Gadis Kecil Milik Tuan Harvey

Gadis Kecil Milik Tuan Harvey
Bab. 101~ SEASON 2


__ADS_3

Kantor Kejaksaan Tinggi.


Tampak Haven yang berjalan masuk kedalam gedung besar kejaksaan, pria muda itu kebingungan saat disetiap langkahnya Ia mendapati tatapan aneh dari semua pegawai.


Hingga tiba didepan lift, dirinya bertemu dengan Beni yang juga hendak masuk kedalam lift.


" Wah, Haven.. aku minta maaf, ya." ujar Beni langsung.


Haven mengernyit bingung. "Kenapa?"


" Aku sudah salahpaham. Ku kira Nyonya Allen berselingkuh dengan karyawan suaminya ternyata itu adalah anaknya sendiri. Dan aku juga sempat mengira dia mendekatimu karena maksud tertentu, tapi ternyata kau adalah anaknya juga." seloroh Beni yang merasa bersalah. Ia lalu segera masuk kedalam lift dan Haven yang ikut menyusul.


Mendengar ucapan Beni, Haven semakin dibuat kebingungan. "Dari mana kau tau?"


" Apa kau tidak melihatnya?" Beni bertanya seraya menekan tombol lift untuk naik ke lantai dimana ruangannya berada.


" Ibumu, dia merilis pernyataan resmi pagi ini. Mengumumkan identitas keempat anaknya." tambah Beni.


Sontak Haven terkejut saat Beni mengakumulasi perkataannya. Pria gagah itu yang mengenakan setelan kemeja dan jas kini diam tercenung hingga tak lama tiba dilantai tujuan.


" Oh, Pak Haven. Kepala Pimpinan memanggilmu keruangannya." seru pemuda magang yang kebetulan tengah menunggu didepan lift.

__ADS_1


" Ada Apa?" tanya Haven.


" Aku juga tidak tau, Pak." jawab pemuda magang itu.


" Aish, paling dia mau membahas masalah putusan sidang." celetuk Beni dengan santai.


Haven tak menanggapi ucapan temannya dan segera berlalu menuju ruang Kepala Pimpinan.


*****


" Yah, jaksa hebat kita sudah datang."


Seorang pria dewasa berusia empat puluh tahun— menyambut Haven saat muncul dibalik pintu kayu jatih modern.


" Duduklah Haven. Kakimu akan sakit jika berdiri lama." seru Kepala Pimpinan yang tengah duduk dikursi takhtanya.


Meski Haven sebenarnya merasa tak nyaman, akan tetapi dirinya tetap patuh dengan duduk disofa yang bersampingan dengan hakim.


" Pak jaksa.. aku tidak tau kalau Allen Dawnson adalah Ibumu. Aku jadi ragu.. bagaimana jika kau justru membela wanita yang melahirkanmu." ujar Pak Hakim dengan seringai diwajah tampannya.


" Dia tidak akan begitu. Buktinya dipersidangan pertama dia justru meminta agar Allen dijatuhi hukuman berat." sahut Pimpinan.

__ADS_1


" Humm, apalagi istrinya membutuhkan pengobatan untuk sembuh dari kanker hati." Dasyah menimpali membuat Haven sontak melempar pandang kepadanya.


" Kalian sebaiknya tidak perlu membuang banyak waktu. Katakan saja, kenapa kalian berkumpul."


Haven yang mulai bosan dengan situasi yang tercipta kini bersuara dengan aura dinginnya.


" Putusan sidang sudah ditentukan. Allen akan dihukum berat." ucap Pimpinan.


Mendengar pernyataan dari Kepala Pimpinan, Haven seketika bungkam. Dia bingung harus mengatakan apa karena pikirannya sebenarnya tengah kalut.


" Kuharap kau tidak bertingkah dipersidangan. Dan sebaiknya tepati janjimu saat awal menjadi jaksa, bahwa kau akan selalu memenangkan kasus tidak perduli itu kebohongan atau kejujuran." tambah sang Pimpinan.


Hening.


Haven tak berbicara, dia hanya menatap kepada Pimpinan dengan pandangan yang sulit diartikan.


" Baiklah, lakukan apa saja." seru Haven setelah berfikir sejenak. Dia lalu segera beranjak dan meninggalkan ruangan itu tanpa berbicara sepatah kata pun.



__ADS_1


Big Gold Apartemen.


Jam dinding terus berputar hingga tak terasa kini hari sudah sore. Tampak Halbert yang tengah berada didalam apartemennya seorang diri. Ia merasa letih setelah merayakan ulang tahunnya bersama kedua orang tuanya dan dua adik cantiknya.


__ADS_2