
Gangguan mental dideritanya dalam waktu yang cukup lama. Setiap malam hanya menghabiskan waktu seorang diri didalam kamar dengan pencahayaan minim. Tak jarang Allen akan terjaga hingga pagi kembali menyapa.
Namun tiba disuatu malam, disaat dirinya baru menyelam kealam mimpi setelah menerima suntik penenang, samar-samar indera pendengaran Allen menangkap suara anak kecil yang berulang kali menyerukan panggilan Mama.
Seketika kembali terjaga dari tidurnya, Mama Allen bangun dengan perasaan takut. Memeluk kedua lututnya, pandangan terarah keluar jendela dimana suara sikecil itu terdengar.
" Mama.. "
Kali ini terdengar sangat jelas. Allen beranjak dari tempat tidur dan menghampiri jendela kaca. Menyibak tirai putih tipis didepannya, Allen tak mendapati siapapun diluar sana. Namun suara sikecil itu kembali mengangung dengan jelas hingga membuatnya menjerit memanggil nama putra sulungnya— Halbert.
Berulang kali menyerukan nama sang putra, hingga tak lama perawat yang bertugas datang dan langsung menenangkan Allen. Tapi wanita muda itu sudah dikuasai rasa takut dan kepanikan terus memberontak.
Bahkan dokter yang berjaga malam saat itu harus turun tangan— Dokter Farah.
" Perawat, ambil cairan benzodiazepine." Dokter Farah yang berusaha menenangkan Allen, menurunkan titah kepada perawat disampingnya.
__ADS_1
Perawat itu pun segera mengambil cairan itu dan juga jarum suntik, namun tak diduga karena Allen yang sudah dikendalikan oleh penyakit jiwanya dengan tak sadar bertindak. Mengambil cairan itu karena merasa takut ditenangkan lagi dengan jarum suntik.
Semua terjadi begitu saja, cairan suntik itu mengenai mata Dokter Farah. Meski terjadi tanpa kesengajaan, namun cairan itu tetaplah merusak penglihatan sang dokter.
Flassback Off.
•
•
Hari berlalu, dan tibalah kini waktu yang dinanti oleh semua media serta para penggemar dan pembenci Mama Allen. Sidang putusan yang akan dibuka dalam tiga jam mendatang.
Dikediaman Murray, tampak Mama Allen yang baru saja selesai membersihkan dirinya. Masih dibalut bathrobe berwarna putih, wanita berambut pirang golden brown itu tampak melamun didepan meja rias.
Pikiran kalang kabut, hati resah, semua sudah bercampur menjadi satu hingga terlihat jelas dari raut wajah Mama Allen. Saking sibuknya dengan pikiran sendiri, ia tak menyadari keberadaan suaminya didalam kamar.
__ADS_1
" Sayang, ada apa?" Papa Harvey yang sejak tadi mengamati istrinya, melontar tanya meski ia tau bahwa suasana hati sang istri tak baik.
" Aku memikirkan Haven. Dia masih keras dengan pendiriannya." jeda Mama Allen.
" Aku bertanya pada diriku, sebenarnya apa yang diutama Haven. Apakah dia bekerja dengan mengutamakan kejujuran atau sebenarnya hanya kebohongan." tutur Mama Allen menatap pantulan sang suami pada cermin didepannya.
" Jangan terlalu dipikirkan, Sayang. Tidak baik bagi kesehatanmu." ucap Papa Harvey mengelus puncuk kepala sang istri dengan menampilkan senyum manisnya.
Mama Allen membalas senyum manis suaminya. Ia lalu beranjak dan segera memeluk erat suaminya. Pelukan itu sangat erat hingga seakan sebuah pelukan terakhir.
" Sayang, aku akan pergi dengan Gery. Kau dan anak-anak pergilah bersama." tutur Mama Allen dalam dekapan sang suami.
Papa Harvey mengernyit dan kemudian mengurai pelukan hangat itu. "Kenapa Sayang?"
" Aku harus kesuatu tempat dengan Gery dulu." jawab Mama Allen segera meraih tasnya diatas meja rias.
__ADS_1
" Aku pergi dulu. Sampai bertemu dipengadilan." senyum Mama Allen sangat lembut seolah menyiratkan sesuatu. Berlalu tanpa banyak bicara, ia meninggalkan suami begitu saja.