
" Gery, apakah menurutmu perempuan usia empat puluh tahun.. itu tidak menstruasi lagi?" tanya Mama Allen yang seketika membuat Gery tertegun. Bagaimana tidak, dirinya yang seorang pria tentu tidak tau apa-apa soal menstruasi wanita.
" Kenapa bertanya seperti itu, Kak?" Gery mengalihkan karena tak tau harus menjawab apa.
" Aku tidak datang bulan selama tiga bulan ini. Kupikir.. mungkin karena aku sudah berusia empat puluh tahun." tutur Mama Allen dengan wajah murung.
" Mungkin seperti itu, Kak. Aku pernah mempelajari itu saat SMA." celetuk Gery meski dalam hati dia juga ragu akan jawabannya.
Mama Allen tak menyahut, dan kini mulai larut dalam pikirannya sendiri.
" Kak, aku tadi bertemu sutradara sebelum pulang. Katanya.. dia menantikan akting kakak besok." tambah Gery.
" Akting? Kenapa dengan besok?" tanya Mama Allen.
" Oh, kakak belum baca naskahnya? Besok itu adegan action. Ceritanya nanti kakak bersikeras merebut kembali pacar yang diambil Fresya dengan menggunakan senjata api." jelas Gery.
" Huff.. aku seperti ingin minta pemeran pengganti. Aku tidak suka adegan kekerasan." ujar Mama Allen menghela nafas.
Gery yang mendengarnya hanya tersenyum simpul dan kembali fokus pada kemudinya.
__ADS_1
•
•
Kediaman Murray.
" Sayang, aku pulang." suara setengah berteriak itu, memenuhi kamar mewah yang kedap suara. Tampak Mama Allen yang baru datang dan tengah mencari suaminya yang tak terlihat didalam kamar.
Ceklek.
Tak lama pintu bathroom terbuka, menampilkan Papa Harvey yang baru saja selesai membersihkan diri. Pria paruh baya itu terlihat sangat seksi dengan rambut yang basah juga tubuh yang dibalut handuk sepinggang dan hanya menampilkan dada bidangnya yang polos.
" Sayang, kau sudah pulang. Bagaimana harimu?" seru Papa Harvey melihat sekilas pada istrinya yang kini bersantai dikursi sofa— sebelum dirinya masuk kedalam walk in closet.
Mama Allen yang diserang kantuk seketika terlelap disofa tanpa memperdulikan suaminya lagi. Perlahan dia mulai menyelap kealam mimpi, namun tiba-tiba tersadar lagi saat suaminya langsung mengecup bibirnya.
" Sayang, kau itu mengganggu sekali." gerutu Mama Allen.
Papa Harvey tersenyum mendapati kekesalan istrinya. Dia lalu segera duduk disamping wanitanya dan kembali meraih laptopnya diatas meja.
__ADS_1
" Sayang, Haven sudah ada di Indonesia. Sepertinya anak itu tinggal diapartemen." seru Papa Harvey kemudian membuat Mama Allen langsung menatap kearah suaminya.
" Benarkah?" pekik Mama Allen dengan girang.
" Humm." balas Papa Harvey.
" Lalu kenapa dia tidak pulang kerumah." tanya Mama Allen menautkan kedua alisnya.
" Entahlah, mungkin dia masih marah karena kita tidak memberitahu siapa Halbert sebenarnya." tutur Papa Harvey.
" Apa kau tau alamat apartemennya? Aku ingin menemuinya." ucap Mama Allen yang sebenarnya sudah lama menyimpan rindu dalam hati untuk sang putra.
" Pergi saja dengan Halbert, Sayang." Papa Harvey memberi saran perihal rencana istrinya yang ingin mengunjungi Haven.
" Baiklah." seru Mama Allen.
•
•
__ADS_1
Malam kini berganti lagi, dan tak terasa pagi sudah menyambut dengan kemilauan sinar mentari hangat. Cuaca pagi ini sangat cerah, tak ada tanda-tanda hujan akan turun. Masih dikediaman Murray, pagi ini sedikit berbeda karena hanya tiga anggota keluarga yang menikmati sarapan pagi. Papa Harvey, Mama Allen dan juga Alexa— sementara Ainsley semakin sibuk apalagi saat gadis muda itu sudah menjadi pramugari senior.
" Nyonya, kado ulang tahun diruang tamu mau dipindahkan kemana?" tanya Tika yang baru datang dari luar.