Gadis Kecil Milik Tuan Harvey

Gadis Kecil Milik Tuan Harvey
Bab. 111~ SEASON 2


__ADS_3

Kantor Kejaksaan Tinggi.


Tok. Tok. Tok.


Suara ketukan pintu dari luar ruangan sang pimpinan. Tak lama seseorang muncul, dia adalah Haven yang tampak rapi dengan setelan jasnya.


Entah apa yang membawa pria muda itu sehingga dengan luang menemui pimpinannya, padahal diseluruh gedung kejaksaan itu, dirinya sudah sangat terkenal bahwa sosok Haven adalah jaksa paling sibuk.


Memasang tampang biasa saja, wajahnya tanpa ekspresi dan juga tak banyak bicara.


" Ini.. " Haven menaruh sebuah amplop diatas meja pimpinannya.


Kepala Pimpinan tentu kebingungan, namun segera ia meraih amplop itu. Tapi belum sempat dirinya mengetahui apa isi amplop itu, Haven kembali bersuara.


" Itu adalah bukti bahwa Allen Dawnson tidak bersalah. Dia bukan pelaku pembunuhan mendiang Fresya, tapi... " Haven menjeda dan terlihat ragu menyampaikan kalimat selanjutnya.


" Aku berikan itu padamu, agar Allen kalah dalam persidangan." tambah Haven.


Kepala Pimpinan sontak tertegun. Ia tidak menyangka bahwa pria muda didepannya sungguh membuktikan ucapannya beberapa bulan lalu.


Tersenyum getir, Kepala Pimpinan menaruh kembali amplop itu diatas meja. Ia lalu mengamati Haven yang hari ini terlihat jauh berbeda.

__ADS_1


" Jadi kau... kau akan membuat Ibumu sendiri kalah?" Kepala Pimpinan memastikan sekali lagi karena sejujurnya ia masih belum percaya pada Haven.


" Humm. Bukankah.. surat itu juga tidak akan memengaruhi apapun? Bukankah.. kalian sudah memantapkan rencana untuk menjatuhkan Allen?"


Ucapan Haven membuat Kepala Pimpinan sedikit keliru. Pria paruh baya itu menautkan kedua alisnya, tetapi sedetik kemudian senyumnya tertampil.


Melirik pada jam dipergelangan tangannya, Kepala Pimpinan kembali menatap pada Haven dengan tatapan penuh arti.


" Masih ada waktu satu jam.. kau bisa mempertimbangkan lagi keputusanmu. Sejujurnya, aku kasihan kepada Ibumu. Bagaimanapun juga, aku pernah mencintainya. Jadi cobalah pikirkan, apakah seorang anak akan setega ini kepada Ibunya?"


Mendengar penuturan pria paruh baya itu, Haven menghela nafas kasar. Raut wajahnya yang tadi tampak biasa, kini seketika berubah seolah ada kemarahan dimanik matanya.


Brak.


Ucapan sang Kepala Pimpinan tertahan saat tiba-tiba Haven menggebrak mejanya dengan keras. Ia seketika merasa takut apalagi saat Haven melempar tatapan tajam padanya.


" Apa kau plin-plan?" ucap Haven mendelik pada pria didepannya.


" Kau menyuruhku mengalahkan wanita itu dipersidangan. Kau mengingatkan aku pada janji bodohku. Dan sekarang.. kau menyuruhku memikirkan ulang hanya karena hatimu pernah singgah pada wanita itu? Dengarkan aku.. jika kau mau melihat diriku yang sebenarnya, seberapa gila aku.. maka tunggulah saat persidangan dimulai."


Serentetan kata dilontarkan Haven dengan suara meninggi. Setiap kata ditekankan dengan jelas.

__ADS_1


Mengontrol kembali dirinya, ia lalu memperbaiki gestur tubuhnya. Kembali tegap dengan wibawa dan memperbaiki letak dasinya yang seakan mencekik lehernya.


Tanpa berucap lagi, ia segera keluar dari ruangan sang Kepala Pimpinan dengan langkah gontai.




Big Gold Apartemen.


Halbert saat ini tengah berada didalam kamarnya. Berdiri didepan cermin besar, dia sedang merapikan setelannya. Setelah merasa tampilannya rapi, ia segera keluar dari kamar. Tujuan pertamanya adalah menemui pria asing yang disekapnya dikamar kosong.


Ceklek.


Membuka pintu kamar dan menyalakan lampu, Halbert lalu menghampiri pria itu yang terduduk dilantai seraya menyembunyikan wajah pada kedua lutut.


" Hei, bangunlah."


Halbert menendang sepatu pria itu. Melihat pria itu tak bergeming, kembali Halbert melakukan hal yang sama.


Bukan tanpa sebab dirinya berbuat kasar, karena setiap melihat pria didepannya, amarah selalu menyeruak didada. Mengingat bahwa Mamanya saat ini berada dalam masalah karena pria itu.

__ADS_1


__ADS_2