Gadis Kecil Milik Tuan Harvey

Gadis Kecil Milik Tuan Harvey
Bab. 108~ SEASON 2


__ADS_3

Ainsley tak bergeming. Ia masih ditempat yang sama dengan pandangan terarah dititik yang sama juga. Keterkejutannya kian menjadi saat melihat jelas cincin permata putih yang terpasang dijari manis gadis cantik itu. Dan sama dengan Haven, yang juga mengenakan cincin.


" Kalian bertunangan?" tanya Ainsley mendelik tajam pada kakaknya.


Hening.


Haven tak mau melihat wajah adiknya dan juga tak mau memberi jawaban.


" Apa kau adik suamiku?"


Deg.


Suara lembut mengayun, menyahut tanpa permisi. Gadis cantik yang perlahan mendekat itu bersuara seraya menatap lekat pada Ainsley.


Ainsley tentu terkejut mendengar ucapan gadis itu. " suami?" dengan suara lirih Ainsley berucap.


" Yah, Sley. Keluarlah saat aku masih meminta dengan baik." tak sanggup bungkam lagi, Haven bersuara. Ia meraih tangan adiknya dan menyeret paksa Ainsley agar keluar dari apartemennya.


Sementara gadis cantik Haven, hanya diam mematung ditempat melihat suaminya berlalu dengan membawa Ainsley.

__ADS_1


" Lepaskan aku." Ainsley meronta-ronta, meminta agar Haven melepaskannya. Namun kakaknya itu baru melepaskan cekalan pergelangan tangannya saat sudah berada diluar apartemen.


" Kau sudah menikah?" suara berintonasi tinggi itu menggema. Ainsley yang tadi berusaha menahan diri kini tak sanggup lagi bersembunyi dengan rasa penasarannya.


" Itu bukan urusanmu." ucap Haven dengan santai.


" Yah, bajingan." sentak Ainsley dengan kasar.


Umpatan yang keluar dari bibir tipis Ainsley sontak membuat Haven menatap padanya. Haven seketika tak dapat berkutik saat makian dari adiknya itu terdengar kasar. Dia tau kalau adiknya sedang marah.


" Itu bukan urusanku kau menikah atau tidak karena aku memang bukan wanita yang melahirkanmu. Hanya saja kita dari dalam kandungan yang sama. Jadi memang aku tidak pantas ikut campur, tapi Mama, bagaimana kau menikah tanpa memberitahu dia?" omel Ainsley.


Haven yang sudah habis kesabaran meneriaki adiknya dengan keras. Menghela nafas, ia berusaha menetralkan kembali perasaannya dan tanpa aba-aba masuk kedalam apartemen lalu membanting pintu begitu saja.


Ditinggalkan tanpa penjelasan, Ainsley semakin merasa kesal. Masih banyak yang ingin diucapkan, namun melihat kakaknya yang pergi tanpa berbicara sepatah kata membuat Ainsley tak dapat berkutik.


Menghentak sepatu hilsnya pada lantai marmer, Ainsley pun segera pergi meninggalkan apartemen kakaknya.


*****

__ADS_1


Diperjalanan pulang, Ainsley masih tak bisa menenangkan pikirannya. Otaknya masih berfikir keras soal wanita diapartemen kakaknya. Saking larutnya dalam pikiran sendiri, ia sudah tak memperhatikan sang sopir yang sejak tadi melirik melalui spion.


Tak lama Ainsley merogo tasnya dan meraih benda pipih bersegi panjang itu. Berselancar pada layar ponsel, dirinya tengah mencari kontak Halbert untuk menelfon pria yang selalu membantunya itu.


" Halbert?" sambungan terhubung, Ainsley langsung bersuara.


" Ada apa?" balas Halbert.


" Apa benar Haven sudah menikah?" tanya Ainsley yang masih penasaran.


" Humm. Sepertinya begitu. Aku melihat gadis itu saat dipengadilan. Sepertinya mereka menikah karena suatu alasan." tutur Halbert.


Ainsley menghela nafas. Tak ia sangka bahwa Haven sudah menutupi hal sebesar ini dari semua orang terutama Papa Harvey dan Mama Allen.


" Baiklah. Aku tutup." ucap Ainsley kemudian segera mematikan panggilannya.



__ADS_1


Disatu sisi, ada seorang wanita cantik dewasa. Dasyah, wanita itu tengah mengemudikan mobilnya ditengah malam seorang diri. Raut wajahnya bahagia, senyum tipisnya tak pernah hilang sejak beberapa hari ini. Seolah ada sesuatu yang menjadi penghiburnya.


__ADS_2