
" Apa yang Mama sembunyikan? Aku sudah menjadi anakmu, tapi tidak bisa mengetahui hal yang kau sembunyikan itu. Apakah berarti aku harus mempunyai kedudukan tinggi untuk mengetahui hal itu?" gumam Haven, merasa penasaran atas apa yang disembunyikan sang ibu selama ini.
Sama seperti adiknya— Ainsley, Ia pun ingin sekali mengetahui keberadaan sang kakak sulung bahkan bertemu dan saling melepas rindu.
•
•
Disepanjang perjalanan ke lokasi syuting, Mama Allen terus terdiam. Pertanyaan putri bungsunya masih terngiang dibenaknya. Entah sampai kapan dirinya harus memikul beban itu, namun Ia juga tidak berani berbagi kisah pilu dengan sang anak tercinta.
Ia pun lalu merogo tas brandednya— mencari ponsel mahalnya. Dirinya kembali melihat layar ponsel yang menampilkan foto keempat anaknya yang diterapkan sebagai wallpaper.
" Sabarlah, saat Mama sudah memastikan bahwa kakakmu sudah aman, Mama akan memberitahu kalau kalian adalah anak Allen Dawnson." lirih Mama Allen.
***
Disatu sisi tampak Papa Harvey yang tengah berada diruang kerjanya. Memijat pelipisnya yang terasa berdenyut, Ia kini sedang berjuang untuk bersabar menghadapi putrinya— Alexa.
" Papa akan membuka kartumu lagi, tapi dengan syarat kuliahlah dengan baik dan berhenti menemui penjual sate itu." Papa Harvey kembali menegaskan hal yang sama.
" Papa, apa kau tidak pernah merasa jatuh cinta? Tolong maklumi aku, aku hanya sedang jatuh cinta jadi sering mengunjungi pria itu." rengek Alexa dengan wajah dibuat sesedih mungkin.
__ADS_1
Papa Harvey menghela nafas.
" Halbert, biarkan dia menggunakan kartunya." ucap Papa Harvey pada pria muda yang sejak tadi berdiri disamping mejanya.
" Baik, Tuan." jawab Halbert dengan cepat.
Mendengar hal itu, senyum Alexa merekah seketika. Ia lalu segera keluar dari ruangan Papanya setelah berada didalam sana selama hampir setengah jam hanya untuk membujuk pria paruh baya itu.
" Duduklah, nak." Papa Harvey mempersilahkan Halbert duduk dikursi seberang mejanya.
Halbert mengangguk pelan, dan segera duduk sesuai perintah Tuan- nya.
" Mulai besok aku tidak akan ke kantor. Aku akan pensiun, jadi untuk sementara kursi presdir akan kosong sampai Haven siap menduduki tahkta itu." jelas Papa Harvey.
" Ada apa Tuan, kenapa sangat mendadak." tanya Halbert dengan sopan, karena setahunya Tuan Harvey memang akan pensiun tapi bukan diwaktu yang dekat seperti hari ini.
" Tidak ada, aku hanya ingin mengawasi anak - anakku agar kejadian masalalu tidak terulang." Papa Harvey menyunggingkan senyum tipisnya.
" Ohya, kau akan didampingi oleh Zhul." lanjut Papa Harvey, menyebutkan nama asisten setianya.
" Baiklah, Tuan." seru Halbert.
__ADS_1
" Sekarang, kau hanya perlu menghandel perusahaan dan mengurus Haven sampai dia berhasil duduk kursi presdir." ucap Papa Harvey.
Ceklek.
Pintu ruangan seketika terbuka, tampak Haven yang langsung menerobos masuk kedalam sana hingga membuat perbincangan Papa Harvey dan Halbert terjeda.
" Aku tidak akan duduk dikursi itu. Aku hanya akan duduk dikursi jaksa." ujar Haven dengan lantang.
" Haven, tolong jangan membuat masalah lagi." Halbert bersuara dengan pandangan mata tertuju pada Haven yang berdiri didekat pintu.
Haven mengabaikan ucapan Halbert dan justru melangkah mendekat.
" Kenapa?" tanya Haven yang kini berdiri tepat dihadapan Halbert, seolah ingin menantang pria dewasa itu.
Sementara Papa Harvey, Ia hanya menggeleng lemah dan memilih diam mengamati.
" Aku tidak akan menjadi penerus Perusahaan Healty Contribution, karena aku akan menduduki kursi jaksa tahun depan." Haven menegaskan sekali lagi ucapannya.
" Jadi sebaiknya kau saja yang duduki kursi presdir itu karena jika tidak salah, mungkin kau adalah putra sulung Harvey Murray." ucap Haven menekankan setiap kalimatnya dengan suara pelan.
Sontak Halbert terdiam, begitu juga dengan Papa Harvey.
__ADS_1
" Haven, omong kosong apa yang kau bicarakan. Kakakmu masih belajar diluar negeri." bantah Papa Harvey.
" Belajar? Baiklah.. aku akan mempercayai hal itu. Tapi, hanya untuk saat ini. Setelah aku menjadi jaksa, aku akan mencari tahu semuanya." terang Haven lalu bergegas pergi.