Gadis Kecil Milik Tuan Harvey

Gadis Kecil Milik Tuan Harvey
Bab. 48


__ADS_3

" Daddy, Mommy."


Harvey terlihat begitu cemas. Diwajahnya, keringat dingin sudah mengalir karena kekhawatiran pada sang istri.


Daddy Ben dan Mom Ayu keluar dari kamarnya, dan mendapati Harvey yang begitu panik.


" Harvey, apa yang terjadi?" Mom Ayu juga dibuat panik.


" Kenapa Mommy bertanya padaku. Harusnya Aku yang bertanya pada Mommy karena Aku menitip Allen tadi." sentak Harvey dan segera meninggalkan Daddy juga Mommynya.


Mom Ayu terdiam, seumur hidupnya– Harvey baru pertama kali ini menyentaknya dengan suara meninggi.


" sayang, ayo kita kerumah sakit." ajak Mom Ayu pada suaminya yang juga terdiam beberapa saat.


" tidak sayang. Kau terlihat pucat, sebaiknya istirahat saja. Oh ya, jangan memikirkan perkataan Harvey karena mungkin dia tadi hanya panik."


Daddy Ben berusaha menghibur istrinya karena sejujurnya, Ia juga merasa tak terima pada sikap Harvey saat lalu.


" tidak sayang. Menantu kita tidak baik-baik saja dan Aku tidak mungkin dirumah untuk istirahat." Mom Ayu segera berlalu dan Dad Ben segera menyusul sang istri.



__ADS_1


Rumah sakit internasional.


Harvey dengan nafas terengah-engah, membawa masuk istrinya kedalam rumah sakit. Dengan wajah paniknya, Ia menemui perawat di meja resepsionis.


" panggilkan dokter Gio." perintah Harvey dengan begitu panik.


" Tuan Harvey, biarkan kami tangani istri anda." dokter Gio menyahut tiba-tiba.


Melihat kehadiran dokter Gio bersama dua perawat yang membawa brankar, Harvey segera membaringkan Allen diatas brankar.


" Tuan Ben sudah mengonfirmasi sebelumnya, katanya anda akan datang. Tenanglah Tuan, kami akan menangani istri anda dengan baik." tutur dokter Gio dengan sopan dan segera berlalu dengan perawat yang mendorong brankar menuju ruang IGD.


Harvey masih tampak syok, Ia bahkan tak banyak bicara dan hanya duduk didepan ruang IGD, dengan perasaan ketir.


Bunyi ponsel membuat Harvey tersadar dari lamunannya. Ia dengan segera menjawab panggilan ponselnya tanpa, melihat nama si pemanggil.


" Tuan...,"


Terdengar suara Farel, sang asisten yang hendak mengatakan sesuatu namun, Harvey dengan segera memotong ucapan asistennya.


" Aku tidak ke kantor jadi, handel semuanya."


Harvey tak banyak bicara dan segera memutus panggilan telfonnya. Perasaannya masih kalut dan tak karuan. Berbagai pikiran buruk sudah berputar diatas kepalanya.

__ADS_1


Menyembunyikan wajahnya dibalik kedua telapak tangan, Harvey tak sadar akan kehadiran Daddy dan Mommynya.


" nak, tenanglah. Allen pasti akan baik-baik saja." ucap Mom Ayu dengan lembut, berusaha membuat putra sulungnya tenang.


Harvey tak bergeming, Ia masih betah pada diamnya.


" Mommy juga sudah memberitahu pada Krystal dan kebetulan adikmu disini untuk check up. Sebentar lagi dia pasti datang."


Mom Ayu masih berusaha menghibur putranya walau putranya itu tak bergeming sama sekali.


" sayang, sudahlah. Kita pulang saja, sepertinya kau kurang sehat." Dad Ben sejak tadi sangat khawatir pada istrinya yang terlihat pucat.


Namun, alih-alih mendengarkan ucapan suaminya, Mom Ayu masih bersikeras menemani putranya.


Sedangkan Harvey, Ia kini berdiri dan hendak pergi namun, suara lembut Mom Ayu menahannya.


" Harvey..."


ucapan Mom Ayu menggantung saat Harvey menatap kesal padanya.


" Mom, bisa tidak berhenti bicara. Dari tadi kau hanya bicara terus. Istriku sedang sekarat tapi, kau malah berbicara terus."


Harvey berbicara dengan suara meninggi, membuat Mom Ayu terkesiap. Sedangkan, Dad Ben, wajahnya seketika memerah. Amarah tiba-tiba muncul di dada dan siap untuk meluap.

__ADS_1


Plakk.


__ADS_2