
Selang beberapa saat, Mom Ayu kini dipindahkan keruang ICU. Wanita paruh baya– yang tengah terbaring di atas brankar itu tampak pucat dan tidak sadarkan diri lagi.
Harley dan Daddynya serta Kyle yang menggendong istrinya, hanya mampu menyaksikan Mom Ayu yang sudah berlalu dengan brankar dan para perawat.
****
Kyle segera berlalu, membawa sang istri yang sudah tak sadarkan diri. Disaat Daddy Ben dan Harley bersedih, Harvey kini tengah berjalan gontai– disepanjang koridor rumah sakit, dengan seutas senyum diwajahnya. Ia hendak mencari keberadaan Daddy dan saudarinya namun, langkahnya terhenti saat Ia tak sengaja berpapasan dengan Kyle yang menggendong Krystal.
" kenapa dengan adikku?"
Wajah Harvey mendadak murung– senyuman diwajahnya lenyap sudah, menatap intens pada adiknya yang pingsan.
Kyle, alih-alih menjawab– pria berstatus ipar Harvey itu, segera berlalu tanpa memberi kakak iparnya jawaban.
Mendapati sikap Kyle yang aneh, seketika jantung Harvey berdetak kuat. Dengan segera Harvey berlari, mencari keberadaan Daddynya.
Dari kejauhan, samar-samar Harvey melihat Daddynya yang tengah terduduk dilantai depan ruang ICU, bersama Harley yang juga berada tepat disebelah sang Daddy. Dengan jantung yang bertalu-talu, Harvey mendekati Daddy dan saudarinya.
" ada apa? Dimana Mommy?"
Harvey melihat jelas, kegusaran pada Daddy Ben dan Harley, dan entah mengapa perasaan Harvey tiba-tiba tak enak.
__ADS_1
Berjongkok dihadapan Harley, Harvey menatap intens adiknya yang menitikkan air mata.
" aku bertanya, dimana Mommy? Apa yang terjadi?" tanya Harvey dengan nada tak sabaran.
" Mommy, koma. Kankernya sudah stadium akhir." jawab Harley dengan lemah. Ia kembali menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan sembari terisak.
Harvey tiba-tiba merasa syok saat mendengar perkataan Harley. Sedetik, dua detik– tawa Harvey pecah.
Hahaha.
" kau bercanda, ya. Mommy pasti hanya sakit biasa." Harvey menjeda serta tawa masih tersisa di sudut bibirnya.
" kenapa kau melebihkannya." dengan suara meninggi, Harvey menatap tajam pada adiknya. Ia benar-benar tak terima pada ucapan Harley yang seolah terdengar seperti sebuah lelucon.
Daddy Ben bersuara, saat merasa putra sulungnya tak terima pada kenyataan yang ada.
Harvey beralih menatap wajah Daddynya. Membidik sang Daddy dengan tatapan tajam.
" Daddy suaminya dan kenapa hal sebesar ini tidak Daddy tau." Harvey menekankan kalimat akhirnya tanpa memutus pandangannya.
Dunia Harvey seakan runtuh. Ia yang tadinya akan memberi kabar bahagia pada Daddy dan Mommy bahwa bayinya sudah lahir, justru berujung pada kenyataan pahit.
__ADS_1
hiks, hiks,
Untuk kedua kalinya, Daddy Ben kembali terisak– sama seperti dua puluh lima tahun lalu dimana dirinya dan sang istri mengalami kecelakaan tragis.
" Mommy itu selalu menginginkan yang terbaik untuk keluarganya. Daddy sebenarnya sudah sering melihatnya kesakitan, tapi Daddy hanya mengira Mommy sakit biasa."
Dengan suara bergetar, Daddy Ben berbicara pada kedua putranya.
" saat Mommy kalian menyentuh dadanya, Daddy hanya berfikir dia sakit hati karena putra dan putrinya jarang berkunjung. Ternyata istriku kanker jantung." ucap Daddy Ben lagi dengan isak tangis mendalam.
Harvey dan Harley yang mendengar setiap ucapan sang Daddy, segera memeluk Daddy Ben, berusaha menenangkan pria paruh baya itu yang tampak terpuruk.
Ketiga pria tampan itu yang dengan setia menunggu didepan ruang ICU dimana Mom Ayu menjalani perawatan, seketika khawatir saat perawat dari dalam ruangan keluar dengan wajah panik.
" kenapa dengan Mommy ku?" Harvey membuat langkah perawat itu terhenti. Ia menatap nanar pada sang perawat– menanti sebuah jawaban.
" maaf, Tuan. Biarkan kami bekerja dulu." sang perawat segera berlalu dengan langkah cepat, membuat Harvey semakin gusar begitu juga dengan Harley dan Daddy Ben.
" Harvey, pergilah. Allen sekarang sendiri." ucap Daddy Ben dengan tiba-tiba. Harvey tak bergeming, hatinya seolah tak ingin berada jauh dari sang Mommy yang sedang kritis.
Sesal mendadak datang dan mengetuk relung hati Harvey. Kata-kata kasarnya beberapa saat lalu pada Mom Ayu, membuat Harvey sungguh menyesal.
__ADS_1
Selang beberapa saat, dokter Gio dengan langkah gontai datang dan segera masuk kedalam ruang ICU tanpa menyapa ketiga pria yang tengah menunggu didepan ruangan dengan hati yang ketar-ketir.