
Harvey berbicara dengan suara meninggi, membuat Mom Ayu terkesiap. Sedangkan, Dad Ben, wajahnya seketika memerah. Amarah tiba-tiba muncul di dada dan siap untuk meletup.
Plakk.
Tiba-tiba sebuah tamparan mendarat mulus di pipi Harvey, membuat Daddy Ben dan Mom Ayu terkejut.
Beralih pada sosok wanita hamil yang melayangkan tamparan, Mom Ayu termangu saat mengetahui, Krystal lah yang menampar Harvey.
" kau tidak berhak bicara kasar pada Mommy hanya karena istrimu."
Krystal berkata dengan raut wajah yang menahan amarah. Sementara Harvey, Ia terdiam karena tak pernah menyangka bahwa adiknya yang begitu lembut bisa berbuat kasar padanya.
Ya, Krystal yang tadi berada tak jauh dari ruang IGD, mendengar jelas semua perkataan kakaknya dan entah mengapa, ucapan kakaknya itu sangat membuat dirinya marah.
Semuanya masih terdiam, tak ada seorangpun yang menyahut. Bahkan, Kyle yang sejak tadi mengekor dibelakang Krystal– masih terkejut atas tindakan istrinya.
" Tuan Harvey."
Suara dokter Gio, membuat semuanya menoleh pada sumber suara.
" Tuan, Istrimu kritis. Kami harus mengeluarkan bayinya karena ketubannya sudah lama pecah. " jelas sang dokter hingga membuat Harvey tertegun.
" maaf, boleh saya tau umur pasien berapa?" tanya dokter Gio.
" usianya masih enam belas tahun." Harvey menjawab dengan spontan dan membuat dokter Gio terkejut.
__ADS_1
" Tuan, diusia istrimu sekarang, kehamilan sangat berisiko dan berbahaya untuknya. Apalagi bayinya sudah meminum air ketubannya."
Pernyataan dokter Gio– mendadak membuat suasana hati Harvey kocar-kacir. Sedangkan Daddy Ben dan Mom Ayu, tampak sedih mendengar kondisi menantunya, begitupun dengan Krystal.
" tapi, kandungan istriku masih delapan bulan." Harvey bertanya, dengan raut wajah sendu.
" maaf, tapi dokter kandungan yang menangani Nona Allen sebelumnya, sepertinya salah prediksi." ucap dokter Gio dengan rasa bersalah.
" Tuan, kami butuh persetujuanmu untuk melakukan operasi pada pasien." ucap dokter Gio dan segera berlalu dengan Harvey yang mengekor dibelakangnya.
Sementara Mom Ayu, entah mengapa namun– pandangannya seketika buram serta wajahnya semakin pucat pasih.
Saat langkah Harvey belum jauh, tubuh Mom Ayu seketika ambruk dilantai. Membuat suami dan anaknya terkejut begitupun dengan dokter Gio.
" Daddy, apakah Mommy kurang sehat?" Krystal menyahut, wajahnya kini redup dan sama seperti sang Daddy, Ia pun merasa cemas.
Daddy Ben tak berbicara, Ia masih fokus pada istrinya.
****
Masalah seakan tak pernah menjauh dari keluarga Murray seperti sekarang, Allen kini tengah menjalani operasi sedangkan Mom Ayu, Ia sedang diperiksa oleh dokter Gio.
Daddy Ben, Krystal dan Kyle kini berada didepan ruangan dimana Mom Ayu sedang diperiksa oleh dokter. Ketiganya saling terdiam, dengan pikiran masing-masing.
" Krystal, sebaiknya pulanglah. Aku yang akan menjaga Mommy." Kyle bersuara setelah terdiam cukup lama. Ia khawatir pada istrinya dan juga bayi yang masih dalam kandungan.
__ADS_1
" Iya, nak. Pulanglah istirahat."
Daddy Ben menimpali ucapan sang menantu. Namun, Krystal tetap bersikeras untuk tinggal beberapa saat walau hanya untuk mendengar kondisi sang Mommy.
" Daddy, bagaimana kondisi Mommy." Terdengar suara maskulin dari pria yang tiba-tiba datang– Harley dengan wajah paniknya mendekati sang Daddy yang terlihat gusar.
Belum sempat Daddy Ben berbicara, dokter Gio akhirnya keluar dari dalam ruang pemeriksaan.
Wajah dokter Gio tampak redup, tak berani menatap wajah Tuan Ben. Terdiam untuk sesaat, dokter Gio menghela nafas sebelum menjelaskan kondisi Nyonya Ayu yang terbaring lemah didalam sana.
" maaf, Tuan. Nyonya Ayu kritis."
Sepersekian detik, pernyataan dokter Gio bagaikan bola api yang dilempar tepat pada wajah Daddy Ben.
" apa maksudmu kritis?"
Daddy Ben seolah tak terima pada ucapan dokter Gio hingga Ia menarik kerah kemeja pria tampan didepannya. Tatapan tajam pun tak lepas.
" iya, katakan yang jelas." Harley bersuara sedangkan Krystal, wanita hamil itu kini sudah berada dalam dekapan sang suami karena merasa syok pada berita yang didengarnya.
" kanker Nyonya Ayu sudah stadium akhir dan sekarang beliau kritis. Kami akan memindahkan Nyonya ke ruang ICU."
Hening, Daddy Ben dan Harley dibuat tercengang pada pernyataan dokter Gio. Sementara Krystal, Ia sudah pingsan saat mendengar kondisi Mommynya.
Setetes bulir air mata mengalir diwajah Daddy Ben, lidahnya terasa kelu. Berbeda dengan Harley, putra kedua Ben Murray itu tampak frustasi, meremas kasar rambutnya dengan wajah memerah– menahan tangis.
__ADS_1