
Kening mengerut, Mama Allen mengernyit bingung saat melihat pintu apartemen Fresya tak tertutup rapat.
" Fresya, keluarlah. Aku tau kau didalam, keluarlah. Aku ingin bicara." seru Mama Allen setengah berteriak.
Hening.
Tak terdengar suara apapun dari dalam hunian itu, membuat Mama Allen sedikit khawatir. Dengan memberanikan diri, dia perlahan menyentuh permukaan pintu besi metallik itu dan mendorongnya dengan pelan.
Gelap, itulah yang pertama kali Mama Allen dapati saat pintu sudah terbuka lebar. Tak nampak pula siempunya apartemen dan hanya bau amis dari arah ruang tamu yang merebak keseluruh ruangan.
Mama Allen meraba dinding, mencari sakelar lampu. Dan tak lama pencariannya berakhir saat sakelar itu Ia temukan didekat keramik kaca yang terpajang dengan sempurna.
Sepersekian detik kemudian, setelah Mama Allen menghidupkan lampu ruangan kini dirinya seketika membeku ditempat. Degup jantung langsung memompa dengan cepat, serta tak lama lapisan kristal tercipta dimanik matanya.
Terduduk dilantai tak berdaya— rasa takut seketika menyerang Mama Allen. Bagaimana tidak, dirinya yang hendak menyelesaikan masalah dengan Fresya justru mendapati sesuatu yang sangat buruk dan mungkin tidak seharusnya Ia lihat.
Darah kental nan segar, mengalir satu arus dilantai. Lantai marmer mengkilap itu kini dipenuhi oleh darah Fresya. Sementara siumpunya apartemen kini terkapar dilantai dengan lumuran darah yang hampir memenuhi seluruh tubuh.
__ADS_1
" F... Fresya.. " terbata-bata menyerukan nama wanita cantik yang tak bernyawa itu, gelombang suara Mama Allen terdengar bergetar.
Tercenung menyaksikan kematian seseorang didepannya, tak lama Mama Allen tersadar. Dia lalu buru-buru meraih ponselnya yang teronggok dilantai dan menghubungi bantuan medis. Dengan tangan yang bergetar, jemari Mama Allen berselancar dilayar ponsel tapi pikirannya mendadak kacau tak karuan serta rasa takut masih menghuni relung hatinya.
•
•
Time Skip- 30 menit kemudian.
Melakukan penerbangan lebih cepat dari yang sudah direncanakan— Papa Harvey kini tengah berkemas untuk pergi ke Amerika. Dia hanya membawa beberapa pakaian dengan koper mini yang sudah terisi.
Sembari menunggu kepulangan istrinya yang pagi tadi berpamitan untuk sebuah urusan, Papa Harvey kini melanjutkan dulu pekerjaannya dilaptop.
Pria paruh baya itu terlihat sangat fokus hingga tak menyadari panggilan yang masuk diponselnya— terlebih lagi benda pipih itu dalam mode silent.
Tok. Tok. Tok.
__ADS_1
Ketukan pintu dari luar baru menyadarkan Papa Harvey. Dia segera menyahut dan memberi titah agar orang diluar sana segera masuk.
" Tuan, Nyonya.. " dengan nafas terengah-engah, Tika hendak menyampaikan sesuatu pada tuannya.
" Kenapa?" wajah Papa Harvey langsung berubah serius. Mengamati kepala pelayannya yang terlihat sangat syok.
" Nyonya ditahan dikantor polisi." ujar Tika melanjutkan ucapannya.
" Apa.. " sontak Papa Harvey terkejut. Dia lalu segera mengecek media sosial di ipadnya karena pasti setiap istrinya bermasalah maka publik yang akan pertama kali berbicara. Dan benar saja, semua media menunjukkan berita Mama Allen yang ditahan dikantor polisi karena menjadi tersangka pembunuhan atas kematian aktris Fresya.
Buru-buru meraih ponselnya dan beranjak, Papa Harvey meninggalkan kamarnya tanpa berbicara sepatah kata pada kepala pelayannya. Langkahnya lebar, sudah tak sabar menemui wanitanya yang pasti sangat ketakutan.
*****
Mengemudikan sendiri mobilnya— kini Papa Harvey tengah berada diperjalanan menuju kantor polisi. Sembari mengemudi, dia juga menghubungi putra sulungnya dengan earphone ditelinga.
" Halbert, cepat hubungi pengacara pribadi kita." Papa Harvey memberi titah kepada putranya saat panggilan sudah terhubung.
__ADS_1