
Mendengar ucapan wanitanya, Papa Harvey tak menyahut dan lebih memilih menenangkan istrinya dengan mengusap lembut rambut panjang Mama Allen.
Sama seperti sang istri— dia juga memiliki kekhawatiran yang besar. Mengingat bagaimana peristiwa penculikan delapan belas tahun lalu.
Flassback~ 18 tahun lalu.
Halbert Murray— putra sulung Harvey Murray dan Allen Dawnson. Nama Halbert adalah hadiah pemberian dari mendiang sosok Mom Ayu yang dirajut sendiri saat masih hidup.
Mama Allen yang awalnya sudah berencana menamai anak sulungnya dengan nama Haven, mau tak mau harus memberikan nama Halbert untuk menghargai permintaan mendiang Mom mertuanya.
Hingga saat itu tak terasa waktu berlalu, Halbert tumbuh menjadi sosok putra yang tampan dengan mewarisi rupa dari Mamanya— Allen Dawnson. Meski begitu Halbert tak sering muncul di media karena Papa Harvey khawatir bila terjadi sesuatu pada putranya.
__ADS_1
Setahun setelah lahirnya Halbert, Papa Harvey dan Mama Allen sudah sepakat untuk mempekerjakan pengasuh yang akan mengurus segala keperluan dan kebutuhan Halbert kecil. Sementara Mama Allen dan Papa Harvey kembali pada pekerjaannya masing-masing.
Namun selang beberapa waktu, diusia Halbert yang baru menginjak dua tahun— Mama Allen kembali dikarunia momongan. Bayi kecil mungil hadir dalam kandungannya lagi. Dikehamilan keduanya dia pun memutuskan untuk menghilang dari media sampai usai kelahiran bayi keduanya.
Tahun berganti, musim berganti dan kini usia Halbert kecil sudah masuk enam tahun. Sedangkan adiknya yang bernama Haven— sudah berusia empat tahun. Diusia Halbert yang sudah memasuki enam tahun, saat itu adalah masa pertama kali dia masuk sekolah dasar. Masih dengan pengasuh yang sama dan setia mengurus Halbert.
Halbert memulai pendidikan pertamanya dengan diantar dan dijemput oleh pengasuhnya disekolah, sementara Haven kecil terlalu sibuk dengan dunianya sendiri yang menghabiskan waktu bermain dirumah bersama pengasuhnya juga.
Kesibukan Mama Allen dan Papa Harvey membuat keduanya jarang menghabiskan waktu dengan kedua putra kecilnya hingga tiba disuatu masa— hal yang tidak pernah disangka terjadi.
Tepatnya dihari kelima Halbert bersekolah. Disiang hari tak kunjung pulang, dan saat itu Mama Allen kebetulan tak ada jadwal syuting hingga dia hanya berdiam diri didalam rumah bersama Haven kecil.
__ADS_1
Pukul dua siang— Mama Allen mulai merasa aneh saat putra sulungnya tak juga pulang dari sekolah. Denting jam terus berputar pada porosnya dan pandangan Mama Allen terus terarah pada jam dinding— melihat jarum jam yang terus berputar hingga tak terasa pukul tiga sore.
Meraih ponsel genggamnya diatas meja, Mama Allen segera menghubungi Papa Harvey— ingin menumpahkan segala keresahan hatinya. Namun bukannya mendengar suara sang suami diseberang ponsel— Mama Allen justru mendengar kabar dari kepala pelayannya yang baru datang dengan nafas memburu, menyampaikan bahwa Halbert telah diculik.
" Nyonya, penculiknya adalah pengasuh Tuan Muda Halbert." lapor sang kepala pelayan setelah menerima kabar dari telfon rumah yang berada diruang tamu.
Seketika itu juga wajah Mama Allen pucat. Ia tercengan mendapati kenyataan yang ada. Sangat syok hingga tak menyadari bahwa ponselnya sudah terhubung dengan Papa Harvey.
Papa Harvey yang hanya mendengar diseberang sana segera memutus panggilan dan bergegas pulang kerumah. Sedangkan Mama Allen tak sanggup bersuara lagi— perubahan mulai terlihat, dia terduduk dilantai dengan memeluk kedua lututnya. Terlihat sekali bahwa Mama Allen ketakutan dan tak berdaya.
" Mama.." Haven yang sejak tadi bermain disamping Mamanya— memanggil wanita cantik itu dengan suara ciri khas kekanakannya.
__ADS_1
" Nyonya, saya sudah lapor pada Tuan Harvey, katanya Tuan sudah diperjalanan pulang." seru kepala pelayan.
Mama Allen tak bergeming, dan masih dengan posisi yang sama. Hingga tak terasa Ia ambruk, pingsan tiba-tiba. Sontak kepala pelayan panik sedangkan Haven kecil langsung menangis.