
" Kenapa tidak ikut program keluarga berencana, Sayang. Supaya aku bisa menghiburmu setiap malam." ledek Harvey setelah menghentikan tawanya.
" Aku tidak mau." jawab Allen ketus.
Harvey yang mendengar jawaban istrinya menyunggingkan senyum tipis. Ia juga merasa heran pada istrinya yang sejak dulu tidak ingin mengikuti program keluarga berencana. Dan jika ditanya, istrinya itu justru berkata tidak punya alasan.
Hingga mau tau mau Harvey dan Allen hanya melakukan kontak fisik sesekali saja, saat Allen melewati masa suburnya karena tidak ingin mengalami kembali masa kehamilan.
Melihat sang istri yang mulai kesal, Harvey pun berhenti menggoda istrinya.
" Sayang, aku bermimpi kau ditahan dikantor polisi." ujar Harvey kemudian.
Allen terdiam— mengamati wajah suaminya.
" Mungkin Haven akan sukses menjadi jaksa." sahut Allen tersenyum manis.
" Aku justru tidak mau dia sukses, Sayang. Aku ingin dia menjadi penerusku. Kau tau.. aku benar - benar pusing.. anak itu selalu melawanku. Aku ingin tau, siapa yang memaksanya jadi jaksa." gerutu Harvey mengingat putra keduanya.
__ADS_1
" Sayang, kau tidak boleh begitu." bibir mungil Mama Allen mengerucut setelah mendengar penuturan suaminya.
" Seratus persen anak - anak akan sukses jika orang tua mendoakan. Jadi kumohon doakan putraku, siapa tau dia yang akan menyelamatkan aku nanti." tambahnya yang mulai merasa kesal pada Harvey.
" Sayang, aku bercanda. Baiklah, maafkan aku. Aku janji akan mendukung putra kita agar dia bisa sampai pada tujuannya." bujuk Harvey dengan lembut— berusaha menenangkan hati istrinya.
Perbincangan kedua pasang suami-istri itu usai sudah saat Mama Allen segera beranjak dan masuk kedalam bathroom. Sementara Papa Harvey kembali melanjutkan kegiatannya— membaca majalah.
***
Keesokan paginya— keluarga kecil Harvey kini tengah menikmati sarapan pagi. Papa Harvey, Mama Allen, Ainsley, dan Alexa— menyantap sarapan dengan tenang. Hanya dentuman sendok dan garpu yang menjadi pengiring kegiatan sarapan mereka dipagi hari.
Mama Allen langsung menghentikan kegiatan makannya, lalu beralih menatap putri bungsunya.
" Kau akan pergi, nak?" tanya Mama Allen.
" Humm." jawab Ainsley seadanya.
__ADS_1
Tak lama Ia beranjak dengan raut wajah yang datar.
" Sebaiknya Papa dan Mama cepat cari koki baru, karena Tika tidak handal dalam meracik bumbu." ucap Ainsley hendak meninggalkan ruang makan.
" Ainsley, apa yang salah?" sahut Papa Harvey— merasa penasaran pada penilaian putrinya karena Ia sendiri merasa masakan Tika sudah enak.
" Penyedap rasa pada soupnya kurang 15 gram. Harusnya dia menakar dengan baik bumbu penyedapnya sebanyak 190 gram." terang Ainsley lalu segera menjauh dari meja makan.
Papa Harvey dan Mama Allen yang mendengar ucapan putrinya, seketika terdiam dan saling melempar tatap. Sementara Alexa, Ia hanya mampu menatap jengah pada Kakaknya yang perlahan menghilang dibalik pintu.
" Wah, aku lahir dari rahim yang sama, kenapa aku tidak bisa sepintar dia." celetuk Alexa.
Sepeninggalan sang Kakak, tak lama Alexa turut menyelesaikan sarapan paginya dan segera beranjak dari kursi. Tak lupa dirinya menghadiahi Papa dan Mamanya kiss pagi sebelum berangkat kuliah.
" Alexa pulang cepat, ya. Kau jangan mengunjungi pria sate itu lagi." pesan Mama Allen sebelum putrinya menghilang dari pandangannya.
" Menurutmu dia akan mendengarkan?" tanya Papa Harvey disela - sela makannya.
__ADS_1
" Aku tidak tau Sayang, tapi sepertinya dia tidak akan mendengarkanku. Tidak apa - apa, aku tidak marah karena aku akan menemui putraku dulu. " tutur Mama Allen yang turut pergi dari ruang makan.