
Allen berjalan mendekat ketempat tidur. Ia memungut pakaiannya yang tadi dilempar asal oleh Harvey.
Masih dengan berurai air mata, Ia memandang wajah suaminya yang masih tertidur begitu tenang seakan tak terjadi apa-apa.
Ia pun segera berlalu, namun sekilas Ia melihat sebuah undangan di atas nakas. Diambilnya lalu dibaca membuatnya kembali menangis dalam diam.
" kau akan menikah bersama Rose tapi menghancurkan aku dulu. Kau jahat sekali padahal aku sudah begitu sabar padamu." lirih Allen dan segera berlari keluar. Ia segera meninggalkan apartemen suaminya.
Setelah kepergian Allen, Harvey membuka kelopak matanya. Ia bangun dan bersandar pada headboard sembari menatap pada pintu kamar yang sudah tertutup.
maafkan aku.
Harvey yang sejak tadi hanya berpura-pura tidur, tentu saja mendengar tangisan Allen yang berusaha di tahan namun tetap terdengar.
Ia menyesal pada perbuatannya namun, dirinya yang tadi seakan dirasuki iblis hingga tak menghiraukan tangisan dan pemberontakan istrinya.
Beralih pada sprei polosnya, Ia sungguh menyesal saat melihat bercak darah disana.
maafkan aku, setidaknya saat bercerai nanti kau akan menjadi janda seutuhnya.
Pikiran Harvey saat ini sungguh konyol. Seolah tak memiliki belas kasih, Ia hanya menaruh rasa bersalah sedikit dalam hatinya.
****
__ADS_1
Berada dalam kamarnya, Allen kini membaringkan tubuh lelahnya diatas ranjang empuk yang memberinya kenyamanan.
Tok, Tok, Tok.
Ketukan pintu membuatnya tak bergeming. Ia hanya menikmati waktunya sekarang yang akan menyelam ke alam mimpi.
" Nona, aku masuk yah." teriak Valery dari balik pintu.
" Nona, Tuan Harvey ingin bertemu. Katanya ingin berbicara hal penting."
Valery tak kunjung mendapat sahutan dari dalam kamar. Ia pun segera berlalu namun pintu seketika terbuka, menampilkan Allen yang sudah berpakaian rapi dengan memakai kacamata hitam.
" sepertinya kita harus pergi Valery, kurasa ada syuting dua jam mendatang." ucap Allen dengan santai. Terlihat sangat imut dengan kacamata hitam yang menutupi separuh wajah hingga hanya bibir mungilnya yang terlihat jelas.
Valery mengernyit bingung karena sikap Nona nya yang tidak seperti biasa.
Allen pun segera berjalan lebih dulu dan tepat saat membuka pintu, Harvey sudah berdiri dengan gaya cool nya.
" maaf, aku harus syuting." ucap Allen dan segera berlalu dengan Valery yang hanya mengikut dibelakangnya.
Harvey yang mendapati sikap cuek istrinya kini menghela nafas kasar. Sebenarnya Ia hanya ingin memberitahu pada Allen agar menghadiri peresmian perusahaannya di Surabaya.
****
__ADS_1
Waktu bergulir begitu cepat hingga tak terasa dua purnama sudah terlewati namun, hubungan Harvey dan Allen tak kunjung menemukan titik terang.
Harvey kini sudah menetap di Indonesia lagi sejak peresmian perusahaannya dua bulan lalu. Ia menjalani hari-harinya bersama asisten yang selama ini menemani.
Sedangkan Allen, Ia juga semakin sibuk dengan jadwal syuting yang padat. Selain dalam negri, Ia juga harus keluar negri beberapa minggu bersama Dawin untuk menjalani proses syuting yang mengambil tema negara asing.
Sungguh kesibukan yang di jalani Harvey dan Allen membuatnya tak pernah bertemu meski tinggal dalam satu gedung yang sama.
Harvey hanya mendengar kabar bahwa istri kecilnya pingsan di lokasi syuting beberapa hari yang lalu. Hal itu tentu saja diketahuinya karena media meliput berita artis top yang selalu menjadi trending di semua saluran tv serta majalah dan koran.
Hingga saat ini pun Ia kembali mendengar kabar istrinya melalui beberapa karyawan yang bergosip saat dirinya tiba di kantor.
▪︎
▪︎
Bersambung....
Jangan lupa dukung dan suport serta like and vote yah😄🥰😘😘😘
Follow Ig @ningsih_official07
*******
__ADS_1
Tolong semangatin Mommy selalu ya buat berkarya terus.
❤ SAYANG SEMUA ❤