Gadis Kecil Milik Tuan Harvey

Gadis Kecil Milik Tuan Harvey
Bab. 52


__ADS_3

" bayi." suara Allen masih terdengar lemah, mencari keberadaan sang bayi saat menyadari perutnya yang sudah rata.


" bayi kita diurus perawat. Saat kita pulang, dia juga akan pulang." seru Harvey— berusaha menutupi rasa sedihnya saat kembali teringat pada mendiang Mommy nya.


" Mommy, aku memimpikannya."


Deg.


Ucapan Allen yang tiba-tiba, sontak saja membuat Harvey terdiam dengan tatapan yang masih mengarah pada wajah pucat Allen.


" Mommy....," suara Harvey tercekat, lidahnya terasa kelu saat Allen menatap dalam manik matanya.


Memegang erat tangan lemah istrinya, Harvey membelai wajah cantik wanitanya.


" sayang, Mommy istirahat." ucap Harvey setelah terdiam cukup lama. Tak lupa Ia mengukir senyum tipisnya.


Ucapan Harvey, seolah membuat hati Allen bergetar. Namun sedetik kemudian, Allen tersenyum membuat Harvey mengernyit bingung.


" aku ingin kerumah Mommy." pinta Allen.


Harvey terdiam sesaat— mencari alasan untuk tidak membuat istrinya tak curiga.

__ADS_1


" Iya. Kita akan ke mansion setelah kau sembuh total." Harvey tersenyum kecil.


" tidak, aku ingin sekarang." Allen bersikeras hingga membuat suaminya mau tak mau mengikuti keinginannya.


****


Dengan tubuh yang belum pulih sepenuhnya, Allen tetap meninggalkan rumah sakit dengan bayinya yang berada digendongan sang suami. Sementara mobil dikemudikan oleh sopir pribadi.


Sepanjang perjalanan, Allen terus terdiam. Pandangannya menatap pada jalanan yang dilalui, namun pikiran gadis muda itu kosong.


Tak lama mereka sudah tiba dikediaman Murray. Allen segera keluar dari mobil— meninggalkan suaminya. Ia kini melangkah perlahan memasuki mansion, sedangkan Harvey— Ia hanya mengekor dibelakang istrinya.


" sayang, disini bukan kamar kita. Daddy dan Mommy punya kamar ini, dan pasti mereka istirahat." sergah Harvey mulai merasa tak enak.


Allen tak mendengarkan suaminya, dan terus melangkah hingga berada didalam kamar utama. Mengedarkan pandangannya, Allen langsung terduduk dilantai.


" kamu bohong. Mommy sudah pergikan? Dia istirahat selamanya kan?" Allen meneteskan air matanya.


" kau mengetahuinya?" tanya Harvey datar sembari menimang bayi kecilnya.


" kamu pikir aku bodoh? Ucapanmu dirumah sakit itu sudah cukup membuat aku yakin kalau kamu menyembunyikan sesuatu." Allen terisak pilu.

__ADS_1


Ya, sebenarnya Allen memang mengetahui kondisi Mom Ayu. Sebab, saat dirinya dioperasi Ia mengalami accidental awareness— dimana separuh organ tubuhnya dapat merespon apa yang terjadi didalam ruang operasi.


Saat itu pun samar-samar dirinya bisa mendengar kebisingan perawat yang menemani dokter bedah saat itu. Allen dapat mendengar salah satu perawat berlarian— mengatakan bahwa jantung Nyonya Murray sudah berhenti.


****


Tak lama siempunya kamar datang. Daddy Ben yang mendapati anak dan menantu dikamarnya, terdiam sesaat. Pandangannya beralih pada bayi mungil dalam gendongan putranya.


" dia cucuku." seru Daddy Ben. Raut wajahnya masih kontras dengan suasana hatinya yang masih berduka.


Daddy Ben berlalu, menuju meja rias mendiang istrinya. Ia lalu membuka laci itu dan mengambil kain hasil rajutan sang istri tercinta.


Mendekati kembali anak dan menantunya, Daddy Ben memberikan kain rajut itu pada Allen.


" Mommy merajut itu sendiri. Nama yang dirajutnya adalah nama yang ingin diberikan untuk cucu kecilnya." ucap Daddy Ben lemah.


Allen kembali terisak saat melihat kain rajutan itu, dimana sebuah nama bayi laki-laki tercantum jelas disana.


Sementara Daddy Ben, Ia kini mengambil alih bayi kecil dalam gendongan putranya. Ia lalu menghadiahkan kecupan dikening dan kedua pipi cucu kecilnya. Sedangkan Harvey, pria dewasa itu kini merengkuh tubuh kecil istrinya yang bergetar— imbas tangisnya yang semakin dalam.


...~TAMAT~...

__ADS_1


__ADS_2