Gadis Kecil Milik Tuan Harvey

Gadis Kecil Milik Tuan Harvey
Bab. 84~ SEASON 2


__ADS_3

Seperti setiap tahun, tak ada yang berubah. Meski sebagian menghujat, namun sembilan puluh persen masih mengidolakan Mama Allen hingga bahkan saat ini— setelah lima bulan berlalunya ulang tahun aktris top itu, kado tetap terus berdatangan dari luar kota dan bahkan dari luar negeri.


Hingga saat ini Mama Allen masih kebingungan harus menyimpan sebagian hadiah itu dimana, sebab di sudut kamarnya sudah dipenuhi oleh berbagai kado dari fans. Pagi ini pun sama, masih ada kiriman kado dari beberapa penggemar.


" Tika, bagikan saja sebagian untuk pelayan. Dan ambillah juga untukmu jika ada yang kau sukai." ucap Mama Allen pada kepala pelayannya. Seperti itulah Mama Allen, terkadang menerima beberapa kado dan sisanya dia bagikan kepada pelayannya.


Tika yang mendengar penuturan Nyonya majikannya kini tersenyum lebar, sebab sama seperti tahun-tahun kemarin— dirinya akan panen banyak hadiah. Ia pun segera berlalu— meninggalkan ruang makan dengan kecepatan kilat.


" Mama.. Mama akan keluarkan?" tanya Alexa disela-sela makannya.


" Iya, kenapa?" Mama Allen menatap putri cantiknya.


" Tolong biarkan aku berangkat bersama Mama. Aku tidak mau pergi dengan supir." seru Alexa.


" Tapi nak... "

__ADS_1


" Tidak perlu menurunkan aku didepan kampus, Ma. Diluar gerbang juga tidak apa-apa." potong Alexa yang mengerti maksud Mamanya yang khawatir akan ketahuan publik.


Mama Allen tersenyum mendengar penuturan putrinya. "Baiklah, tapi Mama akan menurunkanmu tepat didepan pintu masuk."


" Benarkah? Thank you, Mom." pekik Alexa dengan girang.


" Sayang, aku sepertinya harus ke Amerika dulu." sahut Papa Harvey ditengah perbincangan istri dan putrinya.


Ucapan pria paruh baya itu sontak membuat kedua wanita cantik itu menoleh dengan menampilkan raut wajah tak bersahabat.


" Kenapa tiba-tiba, Pa ?" celetuk Alexa, sedangkan Mama Allen hanya diam mengamati suaminya.


Mendengar ucapan suaminya, Mama Allen hanya terdiam. Dia cukup mengerti perihal masalah seperti ini, sebab bukan satu kali dirinya mendengar kabar tidak baik dari perusahaan di Amerika.


__ADS_1



Kantor Kejaksaan Tinggi.


Disebuah ruangan nuansa cat putih berpadu silver, tampak seorang pria muda yang sangat gagah dengan tinggi tubuh yang proposional serta wajah yang sangat tampan. Gestur tubuh berwibawa dan suara yang maskulin— menambah daya tarik seseorang kepadanya. Dia adalah Haven Murray, jaksa muda gila yang diberi julukan oleh masyarakat dimedia.


Pria muda itu banyak berubah setelah beberapa bulan belakangan, dari model rambutnya serta cara bersikapnya. Penampilannya pun sudah jauh berbeda. Bukan lagi pria yang mendirikan usaha biro jodoh ilegal, melainkan seorang pria yang sangat sibuk setiap saat. Bahkan tak jarang dia akan bermalam dikantor untuk menyelesaikan pekerjaannya.


Kacamata bertengger dihidung mancung— Haven saat ini tengah memeriksa berkas kliennya yang akan dijadwal sidangkan besok. Begitulah sosok putra kedua Harvey itu, kecerdasan sang kakek menurun padanya hingga diusia muda sudah meraih pencapaian luar biasa.


Ceklek.


" Ven, makan malam tim nanti malam.. kau ikut kan?" seru rekan kerja Haven yang langsung masuk kedalam ruangan pria muda itu tanpa mengetuk.


" Entahlah." balas Haven tanpa menoleh sama sekali.

__ADS_1


" Iss.. kau itu. Jangan terlalu tekun, nanti kau jadi gila. Jaksa itu tidak perlu terlalu bekerja keras karena jabatannya sudah tinggi." seloroh pria itu yang bernama Beni.


" Karena jabatan seorang jaksa tinggi, maka kita harus selalu melakukan yang terbaik untuk memuaskan masyarakat." ralat Haven.


__ADS_2