Gadis Kecil Milik Tuan Harvey

Gadis Kecil Milik Tuan Harvey
Bab. 96~ SEASON 2


__ADS_3

" Suami?" Halbert kebingungan lalu tersadar. Dia pun melepaskan Haven dengan pandangan terarah pada gadis muda disamping adiknya.


Halbert terus mengamati hingga sepersekian detik terkejut saat melihat sebuah cincin melingkar dijari manis gadis itu. Begitu juga dengan Haven.


" Kau sudah menikah?" kembali Halbert bertanya kepada adiknya dan tak diberi jawaban.


" Pak, persidangan akan dimulai."


Disaat Halbert terjebak dalam kebingungan, muncul sesosok pemuda yang menyela. Pemuda itu adalah anak magang yang selalu berada disisi Haven.


" Baiklah." seru Haven. Sebelum berlalu, dia menyempatkan mengelus puncuk kepala wanitanya.


" Jika kau merasa tidak enak badan, tunggulah aku diruanganku." pesannya sebelum pergi.


Perginya Haven, Halbert juga menyusul namun sebelum itu dia menatap sekilas pada gadis cantik itu yang terlihat sedikit pucat.




Diruang Persidangan.

__ADS_1


Waktu menegangkan bagi semua orang, terkhusus para wartawan yang hadir dibangku persidangan. Baik diluar ataupun didalam ruang sidang, kini diramaikan oleh media. Mereka semua sudah siap mengutip hasil sidang pertama Allen Dawnson.


Disaat ketukan palu terdengar tiga kali, sidang kasus kematian aktris Fresya resmi dibuka, dan kini Mama Allen tengah duduk kursi tersangka. Hatinya berdebar, terlebih saat melihat putranya berdiri dikursi jaksa— siap memberikan pernyataan.


" Silahkan jaksa penuntut, bacakan tuntutan tersangka." titah Pak Hakim dengan aura dingin.


Haven yang dipersilahkan kini berdiri dengan tatapan mengarah kepada Mamanya. Iba muncul saat melihat air mata Mamanya luruh begitu saja. Tapi buru-buru Haven memalingkan wajahnya.


" Korban bernama Fresya, pada hari jumat siang dinyatakan meninggal dunia diapartemennya sendiri. Pelaku pembunuhan tragis itu hanya mengarah kepada tersangka Allen Dawnson." terang Haven melirik sekilas kepada Mamanya.


Pernyataan pertama Haven langsung dikutip oleh wartawan yang ada ditempat.


" Tersangka Allen Dawnson, apakah siang hari benar anda menemui korban mendiang Fresya?" tanya Haven dengan suara lantang.


" I.. iya." jawab Mama Allen dengan suara bergetar.


" Dari keterangan yang saya dapat, anda menemui korban karena merasa kesal. Saat anda tiba diapartemennya, anda langsung melakukan pembunuhan dan menghubungi bantuan medis untuk memanipulasi kejahatan anda. Benar?" tanya Haven lagi.


" Tidak.. aku datang ke apartemen Fresya tapi dia sudah.."


" T E R S A N G K A, anda tidak perlu menjelaskan. Cukup menjawab iya atau tidak. Pengacara yang akan membela anda."

__ADS_1


Deg.


Suara Haven menggema, intonasi meninggi itu membuat Mama Allen ketakutan. Terlebih lagi ini adalah kali pertamanya ada dalam situasi sulit seperti sekarang.


Halbert yang juga menghadiri persidangan merasa kesal saat Haven meneriaki Mamanya dengan lantang. Ainsley dan Alexa serta Papa Harvey yang tidak ketinggalan, juga merasa emosi pada Haven. Begitu juga dengan Chelsea— pengacara cantik keluarga Murray.



" Tidak." jawab Mama Allen berusaha untuk tidak menitikkan air mata.


" Tapi dari bukti yang didapatkan, hanya sidik jari tersangka yang ditemukan di TKP." seru Haven memperlihatkan selembar kertas yang membuktikan hasil laporan. Ia lalu mengajukan laporan itu kepada hakim.


" Pernyataan diterima." ucap Hakim setelah membaca hasil laporan dari jaksa penuntut.


" Pengacara pembela, silahkan." Pak Hakim kemudian meminta Chelsea untuk membacakan argumen sebagai pengacara pembela Mama Allen.


" Menurut dari hasil laporan autopsi, korban meninggal dunia dua puluh menit sebelum bantuan medis datang. Itu berarti, tersangka datang sepuluh menit setelah meninggalnya korban. Jadi tersangka tentu bukan pelaku, dan justru tersangkalah yang berusaha membantu dengan menghubungi bantuan medis." ujar Chelsea mengemukakan argumennya.


" Bisa berikan bukti?" tanya Pak Hakim.


Chelsea yang dimintai seketika diam. Karena sejujurnya rekaman cctv di apartemen Fresya menghilang begitu saja saat dia melakukan penyidikan.

__ADS_1


__ADS_2