Gadis Kecil Milik Tuan Harvey

Gadis Kecil Milik Tuan Harvey
Bab. 65~ SEASON 2


__ADS_3

Didalam ruangan Halbert— dia langsung duduk dikursi kerjanya, sementara Mama Allen baru saja keluar dari toilet.


Mama Allen hendak menghampiri putranya, namun sekilas matanya menangkap sesuatu yang terletak diatas meja depan sofa, yakni sebuah majalah bersampul fotonya. Ia pun segera meraih majalah itu dan membacanya.


" Misteri hilangnya anak pertama sang bintang top. Allen Dawnson, aktris legendaris termuda. Pernah melahirkan, namun kemana anak itu?"


Sebuah kalimat terkutip dihalaman pertama majalah itu, Mama Allen langsung menoleh pada pria muda yang duduk dikursi direktur keuangan. Wajahnya sendu, menatap putranya.


" Sayang, kenapa kau membeli majalah seperti ini. Kau sangat sibuk pasti tidak punya waktu membacanya." tutur Mama Allen meletakkan kembali majalah itu ditempat semula.


" Aku sudah membacanya." sahut Halbert seadanya sembari fokus pada berkas didepannya.


Mama Allen termangu, Ia jelas tau bahwa putranya tidak baik - baik saja. Dirinya pun segera menghampiri sang putra yang begitu serius bekerja.


" Nak, Mama mengerti bagaimana perasaanmu. Hari - hari kau mendengar berbagai gosip tentang Mama.. tapi kau tidak perlu memikirkannya. Kau anak Mama, tidak ada yang lebih mengenal Mama kecuali keluarga. Jadi jangan dengarkan mereka, dan fokus saja pada pekerjaanmu." terang Mama Allen dengan lembut.


" Kapan Mama mengundurkan diri dari dunia hiburan?"


Tiba - tiba Halbert mengajukan tanya, membuat Mama Allen terdiam seketika.


" Tunggulah, kurang lebih lima bulan. Mama janji, film yang sekarang Mama bintangi.. adalah yang terakhir." ucap Mama Allen dengan penuh keyakinan.


Halbert terdiam, masih sibuk membolak - balikkan berkasnya.


" Baiklah, Mama harus pergi karena ada syuting." pamit Mama Allen saat melihat sang putra yang tak bergeming.

__ADS_1


Ia pun segera meraih kembali tasnya dan berlalu— meninggalkan Harbert seorang diri.




Lokasi Syuting.


Setelah mengemudi selama setengah jam, Mama Allen kini sudah tiba di lokasi syuting. Ia memakai kacamata hitamnya dan segera keluar dari mobil tanpa melupakan tas brandednya.


" Kita bertemu lagi."


Terdengar suara wanita yang begitu familiar, langkah kaki Mama Allen seketika tertahan. Ia menoleh pada sumber suara, dan rupanya wanita itu adalah adik dari Dawin yang bernama Dasyah.


" Kenapa kau disini?" tanya Mama Allen yang menatap nanar pada wanita dewasa dihadapannya.


Mama Allen mengernyit. "Apa maksudmu?"


" Tidak ada." jawab Dasyah.


Mendengar jawaban Dasyah, Mama Allen tak menyahut lagi. Dirinya lalu segera pergi namun langkah kakinya kembali tertahan saat dari jauh Fresya menghampiri.


" Cih, orang rendahan sedang berkumpul ya!" celetuk Fresya dengan sinis pada Mama Allen dan juga iparnya— Dasyah.


Dasyah menghela nafas melihat kehadiran Kakak iparnya.

__ADS_1


" Kak Allen, aku ingin mengatakan sesuatu."


Alih-alih merespon Fresya— Dasyah justru memilih menemani Mama Allen bercakap. Ya, begitulah hubungan Dasyah dan Fresya, meski keduanya adalah keluarga bukan berarti mereka rukun. Dasyah sangat tidak menyukai Fresya menjadi Kakak iparnya begitupun Fresya yang tidak menyukai Dasyah karena adik iparnya itu seringkali mengerjainya.


" Apa?" tanya Mama Allen.


" Aku tau kau membenci Kakak iparku, itu sebabnya aku menawarkan sesuatu. Aku akan membuatnya mati ditanganmu." jawab Dasyah santai.


Fresya yang mendengar penuturan adik iparnya terbelalak sementara Mama Allen hanya menghela nafas karena menurutnya Dasyah hanya berbicara omong kosong.


" Terserah dirimu." ketus Mama Allen dan segera berlalu.


" Baiklah. Kau tunggu saja, aku yang akan mengatur segalanya." seru Dasyah setengah berteriak.


Mama Allen yang mendengarkan tak menanggapi dan terus melangkah menuju lokasi syutingnya.




Visual Mama Allen diusianya yang ke- 39 tahun.



__ADS_1




__ADS_2