau laper ya ndang makan, masak telinga aku yang jadi bahan pelampiasan sih? "
jawabnya hangat,
"Telinga mu rasa nya sweet sayang, jadi pengen lagi! "
kesalnya,
"Ogah bukan makanan ini telinga, namun pendeteksi pendengaran, dan sejak kapan telinga ada varian rasanya sih? "
tukasnya,
"Sejak ada kamulah sayang, emmuachh, "
sahut nya langsung,
"Lebay nya, hah, punya suami satu aja kek gini modelnya, gimana nanti turunannya yah? "
dumel nya sambil menelusup kan wajahnya ke punggung Biyanka,
menyandarkan kepala tepat dibahu Biyanka Barnia,
jawab nya dengan seringai tajam namun penuh arti,
"Boleh, setelah itu sebulan kedepan kita libur gak main dugem dimalam hari, gimana mau gak?"
sambil meninggal kan Blezen yang keheranan,
bingung nya,
"Ayang lagi tanggal merah kali yah? "
Tiba-tiba Biyanka Barnia kembali sambil memukul kepala nya dengan sendok makan,
"Tokkk, "
Ucapnya,
"Emang semalem yang nerobos lampu merah siapa hah? sampai lupa jika istrinya tanggal hijau, apa kau benar-benar pelupa Blezen? "
asal berbicara,
__ADS_1
"Kan aku jadi seperti ini karena ayang ju_"
belum selesai ngomong tu sendok,
"Tokk, "
mendarat ke hidung Blezen, kemudian pergi meninggalkan wajah melongoh dirinya yang masih menatap lekat Biyanka sang istri ter uhui nya tersebut,
batin Blezen,
"ini hari kenapa sih? gak ngedukung banget, gak tau apa ni tongkat pusaka ku ronta-ronta gak jelas pengen dekat ma pawang nya, eeeee malah ditinggal gitu aja, jadi nya kan ya nyungsep lagi, nasib kali yah, pengen nambah, entar kalau aku nyusul bilang minta nambah, pasti jawaban ada-ada saja, apa sulit sih, tinggal lagi-lagi dan lagi, "
dari kejauhan Biyanka berceloteh,
"Otak mesum pengen nambah lagi berarti pengen istrinya cepet mati kan,la kan katanya lagi-lagi dan lagi eemmm, bener gak sayang manis ku yang tiada duanya, walaupun ada jangan biarkan orang lain merasakan nya, sebab biar aku saja yang bikin perut ku sampai mules gara-gara kelakuan si suami baru yang extrim nya melebihi apapun, "
namun di tempat lain Anggelika Reslium membuat sang kakak dari Stiya menjatuhkan gelas yang berisi minuman yang hendak di tandas nya,
"Stiyaaa, aku kangen peluk dong,"
Stiya menghindar dan berkata,
"ini anak beruang bisa sampai di mari untuk apa coba? "
Manja nya Anggelika sambil bergelantungan di sebelah lengan Stiya,
"Untuk nyantol ke hati mu sayang ku, em, "
sambil menampakkan beberapa gigi miliknya,
akhirnya lolos juga gelas itu dari tangan Stizo,
"mereka itu paling bisa melakukan hal diluar nalar, apalagi adik ku sekarang ketularan sama Anggelika, hahh bisa aja kejadian kali ini, "
sedangkan disaat Zeman Zeridhan datang diruangan tersebut ia pun ikutan berkeluh kesah,
"ini hari musim dingin kali ya, masak ya beruang kutub nyasar kemari? "
mendengar penuturan itu Stizo dibuat frustasi sama keluarga nya sendiri,
Gumamnya,
"Terkadang aku berpikir gimana rasanya berkumpul? giliran udah ketemu eehhh lupa akan situasi, gadis itu seperti model iklan di warung terdekat, "
demi meluapkan kekesalan nya ia pun menyahuti sang paman,
Zeman,
"Iklan di warung, emmm, cocok juga, dari mana paman menemukan ide briliant seperti itu? bahkan aku yang datang melihat saja bisa lupa jika keduanya kini malah berdebat tentang hal yang gak perlu, mungkin paman ingin bergabung dengan mereka? kan bisa dicoba! "
__ADS_1
ucap Stizo El Zeidan,
"gue gak gila sampai harus ngikut gabung bersama mereka, idih risih liatnya, malah kau nyuruh gabung, ogah banget,ini aja minuman ku udah jadi korban, masak yah paman mu ini korban berikutnya, hahh, "