Gadis Kecil Milik Tuan Harvey

Gadis Kecil Milik Tuan Harvey
Bab. 93~ SEASON 2


__ADS_3

" Hei, Haven. Aku melihatmu dikerumuni diparkiran. Kau sungguh menerima kasus Allen?"


Pria yang tak lain adalah Beni, langsung bertanya pada Haven saat tak sengaja berpapasan didepan lift.


" Humm." jawah Haven seadanya dan segera masuk kedalam lift serta Beni yang ikut menyusul karena ruangan mereka berada disatu lantai yang sama.


" Wah, apakah pimpinan yang memerintah?" tebak Beni yang hanya dijawab anggukan oleh Haven.


" Huh, dasar. Pimpinan kita selalu pilih kasih. Saat kasusnya besar pasti kau yang dicari, tapi saat kasusnya hanya selembar tissue pasti jaksa lain yang dapat." gerutu Beni yang merasa kesal.


" Jaga bicaramu, pimpinan bisa mendengar." ujar Haven memperingatkan temannya.


" Ah, kapan kau akan menyelidiki pembunuhan Fresya?" tanya Beni kemudian.


" Nanti siang setelah surat izinku keluar." jawab Haven.


Ting.


Tak terasa keduanya sudah tiba dilantai tujuan. Mereka segera keluar dari dalam lift dengan pembicaraan yang masih berlangsung.

__ADS_1


" Kau akan kesana sendirian?" tanya Beni disela-sela langkahnya menuju ruangannya.


" Tidak. Aku akan mengajak anak magang itu." jawab Haven.


" Baiklah. Semangat." Beni menepuk bahu Haven sebelum mereka berpisah arah.




Kediaman Murray.


Tak hanya melalui perjalanan yang macet, Halbert yang mengemudi hingga tiba dirumah harus berjuang melewati wartawan dan reporter yang berjaga didepan gerbang hunian mewah Murray.


Sementara Papa Harvey dan Mama Allen yang kini sudah berada didalam rumah mulai merasa pusing karena desakan diluar gerbang. Bahkan semua pengawal Papa Harvey harus berjaga semalaman didepan gerbang.


" Mama, kami ada untuk Mama.. tidak perlu khawatir." seru Ainsley yang duduk disamping Mamanya.


Ya ketiga anak Mama Allen kini berada disisinya. Ainsley mengambil cuti begitu juga dengan Alexa karena keduanya ingin menemani Mamanya yang sedang dalam kondisi tidak baik-baik saja. Sementara Halbert, dia harus sibuk mengurus perusahaan juga masalah yang sekarang. Sedangkan Papa Harvey, pria paruh baya itu tak berniat melakukan aktivitasnya seperti biasa karena hanya fokus menemani istrinya hingga mereka semua kini berkumpul diruang keluarga.

__ADS_1


" Halbert, kapan sidang pertama berlangsung?" tanya Papa Harvey.


" Dua hari lagi." jawab Halbert.


" Bagaimana dengan pengacara kita?" tanya Papa Harvey lagi.


Belum sempat Halbert menjawab, dari luar ruangan tiba-tiba terdengar ketukan pintu. Dan tak lama muncul sang kepala pelayan.


" Nyonya, Tuan, ada Nona Chelsea yang ingin bertemu." lapor Tika dengan sopan.


" Chelsea?" kening Papa Harvey mengerut karena namanya itu terdengar asing.


" Dia pengacara baru kita, Pa." sahut Halbert yang mengerti akan kebingungan Papanya.


" Suruh dia masuk." titah Halbert pada kepala pelayan.


Tika segera hengkang dan tak lama muncul sesosok wanita muda nan cantik. Senyuman lebar ditampilkan wanita itu untuk semua yang berada didalam ruang keluarga. Terlihat sekali bahwa siumpunya senyum sangat ramah dan mudah mengakrabkan diri pada orang asing.


" Saya Chelsea, pengacara baru Murray. Paman saya masih kritis, dan belum ada kabar baik dari dokter. Jadi mungkin saya yang akan menangani kasus ini sampai tuntas." tutur Chelsea dengan ramah.

__ADS_1


" Baiklah, silahkan duduk." seru Halbert.


Pengacara cantik itu segera bergabung, dan mulai berbincang dengan semua anggota keluarga Papa Harvey.


__ADS_2