Gadis Kecil Milik Tuan Harvey

Gadis Kecil Milik Tuan Harvey
Bab. 95~ SEASON 2


__ADS_3

" Aku melihatnya dari tadi berdiri diluar, tapi ku kira dia hanya tetangga korban yang penasaran." jawabnya dengan polos.


" Apa, sial." Haven semakin kesal karena menyadari bahwa dirinya telah lengah beberapa menit lalu.




Kediaman Murray.


Tampak Gery saat ini tengah berjalan gontai memasuki rumah. Dia langsung menuju ruang keluarga saat kepala pelayan memberitahunya bahwa semua berkumpul disana.


Tok. Tok. Tok.


Mengetuk sebelum masuk, Gery membuka pintu tanpa menunggu sahutan dari dalam.


" Gery, ada apa?" tanya Mama Allen.


" Kak, baru-baru aku mendapat telfon dari media besar. Katanya dia mendukung kakak, tapi kak Allen harus memberi pernyataan tentang kematian Fresya dan foto yang diunggah Fresya juga." jelas Gery panjang lebar.


Mama Allen terdiam, memikirkan tentang kedua masalah itu.


" Kak Gery, kenapa kau bisa masuk?" sahut Alexa karena setahunya didepan gerbang dipenuhi oleh wartawan.

__ADS_1


" Kenapa?" Gery mengajukan tanya balik pada gadis cantik itu.


" Bukankah didepan banyak wartawan." tambah Ainsley.


" Ah, mereka sudah pergi. Didepan sangat sepi."


Ucapan Gery langsung memancing semua pasang mata hingga menatap kearahnya.


" Haha, maaf.. aku tadi menyuruhnya pergi." Chelsea menengahi saat merasa semua orang kebingungan.


" Benarkah? Bagaimana caramu mengusir mereka? Bahkan Halbert saja tidak bisa membuat mereka pergi." sahut Papa Harvey.


" Hanya membacakan beberapa pasal dan dan mereka langsung pergi. Lagipula, aku harus mengutamakan kenyamanan klienku." jawab Chelsea dengan senyum yang senantiasa menghiasi wajahnya.


" Wah, pengacara keluarga kita hebat. Hari pertama saja sudah memuaskan kliennya." celetuk Gery.


Mama Allen tak memberi jawaban, dan hanya memperlihatkan senyumannya. Alexa pun mengerti dan tak bertanya lebih banyak lagi.




Hari Persidangan Pertama.

__ADS_1


Disebuah ruang, tampak Haven yang kini bersiap-siap untuk pergi ke persidangan. Jubah jaksa membalut sempurna dirinya hingga menambah kesan berwibawanya.


Ia saat ini tengah ditemani gadis cantiknya. Karena semangat Haven selama tiga bulan terakhir hanya bersumber dari gadis cantiknya.


Brak.


Tiba-tiba dari arah luar, pintu dibuka begitu saja dengan kasar. Sontak keduanya menoleh saat muncul sosok Halbert.


" Kau tidak bisa mengetuk apa?" Haven mendelik kesal pada Halbert.


Halbert tak menanggapi perkataan adiknya dan memilih duduk dikursi meski tidak dipersilahkan. Ia juga mengamati seksama wanita disamping adiknya yang terus melengket tanpa jarak. Sebenarnya Halbert ingin tau siapa gadis itu, namun situasi sekarang tidak memungkinkannya untuk bertanya.


" Haven, dengarkan aku ya. Mundur dari kasus ini. Kau tau siapa yang kau lawan? Dia adalah Mama, wanita yang melahirkan kita."


Halbert berbicara dengan serius, terlihat dari wajahnya bahwa Ia tengah menahan amarah.



" Sebenarnya kau siapa? Mama? Kau sebut Mamaku sebagai Mamamu juga? Memangnya Mamaku sudah memberi pernyataan ke publik bahwa kau adalah anaknya?" Haven mengalihkan topik membuat Halbert menghela nafas kasar.


Berdiri dari duduknya, Halbert mendadak mendekati adiknya dan menarik kerah kemeja pria muda itu.


" Kau tau.. perjuangan Mama untuk membuat kita aman? Dia bahkan pernah dirawat dirumah sakit jiwa, karena menyayangi kita dan takut kehilangan kita." tutur Halbert dengan tatapan tajamnya.

__ADS_1


" Kak, lepaskan suamiku."


Ditengah perdebatan antar suadara itu, tiba-tiba gadis cantik yang sejak tadi diam mengamati ikut bersuara. Suaranya begitu lembut hingga seolah menjadi candu bagi siapapun yang mendengarnya.


__ADS_2