
Bungkam dengan bibir terkatup rapat, Haven tak memberikan jawaban atas pertanyaan Halbert. Dia justru dengan santai memalingkan wajahnya, tak ingin bersitatap dengan pria yang lebih tua darinya.
" Haven.. cobalah berfikir dengan baik.. jika kau sungguh menjadi jaksa penuntut Mama, maka sebaiknya kau mundur." pinta Halbert dengan tegas.
Mendengar ucapan Halbert— Haven sontak menoleh padanya. "Tidak, aku sudah mengambil kasus ini dan aku akan hadir dipersidangan." sergah Haven tak kalah tegas.
Haven tak banyak bicara dan segera berlalu meninggalkan Halbert. Namun Halbert yang tak ingin menyelesaikan pembicaraan begitu saja, menyusul Haven yang sudah jauh melangkah.
" Haven, berhenti." seru Halbert berusaha mensejajarkan langkahnya dengan Haven.
Namun Haven tetap mengabaikannya hingga tiba diluar kantor polisi, tiba-tiba seorang gadis cantik menghampiri Haven dan memeluknya dengan erat.
Halbert yang melihat pemandangan didepannya seketika terkejut. Dia mengernyit bingung, apalagi saat adiknya itu tak menolak pelukan dari gadis cantik itu.
" Ayo kita pulang. Kau terlalu lelah jika berada diluar." ucap Haven dengan lembut kepada gadis cantiknya. Ia lalu mengurai pelukannya dan mengelus puncuk kepala gadis itu. Setelahnya mereka pun segera pergi tanpa melirik sedikitpun pada Halbert yang mematung ditempat melihat keduanya.
__ADS_1
" Siapa gadis itu?" gumam Halbert seraya mengamati keduanya yang langsung masuk kedalam mobil.
•
•
Waktu berlalu cepat, dan tak terasa kini Mama Allen sudah dibebaskan dari penjara dengan surat jaminan. Karena media masih meributkan perihal Mama Allen yang menjadi tersangka— Mama Allen harus mengendap-endap keluar dari kantor polisi dengan didampingi suami dan putra sulungnya.
Hingga kini mereka sudah berada didalam satu mobil yang sama. Papa Harvey tak sedikitpun mengabaikan istrinya, dia sangat khawatir pada wanitanya hingga terus memegangi kedua tangan Mama Allen.
" Ma, apa Mama sudah tau kalau Haven akan menjadi lawan dipengadilan?" tanya Halbert sembari fokus pada kemudi.
" Sayang, apa benar Haven yang menjadi penuntutmu?" Papa Harvey melempar tanya pada istrinya yang dijawab anggukan oleh Mama Allen.
Mendapati jawaban dari pertanyaannya, Papa Harvey menghela nafas kasar. Dirinya tak bisa berbicara lagi, dan memilih bersandar pada job mobil seraya memejamkan matanya.
__ADS_1
" Papa, Mama.. kalian tidak perlu khawatir. Mungkin Haven memang hebat dan selalu menang dipersidangan, tapi dia tidak mungkin menjatuhkan keluarganya sendiri." sahut Halbert berusaha menenangkan kedua orang tuanya.
Hening tercipta, mereka bertiga kini tak ada yang berbicara dan larut dalam pikiran masing-masing.
•
•
Kantor Kejaksaan Tinggi.
Sehabis mengantar gadisnya pulang ke apartemen, Haven kini kembali bekerja. Dia baru saja tiba didepan gedung kejaksaan dan saat keluar dari mobilnya, tiba-tiba saja beberapa wartawan menghampiri dan mengepungnya dengan menyodorkan berbagai jenis mikrofon.
" Pak Haven, apakah benar anda yang akan menjadi penuntut atas kasus yang melibatkan aktris Allen?" tanya salah satu wartawan.
" Pak, bagaimana perasaan anda mendapatkan kasus besar aktris terkenal." sahut yang lainnya.
__ADS_1
" Pak Haven, kami dengar anda tidak pernah kalah dalam persidangan, lalu apakah Allen akan berakhir dipenjara seumur hidup."
Para wartawan terus menyosor berbagai pertanyaan tanpa memberi sekat untuk Haven berbicara. Haven juga tak dapat bergerak hingga tak lama beberapa satpam dari dalam kantor membantu Haven agar terbebas dari riuhnya wartawan.