Gadis Kecil Milik Tuan Harvey

Gadis Kecil Milik Tuan Harvey
Bab. 85~ SEASON 2


__ADS_3

Hahahaha.


Seketika Beni tergelak mendengar pernyataan Haven. Bagaimana tidak, ungkapan yang baru diterima oleh indera pendengarannya itu sangat bertolak belakang dengan fakta yang ada.


" Hei anak muda, kau itu tidak pernah memuaskan semua masyarakat.. hanya setengah dari mereka. Kau tidak tau apa julukanmu dipengadilan dan diluar pengadilan?" tutur Beni dengan tawa yang tersisa.


" J A K S A M U D A G I L A." tambah Beni mengeja dengan lantang.


Bukk.


Tanpa aba-aba Haven melempar buku kearah Beni. "Kurang ajar, kau itu hanya menggangguku." Haven berdecak kesal.


" Yah, memangnya kau sibuk apa? Paling sidangmu berakhir dengan menerima emosi dari terdakwa atau tersangka." seloroh Beni.


Haven menggeleng, lelah dirinya menghadapi Beni yang bukan hanya rekan kerja melainkan seniornya dikantor kejaksaan.


" Ah, aku lupa.. apa kau ingat saat pertama kali jadi jaksa? Saat itu kau menangani kasus Wijatnika kan? aku mendengar dia punya putri, kira-kira dimana putrinya itu? Pasti putrinya sangat membencimu karena ibunya harus divonis mati karenamu." ujar Beni yang kembali teringat pada sidang pertama Haven— empat bulan lalu.

__ADS_1


Tok. Tok. Tok.


Perbincangan kedua pria gagah itu terjeda saat suara ketukan dari luar sana terdengar keras.


" Masuk." seru Haven.


Tak lama seorang anak magang muncul dibalik pintu. "Pak, ada yang ingin bertemu." ujar wanita itu.


" Baiklah, suruh dia masuk." titah Haven memperbaiki posisi duduknya. Sementara Beni sudah bersiap meninggalkan ruangan temannya, namun langkah kaki tertahan saat hanya kurang dari satu detik setelah kepergian anak magang itu— sosok yang begitu familiar muncul dibalik pintu dengan kacamata hitam yang menutupi separuh wajah cantik siempunya.


Deg.


Sorot mata Mama Allen sangat teduh, dan seakan menyiratkan sesuatu. Pertemuan dengan putra keduanya itu sudah sangat lama dinanti.


" Beni, tolong tinggalkan kami." pinta Haven pada temannya. Segeralah Beni berlaku setelah mendapat titah dari siempunya ruangan.


*****

__ADS_1


" Kenapa Mama kemari?" tanya Haven dengan wajah datar.


" Mama merindukanmu." jawab Mama Allen seraya menatap intens wajah putranya yang sedikit berubah dari lima bulan lalu.


" Aku harus bekerja dulu, aku akan kerumah jika sempat." tutur Haven memalingkan wajahnya.


" Kau sudah menjadi jaksa empat bulan lalu, kan. Lalu kenapa tidak memberitahu Mama atau Papa."


Mama Allen masih dengan posisi yang sama— duduk dikursi seberang meja putranya. Raut wajahnya teduh, ada bahagia dan haru yang tersirat disana.


Drt. Drt. Drt.


Hendak bersuara— menyahuti ucapan Mamanya, Haven mengurung saat tiba-tiba seseorang menghubunginya. Dia lihat layar ponsel mahalnya, Haven sudah tau bahwa si pemanggil tak lain adalah kliennya.


" Aku harus bekerja, klienku membutuhkanku." seru Haven pada Mamanya sembari memperlihatkan layar ponselnya yang menunjukkan panggilan seseorang.


" Baiklah, Mama akan pergi. Besok.. mari bertemu dirumah. Kalau tidak bisa.. Mama yang akan mengunjungimu lagi." tutur Mama Allen dengan lembut.

__ADS_1


" Humm." Haven hanya menjawab seadanya tanpa berniat memperpanjang pembicaraannya. Tak lama wanita dewasa itu beranjak, masih dengan hati yang sebenarnya enggan untuk pergi. Dengan langkah yang terasa berat, Mama Allen mau tak mau keluar dari ruangan Haven saat pria muda itu tak mau menatapnya.


Selang beberapa saat setelah kepergian Mama Allen— Beni langsung menyosor masuk kedalam ruangan Haven. Dia menghampiri pria muda itu yang masih berdiam diri ditempat yang sama.


__ADS_2