Gadis Kecil Milik Tuan Harvey

Gadis Kecil Milik Tuan Harvey
Bab. 113~ SEASON 2


__ADS_3

" Sidang dimulai. Jaksa penuntut, silahkan." ucap Pak Hakim.


Haven berdiri dari duduknya. Dia menatap sekilas sang Mama yang duduk dikursi tersangka. Dari sorot mata saja— Haven sudah tau bahwa Mamanya ingin menangis.


" Saya mendapat surat dari keluarga korban." jeda Haven mengangkat amplop putih itu dan memperlihatkannya pada semua orang.


" Yang mulia, keluarga korban meminta agar putusan sidang segera diumumkan karena keluarga korban sangat tersiksa setiap kali sidang digelar." seru Haven menyampaikan secara ringkas isi dari surat itu.


" Baik, lanjutkan." ucap Pak Hakim mempersilahkan Haven untuk mengajukan tuntutan kepada Mama Allen.


Hening.


Haven masih berdiam diri ditempatnya. Bibirnya kembali terkatup rapat, dan pandangannya lurus kedepan. Tatapannya kosong, membuat semua orang yang berada diruang sidang mengernyit bingung.


" Jaksa penuntut?" Pak Hakim bersuara— menyadarkan Haven yang melamun.


Namun Haven tetap enggan berbicara. Pandangan lalu beralih pada pengacara pembela— Chelsea yang juga sejak tadi mengamatinya.

__ADS_1


" Jaksa penuntut, apakah tidak ada yang ingin kau sampaikan?" ucap Pak Hakim setelah menunggu beberapa detik.


" Ada.. " ujar Haven yang akhirnya memilih berbicara.


" Berdasarkan pasal 140 ayat 2 KUHAP, maka saya sebagai jaksa penuntut menegaskan bahwa saya menghentikan penuntutan perkara ini." seru Haven dengan lantang.


Deg.


Penyataan Haven sukses membuat semua orang terkejut. Terutama Dasyah, Pak Hakim dan sang pengacara pembela. Sementara reporter dan wartawan kembali berselancar pada keyboard laptopnya.


" Saya menghentikan penuntutan ini.. karena saya bekerja atas dasar kejujuran." jeda Haven menatap pada Pak Hakim yang menyorotnya dengan tatapan tak percaya.


" Pada benda tajam ini, sidik jari tersangka tidak ada." tambah Haven.


Pandangan Mama Allen kini terarah pada Haven yang berdiri di posisi jaksa dengan gaya yang begitu menawan. Ruang sidang mendadak ricuh, semua tercengang pada pernyataan sang jaksa penuntut.


" Bohong."

__ADS_1


Dasyah meneriaki Haven dengan telunjuk mengarah kepada pria gagah itu.


" Apa kau sedang membela Ibumu?" tutur Dasyah terlihat marah.


" Aku sedang tidak membela tersangka. Tapi bukti memang mengatakan bahwa dia tidak bersalah." sergah Haven dengan tegas.


Ucapan Haven semakin mengundang amarah dihati Dasyah. Suasana diruang sidang mendadak riuh. Semua wartawan dan reporter dengan sigap langsung mengeluarkan kamera dan menyorot pertentangan yang tiba-tiba tercipta.


" Semuanya, harap diam." Pak Hakim menengahi saat melihat kedua orang didepannya semakin terbakar amarah.


" Tidak, aku tidak bisa diam. Dia jelas membela yang bersalah." jerit Dasyah dengan suara menggelegar.


Haven tak menyahut lagi dan memilih diam mengatamati wanita dewasa yang berdiri jauh disana.


" Yang mulia, kurasa sidang harus ditutup." seru Haven kemudian.


" Tidak, semua tidak boleh berakhir begini saja." Dasyah menolak dengan tegas. Dan tanpa aba-aba, ia langsung mengambil senjata api didalam tas jinjing brandednya.

__ADS_1


Mengarahkan mata pistol kepada Haven— Dasyah sudah hendak menarik pelatuknya. Semua orang sontak menjerit ketakutan. Beberapa wartawan sudah meninggalkan ruang sidang, sementara Papa Harvey, Halbert, Ainsley, Alexa, dan Mama Allen membeku ditempat. Mereka ingin bergerak— menyelamatkan Haven yang terancam bahaya namun tak berani karena hal itu justru akan lebih membahayakan Haven.


__ADS_2