
" Harvey, pagi tadi kau pasti minta jatah tapi tidak diberi makanya wajahmu masam" goda Harley pada kakaknya.
Harvey yang ingin keruangannya kini menghentikan langkah dan berbalik menatap tajam pada adiknya yang mulai mengoceh tak karuan.
" berhenti dan urus saja kekasih mu itu. Kau salah pilih pasangan untuk dinikahi." ucap Harvey dengan ketus dan segera berlalu meninggalkan Harley yang kebingungan.
****
Satu jam sudah Harvey berada dalam ruangannya, bergelut dengan tumpukan berkas. Ia sudah tak sabar untuk pulang karena hari ini, sebelum pulang ke apartemen Ia ingin berkunjung ke mansion Murray sebab ingin berbicara pada Daddy nya.
Drt.. Drt.. Drt..
Bunyi ponsel yang berdering membuat Harvey seketika menoleh pada benda pipi persegi panjang yang tergeletak di atas meja kerjanya. Ia dengan sigap menjawab panggilan itu saat melihat siapa nama si pemanggil.
" hallo sayang, kenapa kau baru ada kabar." ucap Harvey dengen senyum mengembang di wajah tampannya.
" aku ada kerjaan darling." jawab Rose diseberang sana.
" aku ada di apartemen mu tapi kenapa bantal yang kau bicarakan tidak ada di sofa?" tanya Rose .
Harvey yang mendapat pertanyaan dadakan kini terdiam sesaat.
__ADS_1
" aku laundry sayang, karena tadi pagi tidak sengaja tertumpah kopi." jawab Harvey asal. Ia tidak ingin mengatakan bahwa semua karena ulah Allen sebab, Ia tidak ingin jika kedua wanitanya malah bertengkar hebat.
Tut.. Tut.. Tut.
Sambungan telfon terputus dari seberang sana hingga membuat Harvey bingung. Ia menelfon kembali namun justru ditolak.
Saat hendak menelfon lagi tiba-tiba saja Aldi sang asisten datang mengetuk pintu ruangannya.
" Tuan, presdir berpesan. Ada meeting mendadak sekarang." ucap Aldi saat sudah dipersilahkan masuk oleh si empunya ruang kerja.
Harvey pun mengangguk dan segera beranjak dari kursi kerjanya menyusul Aldi yang sudah lebih dulu berjalan.
" kenapa kau sudah ada disini?" tanya Allen dengan santai.
" aku ingin menemui kekasihku." jawab Rose ketus.
" oh."
Allen hanya berohoria tanpa banyak bertanya lagi. gadis remaja itu segera menuju kamarnya tanpa sedikitpun menaruh kecemburuan pada kekasih suaminya. Ia merasa bahwa dunianya tak pernah ada beban bahkan dirinya juga tak mempermasalahkan kunjungan Rose yang terbilang lancang.
Tiga puluh menit Allen sudah muncul dibalik pintu kamarnya. Dengan casual santai khas remaja, Ia berjalan dengan tas menggantung dipundak.
__ADS_1
Tak memperdulikan Rose yang masih berada di tempat semula. Rose yang melihat tingkah cuek istri kekasihnya sungguh heran, karena gadis kecil itu sangat tenang tanpa merasa risih sama sekali.
****
Bersama managernya dalam mobil yang sedang melaju, Allen hanya diam. Tak memegang ponselnya seharian dan tak juga melakukan apa-apa, hanya pergi bersekolah dan berganti pakaian lalu segera pergi syuting lagi.
Valery yang melihat sikap Nona nya kini menjadi bingung. Memberanikan diri, Valery bertanya pada Nona nya.
" ehemmm, Nona ada masalah?" tanya Valery merasa bingung dengan sikap Nona nya yang lebih banyak murung.
" tidak."
Allen menjawab dengan singkat sembari menatap kosong kedepan. Entah apa yang dirasakan Allen, namun Ia merasa tidak enak hati melihat Rose berada dalam apartemen suaminya.
" Valery, apa aku bercerai saja yah?" tanya Allen tiba-tiba. Perasaannya saat ini sedang kocar-kacir tak karuan.
▪︎
▪︎
Bersambung....
__ADS_1