
Senyum penuh kemenangan, terlihat nyata diwajah cantik Dasyah. Saking bahagianya, sepanjang mengemudi dirinya terus bersenandung dan kadang menyanyikan satu bait lagu.
Sumber kebahagiaannya tentu tak lain dari Mama Allen yang tak terasa esok akan menjalani sidang terakhir— dimana sidang itu akan membuat Allen Dawnson ditahan seumur hidup.
Ya, Dasyah dan Kepala Pimpinan Kejaksaan, memiliki hubungan spesial. Dan keduanya sudah bersepakat untuk menghancurkan Allen Dawnson. Tak hanya mereka berdua, tapi juga melibatkan Pak Hakim dalam konspirasi itu.
****
Selang beberapa menit, kini Dasyah sudah tiba dirumahnya. Hunian itu tak terlalu mewah, dan juga tak sesederhana biasanya. Keluar dari mobil tanpa melupakan tasnya, Dasyah segera berjalan masuk kedalam rumah dengan masih menampilkan raut wajah bahagia.
Namun setibanya didalam, wajah cantiknya itu redup. Bagai sebuah batu permata yang diawal bersinar cerah, dan perlahan sirna. Mendapati sang Ibu— Farah, yang terduduk dilantai seraya meraba-raba lantai marmer itu— seakan mencari sesuatu yang hilang.
Pelupuk mata seketika memanas, dan hati juga kian panas. Ibu tunggal yang melahirkan dan membesarkannya kini terlihat tak berdaya tanpa penglihatan.
Tak terasa bulir air mata jatuh. Disaat Dasyah hendak menghampiri sang Ibu, tiba-tiba kakaknya yang baru keluar ruang baca langsung mendekat lebih dulu.
__ADS_1
" Ibu, apa yang kau cari." tanya Dawin membantu Ibunya bangkit dan duduk kembali disofa.
" Ibu mencari jarum yang jatuh." jawab Ibu Farah seadanya.
Dawin yang mengedarkan pandangan dilantai, seketika melihat apa yang sejak tadi dicari ibunya. Jarum jahit yang hanya ada disamping kaki meja. Dia segera mengambil dan memberikan jarum itu kepada Ibunya.
" Oh, Dasyah. Kau sudah pulang?"
Dawin yang baru menyadari keberadaan adiknya, menyapa dengan ramah. "Aku akan keruang baca, tolong jaga Ibu." pinta Dawin dan segera berlalu.
Dasyah tak menyahut karena sejak tadi perhatiannya hanya berpusat kepada Ibunda tercinta yang dengan asik kembali melanjutkan kegiatan merajut kain.
" Ibu, aku pulang." ucap Dasyah dengan mata berkaca-kaca.
" Dasyah, Ibu rindu Sayang." ucap Ibu Farah dengan pandangan kosong lurus kedepan.
__ADS_1
" Ibu, aku disini. Sekali saja, walau tidak melihatku, tapi berbaliklah padaku saat bicara. Aku rindu ditatap Ibu." seru Dasyah menahan tangisnya.
Mendengar ucapan putri bungsunya, Ibu Farah tertegun. Ia seketika diam membisu. Andai bisa mengatakan yang sejujurnya, jauh didalam lubuk hati— Ibu Farah juga merindukan wajah putra dan putrinya. Kedua wajah yang sangat dirindukannya sejak kehilangan penglihatannya delapan belas tahun lalu.
" Kau ini bicara apa. Apa kau mengejek Ibu karena tidak bisa melihat." Ibu Farah mengalihkan dengan candaan.
" Ibu, itu karena kau yang tidak ingin operasi." seru Dasyah langsung memeluk sang Ibu.
" Tunggulah, Bu. Aku akan membuat Allen menderita seumur hidup seperti yang Ibu rasakan selama ini."
Dasyah dengan penuh keyakinan, bersumpah dalam hatinya dengan linangan air mata dikedua pipi mulusnya.
Setiap kali melihat sang Ibu, kemarahan Dasyah tak pernah lenyap. Ia sejak dulu sudah bertekad menghancurkan Allen, namun waktu belum pernah mendukungnya. Kebencian Dasyah bukan tanpa sebab, karena kondisi sang Ibu yang sekarang semua karena Allen.
Flassback~ Rumah Sakit Pembinaan Mental.
__ADS_1
Wanita muda yang terlihat kacau. Tubuh kurus dan wajahnya pucat— dia adalah Allen.
Diusianya yang menginjak dua puluh dua tahun, disaat ia seharusnya berada dilokasi syuting, kini justru harus mendekam dirumah sakit jiwa. Kehilangan anak pertamanya sangat membuat dirinya frustasi hingga mengalami gangguan kejiwaan.