
" Kak, dia Ibu kan?" suara lemah lembut dari wanita cantik yang berdiri disisi Haven, mengajukan tanya.
" Hum.. " jawab Haven yang beralih menatap gadisnya.
" Sebaiknya kau istirahat, aku akan menyusul kekamar nanti. Pekerjaanku masih banyak, jadi jangan tunggu aku dan tidurlah duluan." tutur Haven dengan lembut kepada wanita cantiknya.
Setelahnya Ia beranjak dan mengelus puncuk kepala gadis itu. Dirinya segera berlalu kearah ruang kerja dan setibanya didalam dia sudah mendapati panggilan dari pimpinan ketua kejaksaan.
Haven segera menjawab ponselnya dengan sebelumnya menghela nafas— siap mendengarkan apa yang akan disampaikan oleh pimpinannya itu.
" Haven, apa aku mengganggumu?" ujar seorang pria paruh baya diseberang sana.
" Tidak, kenapa Bapak menelfonku?" tanya Haven dengan sopan.
" Seseorang datang menemuiku barusan. Keluarganya baru saja dibunuh, dan dia ingin menindak lanjuti perkara ini kepada hukum. Dia memintaku untuk membuatmu menjadi jaksa penuntutnya dipersidangan." jelas sang pimpinan.
Hening. Haven tak bersuara sebab Ia tengah memikirkan apa yang akan dikatakan pimpinannya lagi. Sejujurnya Haven khawatir jika ketakutannya menjadi nyata.
" Kau mungkin sudah mendengar berita yang sedang viral. Aktris Allen Dawnson akan menjadi lawanmu dipengadilan. Aku tidak menyuruhmu memilih karena ini adalah kewajibanmu sebagai jaksa. Temui dia besok dan lakukan introgasi pertamamu."
__ADS_1
Tut. Tut. Tut.
Pimpinan ketua kejaksaan berbicara terang-terangan soal maksud tujuannya menghubungi jaksa terbaiknya. Setelahnya dia memutus panggilan begitu saja karena tak ingin mendengar penolakan Haven. Dia cukup tau bagaimana tempramen Haven yang dengan seenaknya memilih kasus.
•
•
Kantor Polisi.
Malam semakin larut dan kini Papa Harvey masih berada ditempat yang sama. Halbert yang berpamitan tadi tak kunjung kembali hingga beberapa jam sudah terlewati.
" Nak, apa yang terjadi?" Mama Allen seketika panik melihat kondisi putranya.
" Halbert, ada denganmu nak?" timpal Papa Harvey.
" Bukan apa-apa. Aku hanya ingin memberitahu, pengacara bilang surat jaminannya hanya bisa diproses dalam dua puluh empat jam. Dan.. " Halbert terlihat ragu untuk melanjutkan ucapannya.
" Kenapa, nak?" desak Mama Allen merasa tak sabar pada apa yang akan dikatakan putranya.
__ADS_1
" Pengacara kita kecelakaan. Dia sekarang kritis dirumah sakit." lanjut Halbert sukses membungkam kedua orang tuanya. Papa Harvey dan Mama Allen tak mampu berkata lagi. Raut wajah keduanya pun seketika murung.
" Kurasa ini bagian dari jebakan pembunuhan Fresya." tambah Halbert.
" Papa, Mama... kalian tidak perlu khawatir. Pengacara kita punya keponakan yang sudah menjadi pengacara selama dua tahun ini. Dia yang akan menggantikan pamannya."
Mendengar penuturan putranya, Papa Harvey merasa sedikit lega. Ia pun beralih menatap istrinya dan memperlihatkan sebuah senyuman agar Mama Allen tak merasa khawatir.
" Sayang, pulanglah. Ini sudah tengah malam, dan besok kau harus bekerja juga." seru Mama Allen dengan lembut.
" Tidak, Sayang. Mana mungkin aku meninggalkanmu ditempat ini sendirian. Aku akan tetap bersamamu sampai surat jaminannya keluar." tolak Papa Harvey yang masih tersenyum.
Bukan tanpa sebab Papa Harvey tersenyum ditengah masalah yang dialami karena hanya dengan senyum itulah dirinya bisa meyakinkan sang istri bahwa semua akan baik-baik saja dan juga agar rasa khawatir nan cemas itu terhempas jauh.
" Sayang, kau harus pulang. Alexa membutuhkan salah satu dari kita saat ini." ucap Mama Allen yang sejak tadi cemas akan kondisi putri bungsunya.
Papa Harvey terdiam, pikirannya yang terlalu kacau membuatnya melupakan putri cantiknya dirumah.
" Baiklah." dengan berat hati Papa Harvey akhirnya mengiyakan. Dan sebelum berlalu dia mengecup punggung tangan istrinya dengan lembut.
__ADS_1