
Deg.
Detak jantung terasa berhenti begitu juga aliran darah Harvey saat melihat intens pada gadis muda didepannya yang ternyata adalah istrinya.
Wajahnya cantik sama seperti enam bulan lalu, bahkan sekarang kedua pipinya menjadi semakin tembem.
Tak ada yang berubah dari wajah cantik itu hanya saja, tubuh mungil itu kini berisi. Perut yang dulunya rata kini terlihat sangat besar hingga membuat Harvey mematung ditempat.
Tetap tenang dan santai, gadis muda itu keluar dari lift namun langkahnya terhenti saat tangan kekar menggenggam tangan mungilnya yang juga berisi.
" apa alasanmu menghilang karena dia yang berada dalam sana?" tanya Harvey dengan suara beratnya.
Ia berbalik dan menatap wajah Allen yang masih memakai kacamata hitam sedangkan Allen membuang pandangannya.
" siapa Ayahnya?" tanya Harvey datar hingga membuat Allen seketika menoleh, menatap padanya.
Allen melepas kacamata hitamnya dan menatap tajam pada pria dewasa dihadapannya.
" kau pikir siapa?" ucap Allen dengan santai.
__ADS_1
Harvey mengernyit bingung saat mendengar jawaban simpel gadis cantik didepannya. Sedetik kemudian raut wajahnya berubah saat air mata mengalir begitu saja dikedua pipi tembem istrinya.
" ku pikir aku sudah dewasa karena sebentar lagi aku akan menjadi Ibu. Aku sudah mencoba untuk tidak menangis, tapi karena pertanyaanmu barusan aku kembali menangis seperti anak kecil."
Allen berbicara dengan bibir bergetar. Ia menyembunyikan wajahnya dibalik telapak tangan mungilnya. Menangis sejadi-jadinya membuat kedua bahunya bergetar hebat.
" ketika aku merindukanmu sampai hatiku sakit dan hancur kau tak kunjung datang. Ketika satu kali saja aku memohon untuk bisa memelukmu sekali saja, kau tetap tidak muncul. Kini kau tiba-tiba hadir dan mempertanyakan status bayiku."
Allen terisak pilu. Sungguh hatinya benar-benar sakit karena suaminya seakan berfikir anak di kandungannya milik orang lain.
Harvey yang sungguh tidak menyangka kini mematung ditempat. Melihat istri kecilnya terisak pilu sungguh menambah sesal mendalam dihati.
Ia merasa menyesal karena terlalu sibuk bahkan tak bisa mencari kabar ataupun mengetahui hal besar seperti ini.
Mengurai pelukannya, Harvey menatap wajah sembab Allen dan mengusap pelan kedua pipi tembem yang sudah dibanjiri air mata.
" kenapa kau tidak memberitahu aku? hah?" ucap Harvey menangis. Sesuatu hal yang baru terjadi dalam hidupnya.
Menangkup wajah istrinya dan mendekatkan hingga membuat hidungnya dan Allen saling bersentuhan.
__ADS_1
" kau pasti sangat teriksa selama ini. Membawa baby kita dalam tubuh mungilmu. Apakah kau tersiksa jika ingat tidur? bagaimana makanmu? apakah anak kita nakal?"
Serentetan pertanyaan Harvey meluncur begitu saja dan bersamaan air mata juga mengalir. Ia kembali memeluk Istrinya dengan erat. Sungguh hatinya kini bahagia karena kehamilan sang istri yang baru diketahui.
Jika semula kepalanya berdenyut, kini justru Ia sangat bahagia sekali. Tanpa aba-aba Ia segera menggendong Allen kedalam lift.
" turunkan aku." ucap Allen karena takut Harvey akan menjatuhkannya.
" diamlah sayang." celetuk Harvey hingga membuat Allen seketika bungkam pada panggilan sayang yang Ia serukan.
" kau semakin berat saja." goda Harvey menatap pada istrinya yang merengkuh erat lehernya.
" aku tidak menyangka jika adik kecilku langsung menghasilkan junior didalam sana." timpal Harvey lagi melirik pada perut buncit istrinya.
▪︎
▪︎
Bersambung....
__ADS_1