
Papa Harvey menggeleng pelan. "Tiga wanita dirumah ini, semua selalu meninggalan meja makan berturut - turut." gerutu Papa Harvey pada istri dan kedua putrinya yang selalu meninggalkannya lebih dulu.
Disatu sisi, Mama Allen kini sudah berada diluar rumah. Ia memakai kacamata hitamnya dan menenteng salah satu koleksi tak brandednya yang berwarna navi.
" Kak Allen." sapa Gery yang baru saja keluar dari mobilnya.
" Oh, Gery. Ada apa datang sepagi ini?" tanya Mama Allen tersenyum menatap putra tampan mantan manager sekaligus asistennya.
" Aku ingin memberikan naskah baru." tutur Gery menyerahkan beberapa lembar kertas pada Mama Allen.
" Naskah baru?" Mama Allen mengernyit.
" Iya, Kak. Alur cerita film yang Kakak bintangi diubah karena pemeran pendukungnya sedang ada masalah pribadi jadi tidak bisa ikut syuting." jelas Gery seadanya.
" Oh, baiklah. Terima kasih. Kau pulang saja karena aku ingin menemui Halbert dulu. Nanti aku akan menghubungimu jika berangkat ke lokasi syuting." Mama Allen segera berlalu.
__ADS_1
Ya, seperti itulah Mama Allen menjadikan Gery sebagai managernya. Ia hanya akan menghubungi Gery disaat dirinya tiba dilokasi syuting, diluar pekerjaan dirinya lebih memilih melakukan semuanya seorang diri, sebab Ia sudah berjanji selama menjadi seorang Ibu bahwa dirinya akan selalu mandiri— tanpa merepotkan orang sekitarnya.
***
Perusahaan Healty Contribution.
Tiba diperusahaan suaminya, Mama Allen segera masuk kedalam sana. Langkah kakinya begitu anggun, serta dirinya seakan memancarkan pesona yang begitu elegant hingga setiap pasang mata yang dilewati terus berfokus padanya.
" Dia istri presdir, kan."
" Suaminya pengusaha dan istrinya artis. Serasi sekali mereka."
Semua pegawai Papa Harvey saling sahut - menyahut menyambuti kedatangan Nyonya Presdir mereka. Semua terpana pada kecantikan yang dimiliki wanita dewasa itu yang sudah berusia tiga puluh sembilan tahun.
" Tapi hubungannya dengan presdir sangat miris. Mereka menikah sudah dua puluh tahun lebih dan belum punya anak sama sekali. Kasihan sekali presdir kita, jangan - jangan sudah punya anak diluar sana."
__ADS_1
Deg.
Langkah kaki Mama Allen terhenti. Ia membeku ditengah - tengah keramaian para pegawai kantor. Suara samar yang tadi didengar begitu menyesakkan dadanya. Ingin rasanya Ia bersuara dengan lantang, memberi pengumuman bahwa dirinya dan sang suami dikarunia empat anak selama masa pernikahannya yang hampir dua puluh lima tahun.
Tak ingin merasakan sakit lebih dalam karena gunjingan para bawahan suaminya sendiri, Mama Allen kembali melanjutkan langkahnya menuju lift yang akan membawa kelantai dimana ruangan direktur keuangan berada.
***
Tiba dilantai lima, Mama Allen segera keluar dari lift dan hendak menemui Halbert— sang direktur keuangan. Namun belum sempat dirinya menginjakkan kaki didalam ruangan Halbert, sesosok pria muda nan tampan muncul dibelakangnya dan menepuk pelan bahunya.
Sontak Mama Allen menoleh, dan tersenyum saat melihat siapa orang itu. Tanpa aba - aba lagi Ia segera memeluk pria gagah itu dengan erat— seolah ada rindu yang sudah membuncah didalam dadanya.
" Aku sungguh merindukanmu." serunya yang masih dalam posisi memeluk orang itu.
Tanpa disadarinya, pegawai yang sempat mengguncing pedas dirinya— ternyata tengah mengamati dengan seksama perlakuannya pada pria gagah itu. Pegawai itu pun tak hanya melihatnya saja, Ia bahkan mengabadikannya dalam sebuah aplikasi video.
__ADS_1
" Tidak kusangka, ternyata alasan dia tidak mau punya anak karena belum siap. Dia ternyata berpacaran dengan Pak direktur keuangan." lirihnya dengan kamera ponsel mengarah pada Mama Allen.