
Kediaman Murray.
Pria paruh baya yang tak lain adalah Papa Harvey— tengah berada didalam ruang kerjanya. Ia tengah duduk dikursi kerja dengan jari telunjuk yang mengetuk-ngetuk meja kaca didepannya. Terlihat sekali bahwa Ia merasa khawatir akan suatu hal.
Hingga tak lama pintu terbuka dan menampilkan seorang pria dewasa yang bertubuh kekar. Pakaian yang dikenakan serba hitam, membuat pria itu terlihat sangat berkarisma.
" Bagaimana, apa kau mendapat sesuatu?"
Dibalik rasa cemas yang mendera, Papa Harvey langsung mengajukan tanya kepada pria didepannya yang merupakan orang kepercayaan keluarga Murray.
" Iya, Tuan. Salinan rekaman cctv, ada disini." ucap pria itu meletakkan flashdisk diatas meja.
Papa Harvey segera mengambilnya dengan senyum penuh kemenangan.
Ya— meski Papa Harvey kalah dalam persidangan pertama, namun Ia tidak ingin dikalahkan lagi dalam persidangan terakhir yang akan dilakukan dua hari mendatang. Dirinya tidak ingin jika sang istri harus mendekam dipenjara seumur hidup, itu sebabnya Papa Harvey menurunkan titah kepada orang kepercayaan Daddy Ben untuk mencari bukti apapun yang akan membebaskan Mama Allen disidang putusan.
Ceklek.
__ADS_1
Tiba-tiba dari luar sana pintu dibuka begitu saja oleh seorang pria yang tak lain adalah Halbert.
Pria muda berkemeja hitam itu mengernyit saat masuk kedalam ruang kerja Papanya dan mendapati pria asing yang sebelumnya tak pernah Ia lihat.
" Siapa dia?" tanya Halbert beralih pada Papanya.
" Dia orang kita." jawab Papa Harvey. Ia memberi kode pada pesuruhnya agar meninggalkan ruangan dengan cepat. Sedangkan Halbert terus mengamati pria asing itu hingga menghilang dibalik pintu.
" Apa Papa menyuruhnya mencari bukti?" tanya Halbert.
Papa Harvey mengangguk dan tersenyum tipis.
" Halbert, lalu apakah kita harus diam saja melihat apa yang terjadi dipersidangan? Lihatlah, bahkan Chelsea saat ini harus dirawat dirumah sakit. Kau tau kenapa? Karena ada seseorang yang menginginkan Mamamu kalah." tegas Papa Harvey.
" Apa kau berharap dari Chelsea kalau dia akan memenangkan persidangan itu?" Papa Harvey mendelik pada putranya.
" Papa tidak percaya. Itulah kenapa Papa harus bertindak sendiri untuk menyelamatkan Mamamu." tambah Papa Harvey yang kemudian bersandar pada kursi kebesarannya.
__ADS_1
Halbert menghela nafas, tak bisa membantah ucapan Papanya karena yang didengarnya memang benar.
" Simpan saja bukti itu, Pa. Jadikan sebagai cadangan karena aku punya bukti juga." seru Halbert.
" Bukti apa?" kening Papa Harvey mengerut.
" Pelaku pembunuhan Fresya, dia ada diapartemenku."
Pernyataan Halbert sukses membuat Papa Harvey termangu. Ia lalu memperbaiki posisi duduknya dan menatap intens pada putra sulungnya.
" Bagaimana kau menemukannya?" tanya Papa Harvey.
" Wanita yang menyelamatkan aku dibandara waktu itu.. dia yang membawa pelakunya ke apartemenku. Sekarang pelaku itu disekap dikamar kosong." jelas Halbert.
" Benarkah? Siapa pelakunya dan apa motif dia membunuh Fresya? Apakah dia juga sengaja menjebak Mamamu?" Papa Harvey merasa sangat penasaran.
" Dia kekasih gelap Fresya, dan dia tidak bermaksud untuk menjebak Mama. Hanya saja Mama yang datang diwaktu tidak tepat." jawab Halbert seadanya.
__ADS_1
" Baiklah, aku harus pulang. Sebaiknya Papa simpan dulu bukti itu. Kita bisa ajukan bukti itu jika terjadi sesuatu dipersidangan." lanjut Halbert segera meninggalkan ruang kerja Papanya.