
Hening, tak terdengar lagi suara tangis dari Ben ataupun kedua putranya. Ketiganya kini hanya menunggu dengan hati yang harap-harap cemas.
Ceklek.
Pintu ruang ICU terbuka, menampakkan sosok dokter Gio dengan ekspresi yang sulit diartikan.
" Tuan Ben, Nyonya sepertinya ingin bicara denganmu dan juga anak-anaknya." ucap dokter Gio dengan suara yang pelan.
Mendengar perkataan dokter Gio, Daddy Ben, Harvey dan juga Harley segera menerobos masuk kedalam ruang ICU.
Sedetik kemudian, hati Daddy Ben seakan tersayat saat melihat istri tercintanya terbaring lemah diatas brankar dengan berbagai alat medis yang membantu pernafasan sang istri.
Melirik pada monitor ICU, hati Daddy Ben semakin getir saat layar monitor itu menunjukkan kondisi fisiologis sang istri yang tidak menunjukkan stabilitas baik lagi.
Sementara Harvey– Ia mendekat pada Mommy nya saat melihat kedua mata indah sang Mommy terbuka, begitu juga dengan Harley.
" Mom, apa yang Mommy inginkan. Aku disini dan juga Harley." ucap Harvey, berusaha menutupi getaran pada nada bicaranya.
" iya sayang, kami disini." sahut Daddy Ben, menggenggam erat jemari istrinya.
Sejujurnya, Ia sudah putus asa saat melihat kondisi istrinya yang begitu lemah serta layar monitor yang menunjukkan dengan jelas kondisi Mom Ayu.
__ADS_1
Mom Ayu tak bicara dan masih bungkam dengan bibir terkatup rapat. Mata indahnya kian berkaca-kaca dan sedetik kemudian bulir air mata menetes dikedua pelupuk matanya.
" jaga Daddy."
Bibir mungil yang pucat itu, bergerak pelan. Volume suara Mom Ayu sangat kecil dan suaranya begitu lemah. Sepersekian detik, mata indah Mom Ayu perlahan terpejam dengan setetes air mata yang tersisa disudut matanya.
Menyadari sang istri yang sungguh telah pergi meninggalkan dunia, Daddy Ben seketika ambruk. Sedangkan Harvey dan Harley, kedua putra Ben Murray itu hanya mampu menangisi kepergian Mommy nya yang terbilang mendadak.
" Mommy, maafkan aku." ucap Harvey di sela-sela tangisnya.
" Mommy belum melihat anak Harvey dan Krystal." Harley menimpali, pria gagah itu juga terlihat begitu hancur.
Membelai lembut wajah Mommynya, Harvey melabuhkan kecupan lembut dikening Mom Ayu. Sedangkan Harley, Ia tak melepaskan jemari Mommynya dan terus menggenggam dengan erat.
*
*
Hari terlewati begitu cepat. Kepergian Nyonya Murray yang begitu mendadak masih terasa mimpi bagi Ben Murray dan juga anak-anaknya.
Setelah pemakaman, Daddy Ben memilih menghabiskan waktu di mansion dengan Krystal dan Harley yang menemani sang Daddy.
__ADS_1
Disatu sisi, Harvey kini tengah berada diruang perawatan Allen. Menanti sang istri sadar sejak melewati masa kritis yang hampir dua hari.
Raut wajah Harvey datar. Ia terlihat tak sehat. Bagaimana tidak, dua hari lalu saat Mom Ayu dinyatakan tiada, Allen pun harus mengalami masa kritis setelah operasi untuk mengeluarkan bayi dalam kandungan.
Ditambah bayi Harvey harus berada didalam ruang NICU selama beberapa hari, untuk pemulihan karena sang bayi terlahir prematur.
Menggenggam tangan mungil istrinya, Harvey menatap lekat wajah cantik istrinya yang sudah cukup lama memejamkan mata.
" M o m..." suara yang terdengar begitu pelan dengan nada yang lemah. Setelah terbaring diatas brankar selama dua hari, Allen akhirnya sadar dengan menyerukan panggilan Mom Ayu untuk kali pertamanya.
Harvey terkejut dan rasa bahagia sontak tersirat dihati saat sang istri sadar. Dengan sigap, Harvey segera memanggil dokter Gio.
Tak membutuhkan waktu lama, dokter Gio pun datang dengan satu perawat yang ikut bersamanya.
****
" kondisinya sudah membaik, tapi dia harus dirumah sakit ini untuk beberapa waktu sambil menunggu masa penyembuhan total." jelas dokter Gio setelah memeriksa Allen.
Harvey tersenyum dan mengangguk. Dokter Gio segera berlalu, memberi ruang pada Harvey dan Allen.
" bagaimana perasaanmu, sayang?" ucap Harvey sembari menatap penuh kasih pada wanitanya.
__ADS_1
Allen tak menjawab dan hanya memberi senyuman pada suaminya.