
Tak ingin membuat kedua putranya semakin larut dalam perkelahian yang tak berujung, Papa Harvey segera membawa Halbert pergi dan kedua putrinya juga mengikut. Tinggal Haven seorang diri.
Pria muda itu luruh kelantai, dan terlihat sangat frustasi. Hingga tak lama Mama Allen mendekat dan mengulurkan tangan.
" Kau akan duduk disini terus? Bagaimana jika ada yang melihatmu?"
Suara lembut itu membuat Haven mendongak. Tanpa menerima uluran tangan Mamanya, Haven bangkit seorang diri seraya menahan perih disudut bibirnya.
" Apa kau begitu membenci Mama, sampai sangat sulit untuk membela Mama disidang pertama?" wajah Mama Allen berlinang air mata. Dia lalu mengusap sudut bibir putranya yang terluka karena pukulan putra sulungnya.
" Kau tau.. Mama menyesal karena menjadi artis. Mama menyesal karena menjadi seorang bintang terkenal sampai Mama tidak bisa memperkenalkan pada semua orang kalau.. Mama punya putra yang hebat.. putri yang cantik."
Hiks. Hiks. Hiks.
__ADS_1
Tak sanggup lagi menahan isak tangisnya, Mama Allen menenggelamkan wajahnya pada dada bidang putranya. Dia menangis tersedu-sedu, merasa semua yang dilalui beberapa hari ini sangat menyiksanya.
" Apa kau tau.. saat kakakmu diculik.. Mama tidak bisa melakukan apapun. Disaat anak berusia enam tahun hidup bersama kedua orang tuanya dengan penuh cinta, kakakmu justru harus menderita diluar sana. Mama sangat merasa bersalah, dan Mama harus dirawat dirumah sakit jiwa. Saat itu.. Mama selalu ditenangkan dengan suntikan dari dokter, tapi sama sekali tidak terasa sakit. Yang paling menyakitkan itu.. saat melihat kalian dalam bahaya." serentetan kata dilontarkan Mama Allen dengan suara bergetar.
Haven yang mendengarnya berusaha menahan tangis juga. Sejujurnya dia tidak ingin semua ini terjadi, tapi posisinya membuat semua menjadi sulit.
Perlahan Haven mengelus punggung Mamanya yang bergetar.
" Mama akan memberitahu semua orang.. kalau Mama punya anak. Mereka tidak akan mengusik kalian lagi." ucap Mama Allen. Ia lalu mengurai jarak dari putranya, mengusap air mata yang membasahi kedua pipinya.
•
•
__ADS_1
Kediaman Murray.
Waktu terasa berlalu dengan cepat hingga kini malam sudah tiba. Disaat semua orang sudah terlelap nyenyak, Mama Allen justru saat ini tengah terjaga. Wanita dengan empat anak itu sedang memikirkan putusan sidang senin depan— yang berarti akan dilakukan tiga hari mendatang.
Bersandar pada headboar seraya memeluk kedua lututnya, tak terasa air mata kembali luruh. Ingatan tentang Haven yang begitu tegas dalam persidangan tadi membuat dirinya seketika merasa takut.
Dia lalu menoleh, menatap suaminya yang tertidur dengan nyenyak. Kerutan halus yang menghiasi wajah tampan sang suami membuat senyumnya seketika merekah.
Cup.
Mama Allen melabuhkan kecupan ringan dikening suaminya. Kesedihan tiba-tiba mengoyak-oyak hatinya— merasa kasihan kepada suaminya jika nanti putusan sidang harus membuatnya ditahan dalam penjara seumur hidup atau bahkan lebih buruk dari itu.
Lama menatap sendu kepada suaminya— Mama Allen lalu meraih ponselnya diatas nakas. Dia segera beranjak dari tempat tidur dan mendekat pada jendela kaca besar dikamarnya.
__ADS_1
Menyibak tirai putih dijendela, Mama Allen menikmati suasana tenang dimalam hari. Pandangannya terarah pada rembulan malam yang memantul pada kaca hingga menyinari wajah naturalnya yang tak dipoles makeup.
Setelah berfikir sejenak, menimbang-nimbang tentang keputusannya, akhirnya Mama Allen menelfon Gery. Tak peduli malam sudah sangat larut, karena Mama Allen hanya tidak ingin jika dirinya berubah fikiran lagi.