Gadis Kecil Milik Tuan Harvey

Gadis Kecil Milik Tuan Harvey
Bab. 46


__ADS_3

Tanpa disadari Allen, Harvey terus saja memandanginya dengan penuh kasih.


" dan kau tau.." ucapan Allen menggantung saat Ia beradu pandang dengan suaminya. " ke...kenapa kau menatapku seperti itu?" canggung tercipta saat Harvey tak juga memutus pandangannya dari Allen.


" Aku hanya bangga padamu dan juga Aku senang karena memilikimu." ucap Harvey dengan senyum tipisnya. Ia menghujani ciuman pada wajah Allen lalu mengecup singkat bibir tipis istrinya.


" terima kasih. Aku tersanjung dan Aku hanya memerlukanmu untuk terus melangkah."


Allen berkata dengan begitu tulus sembari menatap lekat manik mata suaminya. Tangan mungilnya meraba dada bidang Harvey dan tanpa aba-aba Ia mencium bibir suaminya.


Memejamkan matanya, Harvey dapat merasakan lembutnya bibir Allen yang menyentuh bibirnya. Tangannya pun meraih tengkuk sang istri hingga ciuman itu berubah menjadi ciuman panas.


Kembali menikmati percintaan panas, Harvey dan Allen pun lupa pada waktu yang masih siang hari.


****


2 Bulan Berlalu.


Hari-hari terlewati begitu cepat dan usia kandungan Allen kini memasuki bulan ke delapan. Mengandung benih suaminya di usia yang masih sangat muda, membuat Allen begitu kesulitan. Bahkan, setiap malam Ia akan bolak-balik ke kamar kecil.


Seperti saat ini, ditengah malam yang pekat. Ia sedang berada didalam toilet bersama Harvey yang selalu setia menemani.


" sayang, Aku mau mengatakan sesuatu. Sebenarnya Aku sudah lama merencanakan ini tapi, Aku khawatir kau akan menolak." Harvey menjeda sesaat, sembari mengamati sang istri.

__ADS_1


" sayang, bagaimana jika kita pindah ke mansion. Disana ada Daddy dan Mommy yang akan menjagamu jika Aku ke kantor."


Harvey memberi saran pada sang istri. Ia kini tengah memegang erat tangan serta mengamati istrinya yang sedang buang air kecil.


" Iya. Tapi, kau saja yang kemasi pakaian." sahut Allen setelah selesai pada aktivitasnya.


Allen segera beranjak dan Harvey pun dengan sigap menuntun sang istri. Wajah Harvey sendu, Ia menatap iba pada istrinya yang tampak begitu kesusahan selama usia kandungan yang semakin tua.


Menuntun sang istri kembali ke tempat tidur, Harvey membantu Allen untuk berbaring.


" sayang, Aku tidak mau tidur. Rasanya sesak sekali. Bisa buatkan Aku susu hangat." Pinta Allen dengan wajah murung, menahan sesak di dadanya.


" baiklah." ucap Harvey dan segera berlalu.


****


Menyunggingkan senyum tipis, hati Harvey bergetar saat melihat bagaimana selama ini istrinya berjuang– melewati masa kehamilan.


Berjalan mendekat pada wanitanya, Harvey memperbaiki posisi Allen dengan benar lalu, melabuhkan kecupan ringan dikening istrinya.


Memastikan istrinya tertidur dengan nyenyak, Harvey pun segera menyusul– tidur disamping sang istri.


" kau pasti sangat tersiksa selama ini. Jika Aku bisa memutar waktu, Aku tidak akan gegabah menyentuhmu sampai kau hamil seperti ini."

__ADS_1


Harvey berbaring disebelah Allen, berbicara dengan suara pelan seraya menatap intens wajah istrinya yang terlihat begitu tenang.


" jangan seperti itu." Suara lembut dari Allen sontak saja membuat Harvey terkejut. Allen membuka kelopak matanya dan beralih menatap pada suaminya.


" anak ini memang ingin hadir, itulah mengapa Aku bisa mengandung. Aku justru akan menambah lagi agar rumah kita nanti jadi ramai." tambahnya dengan senyuman manis.


Harvey membalas senyum wanitanya dengan tatapan berbinar. Ia sungguh tidak menyangka bahwa istrinya yang masih remaja sudah memiliki pikiran dewasa.


Menyentuh perut buncit Allen, Harvey mengelus pelan disana tanpa melepas pandangannya dari wajah Allen.


" oh, dia bergerak." seru Allen dengan wajah bahagia.


" benarkah? Berarti dia ingin bertemu Daddynya selalu." celetuk Harvey dengan semringah.


" hum, bukan Daddy. Papa!" timpal Allen menatap nanar pada suaminya.


" tapi, apa bedanya sayang? Artinya tetap sama kan."


Harvey mengajukan protes karena menurutnya kedua panggilan itu tetap memiliki arti yang sama.


" tapi Aku lebih bahagia kalau anak kita memanggil Papa dan Mama." celoteh Allen dengan tawa kecilnya, mengingat bagaimana Ia akan berbahagia saat bayinya lahir.


Perbincangan Harvey dan Allen akhirnya selesai saat dimana Harvey memilih mengalah.

__ADS_1


__ADS_2