Gadis Kecil Milik Tuan Harvey

Gadis Kecil Milik Tuan Harvey
Bab. 107~ SEASON 2


__ADS_3

" Sley, kenapa memanggil Papa?" tanya Papa Harvey yang langsung to the point.


" Pa, sebaiknya jangan beritahu Mama kalau dia hamil." ucap Ainsley membuat Papa dan adiknya bingung.


" Kenapa?" secara bersamaan, Papa Harvey dan Alexa melontarkan tanya.


" Usia bayi itu sangat muda. Dan diusia Mama saat ini.. kehamilan sangat berbahaya untuknya. Jadi sebaiknya kita beritahu Mama kalau dia hamil saat sidang putusan sudah digelar. Dan kita harus berusaha agar Mama tidak kalah dipersidangan. Dengan begitu.. nyawa Mama dan bayi akan baik-baik saja."


Ainsley menjelaskan dengan sangat dewasa. Papa Harvey yang menyimak seketika tertegun. Ia tidak menyangka bahwa putrinya akan secerdas ini memahami kondisi wanita hamil.


" Iya, ya. Aku tidak berfikir begitu." wajah Alexa redup. Ia baru menyadari kebodohannya beberapa saat lalu.


" Baiklah." Papa Harvey menanggapi dengan senyuman.


*****


Graham Apartement.

__ADS_1


Denting jam terus berputar, tak terasa hari kini sudah malam. Tampak Haven yang saat ini tengah bersantai dalam huniannya. Pria berkaos hitam polos itu tampak berselancar dilayar ponselnya seraya duduk bersandar pada sofa ruang tamu.


Suasana sangat tenang, tak ada suara apapun. Bahkan tv dalam apartemen Haven tak pernah dinyalakan karena memang pria muda itu tak suka kebisingan.


Namun ditengah kesendiriannya, tiba-tiba suara bel berbunyi. Berulang kali hingga seolah orang diluar sana sangat terburu-buru.


Dengan malas Haven bangkit dan segera membuka pintu apartemennya. Namun dirinya terkejut saat didepan pintu tampak Ainsley yang berdiri dengan memasang wajah masam.


" Kenapa, apa yang membuatmu datang tengah malam begini dan bagaimana kau tau alamatku?" tanya Haven berdiri didepan pintu— seolah tak membiarkan adiknya masuk kedalam apartemennya.


" Minggir." hanya sekali gerakan, Ainsley berhasil menerobos masuk kedalam. Masih dengan wajah datar nan aura dinginnya, gadis muda itu segera duduk dikursi sofa meski siempunya apartemen tak mempersilahkan.


" Berhenti dari kasus Mama." pinta Ainsley dengan enteng.


Haven tersenyum kecut. Ia lalu memalingkan wajahnya mengarah lain.


" Jika hanya itu yang kau inginkan, sebaiknya keluar dari sini sebelum kubocorkan pada semua orang bahwa kau mengajakku bersekongkol." ancam Haven dengan asal.

__ADS_1


Ainsley tersentak mendengar jawaban kakaknya. Sontak dirinya bangkit dan melempar tatapan tajam pada Haven.


" Kau gila?"


" Yah, jangan hanya karena dulu Mama tidak mengakuimu sebagai anak, kau menjadi dendam. Dia wanita yang telah melahirkan kita dan membesarkan kita. Aku akui.. Mama memang tidak pernah punya waktu untuk kita, tidak pernah menjadi sosok Ibu ideal bagi anaknya, tapi bagaimanapun semua dilakukan itu demi keselamatan anak-anaknya."


Ainsley mengeluarkan semua unek-uneknya yang sejak lama dipendam. Sejujurnya ia sudah merasa kesal pada Haven saat persidangan pertama, namun waktu itu ia masih menahan diri.


" Apa kau tau.. kau seperti bukan Haven kami. Kau seperti orang lain." tambah Ainsley dengan suara meninggi.


" Apa kau tega membuat Mama dipenjara seumur hidup? Kau tau, saat ini Mama sedang... "


Ucapan Ainsley menggantung saat tak sengaja matanya menangkap sosok asing yang baru keluar dari kamar utama.


Wanita cantik berambut panjang. Kulit putih bersih dan cerah bak susu serta gestur tubuh yang lemah lembut. Ainsley menatap intens gadis muda itu dengan kening mengerut.


" Si.. Siapa dia?" tanya Ainsley berusaha menyembunyikan keterkejutannya.

__ADS_1


Haven menoleh dan pandangannya bertemu dengan wanitanya yang berdiri diambang pintu.


" Kau tidak perlu tau." jawab Haven yang kemudian memalingkan wajahnya.


__ADS_2