
Peluru meluncur, terarah pada Halbert namun sang gadis asing menghalau dengan cepat hingga mengenai tepat pada dadanya.
Semua refleks tercengang, beberapa reporter dan wartawan tentu tak ingin mengabaikan moment itu hingga dengan cepat memotret.
" Aish, sial." umpat gadis itu yang masih sanggup menahan rasa sakit didadanya. Tanpa aba-aba melayangkan tendangan hingga membuat senjata Dasyah terlempar jauh. Ia lalu memukul Dasyah dengan brutal hingga terkapar tak berdaya diatas lantai.
Dan disaat itu juga, beberapa pengawal lelaki langsung menghampiri dan mengamankan Dasyah. Namun gadis asing itu, berlalu dengan cepat tanpa memperdulikan rasa sakit ditubuhnya.
" Haven, pergilah dengan yang lain. Aku harus menyusul orang itu." seru Halbert segera meninggalkan ruang sidang.
Sementara Haven segera mendekat pada Mamanya, memeluk erat wanita paruh baya itu yang sejak tadi terlihat ketakutan. Papa Harvey, Ainsley dan Alexa juga menghampiri. Mereka lega karena tak ada anggota keluarga yang terluka.
" Semua baik-baik saja, Ma. Tenanglah." tutur Haven menenangkan Mamanya.
Sementara disatu sisi, Halbert kini tengah berjalan disepanjang koridor— mencari wanita tadi yang menghilang begitu cepat. Tepat diujung koridor, Halbert melihat tetesan darah diatas lantai. Ia mematung ditempat, mengangkat pandangan dan menatap pada ruang kosong yang terbuka.
__ADS_1
Buru-buru Halbert masuk dan benar saja, gadis asing itu berada didalam. Tubuhnya terkulai lemah disudut ruangan, topi dan masker sudah tak menutupi wajah. Hanya beberapa helai rambut berantakan yang menghalangi pandangan Halbert. Segera Halbert menghampiri.
" Kau terluka, kenapa kau lari." seru Halbert terlihat panik.
Tak ada respon, wanita itu tak berbicara dan terus memegangi dadanya yang terkena tembakan.
Melihat itu, dengan memberanikan diri Halbert merapikan anak rambut gadis itu yang menutupi wajahnya. Sedetik Halbert terpaku setelah melihat wajah asli sang gadis.
Sangat cantik, begitulah kata yang pertama kali terlintas dibenak Halbert setelah melihat dengan jelas.
" Sakit.. tolong aku." lirih gadis itu yang setengah sadar.
" Tidak.. aku tidak boleh kerumah sakit." suara gadis itu sangat lemah. Dia menolak dengan wajah dan bibir yang sudah pucat.
" Tapi kenapa?" Halbert menautkan kedua alisnya, merasa bingung pada ucapan gadis asing itu.
__ADS_1
" Tinggalkan aku.. aku akan baik-baik saja." seru gadis itu kemudian.
" Tidak, kau jelas tidak baik-baik saja." sergah Halbert, seraya melepas dasinya dan menjadikannya gulungan untuk menyumpal luka gadis itu agar tak mengeluarkan banyak darah.
" Aku akan baik-baik saja. Tinggalkan aku.. aku akan baik-baik saja." gadis itu mengulangi kalimat yang sama. Semakin banyak bicara, suaranya semakin terdengar lemah.
" Aku harus hidup.. aku harus melindungimu selalu." lirih gadis itu yang tanpa sadar mengungkap rahasianya.
Deg.
Halbert seketika membeku mendengar penuturan gadis cantik didepannya. Sungguh ia terkejut, dan juga penasaran akan alasan gadis asing itu yang harus melindunginya.
" Apa maksudmu.. apa kau disuruh orang lain?" tanya Halbert.
" Tinggalkan aku.." gadis itu tak menanggapi ucapan Halbert dan justru meminta pria gagah itu untuk lekas pergi.
__ADS_1
Namun Halbert dengan keras kepala tetap memilih tinggal disisi wanita sekarat itu. Ia tentu tak tega bila pergi begitu saja, padahal gadis itu dengan sukarela sudah menyelamatkan dirinya dari serangan Dasyah.
" Mereka akan datang menjemputku, pergilah." tambah gadis itu saat merasa Halbert tak juga bergeming dari tempatnya.