
" jawab aku, siapa pria yang menelfonmu?" tanya Harvey dengan raut wajah mematikan. Menatap tajam pada Rose yang kini diam tanpa menjawab pertanyaan kekasihnya.
Harvey kini sangat marah. Bagaimana tidak, saat ponsel Rose berdering, wanitanya itu tidak menjawab panggilan dengan alasan panggilan tidak penting. Namun, ponsel itu terus berdering hingga Harvey memaksa untuk mengangkat panggilan itu. Karena Rose yang bersikeras tak ingin menjawab panggilan telfon, membuat Harvey merebut ponsel di pangkuannya.
****
Hening.
Baik Harvey dan Rose tak berbicara. Tidak ingin lepas kendali, Harvey memilih bersandar pada kursi kemudi sembari meredam emosinya.
Lama keduanya terdiam, Harvey pun menoleh pada Rose dan menatap datar pada wajah cantik kekasihnya itu.
Harvey yang masih mengenggam ponsel Rose, kini tampak berselancar pada layar ponsel kekasihnya itu. Menekan nomor sipemanggil tadi untuk dihubungi.
Saat berdering, Harvey segera mengaktifkan loudspeaker dan menyerahkannya pada Rose yang sejak tadi diam disisinya.
" bicara dengannya dan biarkan aku mendengarkan." ucap Harvey dengan datar tanpa menoleh pada Rose.
Sambungan ponsel terhubung dan terdengarlah suara pria diseberang sana yang menyerukan nama Rose dengan nada menggoda.
__ADS_1
" sayang, kau dimana sekarang? aku ada di apartemenmu." ucap pria itu.
" I...iya." jawab Rose dengan gugup. Ia sungguh merasa takut karena Harvey menatap tajam padanya.
" sayang, kau mendengarku?" suara dari seberang sana terdengar begitu maskulin.
" sayang, kupikir kita belum menyelesaikan permainan kemarin jadi aku datang ke apartemenmu untuk melanjutkannya"
Pria diseberang sana yang tidak tau menahu terus saja berbicara panjang lebar. Harvey yang tidak polos tentu saja tau maksud perkataan pria itu dan dengan segera Ia merebut ponsel Rose lalu melempar asal.
" keluar." teriak Harvey dengan penuh amarah di dadanya.
" ku bilang keluar atau aku yang menyeretmu." ucap Harvey penuh penekanan pada setiap kata. Rose yang melihat kemarahan kekasihnya, mau tak mau segera keluar dari mobil Harvey.
Dengan hati yang penuh amarah, Harvey segera melajukan mobilnya tanpa peduli dengan Rose lagi. Ia sungguh tidak menyangka, setelah begitu banyak kasih sayang yang diberikan justru terbalaskan dengan rasa sakit yang menggerogoti jiwanya.
Hilang sudah seleranya yang ingin makan malam. Memutar balik arah, Ia mengemudikan mobilnya kembali ke apartemen untuk meredam gejolak dihati.
****
__ADS_1
Allen kini tengah berada didalam apartemen Harvey dan sedang duduk di sofa sembari memandang pada wajah cantik Rose yang berada didalam bantal sofa kesayangan suaminya.
" aku akan menyerahkan suamiku padamu." ucap Allen pada bantal dihadapannya. Ia sudah membulatkan tekad untuk menjadi janda karena bertahan juga tak akan mendapatkan apapun, pikirnya.
Ia kini berselancar pada ponselnya sembari menunggu Harvey datang lalu membicarakan keputusannya.
Tiga puluh menit menunggu, si empunya apartemen sudah datang dengan wajah datar berjalan seakan tak melihat Allen yang sejak tadi menunggu.
" tunggu, aku ingin bicara." ucap Allen namun tak mendapat respon dari Harvey.
Berjalan gontai masuk kamar, Harvey meninggalkan Allen tanpa sepatah kata hingga membuat gadis muda itu kebingungan.
Allen yang sungguh ingin menyudahi hubungannya dengan Harvey, segera menyusul pria tampan itu kedalam kamar.
" aku ingin bicara." sentak Allen karena kesal pada tingkah Harvey yang sangat cuek.
▪︎
▪︎
__ADS_1
Bersambung....