
" Hallo kak, ada apa? Kenapa kau menelfon tengah malam seperti ini."
Suara serak namun terdengar maskulin, menandakan bahwa Gery masih setengah sadar diseberang sana.
" Gery, besok.. rilis pernyataan resmi dariku. Umumkan pada semua media kalau aku memiliki anak. Putra dan putriku tumbuh dengan baik dan sangat hebat." suara lirih Mama Allen terdengar bergetar.
Gery yang mendengarkan melalui benda pipih itu kini langsung tersadar. Dia tau bahwa wanita yang menelfonnya tengah malam ini sedang dalam suasana hati tidak baik.
" Kak, kenapa tiba-tiba?" tanya Gery.
" Aku hanya ingin.. sebelum nama Allen Dawnson benar-benar hancur, setidaknya anak-anakku akan baik-baik saja." jawab Mama Allen tersenyum getir memandangi rembulan diatas sana.
" Baiklah, aku tutup telfonnya. Kau bisa lanjutkan tidurmu, dan besok buat dunia heboh lagi dengan beritaku."
Tut. Tut. Tut.
Mama Allen menutup panggilan dengan sepihak. Ia lalu kembali tercenung, dengan pandangan yang masih terarah pada titik yang sama.
__ADS_1
" Sayang.. "
Tiba-tiba sebuah tangan kekar melingkar dipinggang Mama Allen. Wanita itu sontak terkejut hingga langsung tersadar.
" Kenapa kau belum tidur?" ucap Papa Harvey dengan suara beratnya.
" Aku belum mengantuk." jawab Mama Allen seraya menikmati hembusan nafas hangat suaminya yang menerpa tengkuk.
" Tidurlah, besok kau bisa melanjutkan pikiranmu." seru Papa Harvey yang enggan melepaskan istrinya.
Senyap menyelentik, tak ada jawaban dari Mama Allen namun kedua matanya Ia pejamkan sembari menikmati hangat tubuh suaminya yang mendekap dari belakang.
Sontak Mama Allen membuka kedua matanya, merasa malu mendengar ucapan sang suami. Melepas belitan tangan Papa Harvey— Mama Allen berbalik dan menatap kesal pada suaminya.
" Kenapa jika perutku buncit? Kenapa baru sekarang kau mengomentari tubuhku padahal aku sudah memberimu empat anak." omel Mama Allen mengerucutkan bibirnya.
Omelan beruntut yang diterima Papa Harvey justru membuatnya tergelak. Untuk pertama kali setelah sepuluh tahun berlalu, dia tidak pernah melihat ekspresi istrinya yang seperti sekarang hingga menciptakan kesan bahagia untuknya.
__ADS_1
" Aku bukan mengomentari, Sayang. Aku cuman bertanya, kenapa perutmu sedikit buncit. Apa kau habis makan atau... "
Papa Harvey yang hendak menjelaskan kesalahpahaman yang terjadi, kini seketika diam saat wanitanya itu kembali menyambar omelan baru.
" Sudahlah, aku sudah tau bagaimana dirimu. Ternyata laki-laki sama saja, jika istrinya sudah jelek dia akan ilfeel."
Hahaha..
Tak sanggup lagi menahan, tawa Papa Harvey pecah seketika. "Yah, Sayang.. memangnya kau sudah berapa kali menikah sampai bilang seperti itu. Pacaran saja kau tidak pernah, apa kau lupa kalau kita menikah saat umurmu 15 tahun." cerocos Papa Harvey setelah menghentikan tawanya.
" Ih... Harvey Murray."
Mama Allen menyebutkan nama lengkap suaminya, dan segera berlalu— kembali ketempat tidur.
Melihat wanitanya yang merajut, Papa Harvey mengulum senyumnya. Ia bahagia karena istrinya tidak pernah berubah, sejak saat remaja— istrinya akan selalu menyebutkan nama lengkapnya jika sedang marah.
" Sayang, jangan marah-marah. Nanti kau cepat tua." Papa Harvey menghampiri istrinya dan segera bergabung dalam satu selimut yang sama.
__ADS_1
" Baiklah, Harvey Murray minta maaf." ucap Papa Harvey saat melihat istrinya yang tak bergeming.
Mama Allen tak menyahut dan memilih membungkus dirinya dalam badcover. Sementara Papa Harvey hanya mampu mengggeleng mendapati sikap berlebihan istrinya yang sangat sensitif. Tanpa meminta izin, pria paruh baya itu segera mendekap tubuh sang istri yang dibaluti selimut besar dan tebal. Dirinya tak ingin memperkeruh suasanan hati wanitanya.