Gadis Kecil Milik Tuan Harvey

Gadis Kecil Milik Tuan Harvey
Bab. 112~ SEASON 2


__ADS_3

" Hei, aku bilang bangun." teriak Halbert namun tak mendapat respon. Helaan nafas kasar terdengar jelas, Halbert lalu berjongkok hingga mensejajarkan diri dengan pria itu.


Menarik rambut orang didepannya, Halbert membuat wajah pria itu terlihat. Dan betapa terkejut dirinya karena wajah didepannya menjadi pucat serta bibir berwarna biru. Memeriksa nadi pria itu, Halbert seketika down saat tak ada aliran darah yang dirasakan.


" Sial, dia meminum racun." umpat Halbert setelah mengamati intens wajah pria itu.


Dengan kasar Halbert menghempaskan kepala pria itu dan beranjak dengan merogo ponsel didalam saku celananya. Ia lalu menghubungi Papanya dengan kekesalan dihati.


" Halo, Pa."


" Hum, ada apa? Kau sudah sampai dipengadilan."


" Tidak"


Halbert ragu menyampaikan berita buruk itu kepada Papanya hingga ia memilih diam sejenak seraya mengusap kasar wajah tampannya.


" Halo, Halbert?" Papa Harvey diseberang sana berbicara saat merasa tak ada suara.


" Kekasih Fresya, dia meninggal." seru Halbert terlihat putus asa.


" Apa.. " keterkejutan Papa Harvey terdengar jelas dibalik telfon. Halbert yang tak ingin merasakan keputusasaan sang Papa segera menutup panggilan ponsel tanpa berbicara sepatah kata.


Dia lalu kembali menoleh dan menatap pria asing itu yang terbaring kaku diatas lantai. Ingin rasanya ia memukul pria itu untuk menumpahkan kemarahannya, namun semua tak mungkin dilakukan pada orang yang tak bernyawa lagi.

__ADS_1




Disatu tempat, didalam ruangan Haven, tampak pria muda itu tengah bersiap-siap untuk segera pergi keruang sidang. Ia memakai jubah kebesarannya seraya menatap keluar jendela.


Pandangannya kosong, seakan ada sesuatu dipikirannya.


Ceklek.


Lamunan Haven terhenti saat tiba-tiba pintu ruangannya dibuka oleh pemuda magang yang selalu menemaninya.


" Pak, ada surat dari keluarga korban Fresya. Tapi Kepala Pimpinan yang memberikanku dan berpesan agar suratnya dibaca saat sidang dimulai." ujar pemuda magang itu— menaruh amplop diatas meja atasannya.


" Kalian sungguh menantangku." lirih Haven.


" Ada apa, Pak?" pemuda magang bersuara saat melihat pria didepannya berbicara dengan volume suara yang dikecilkan.


" Bukan apa-apa." ucap Haven segera meraih amplop putih itu.


" Baiklah, Pak. Saya keluar dulu." seru pemuda magang dan segera berlalu.


__ADS_1



Ruang Persidangan.


Waktu berputar terasa sangat cepat, dan kini tibalah saat dimana persidangan akan dibuka lagi. Tampak ruangan itu kini dihuni banyak orang— terutama para reporter dan wartawan yang sudah siap dengan laptop dipangkuan masing-masing.


Suasana tampak menegangkan, apalagi saat Pak Hakim sudah memasuki ruang sidang dan duduk dikursi takhtanya.


Sementara Mama Allen yang duduk dikursi tersangka kini tak hentinya menatap pada Haven. Terlihat putranya itu tak meliriknya sedikitpun. Ada kesalutan dalam hati, karena sang putra bekerja dengan sangat profesional.


Tak lama terdengar suara ketukan palu tiga kali. Saat sidang resmi dibuka, terdengar jelas suara keyboard laptop. Semua reporter terlihat sibuk mengetik apa yang didengarnya.


" Saya akan mengumumkan satu peraturan selama proses sidang berlangsung." ucap Pak Hakim.


Semua yang berada diruang sidang kini menyimak dengan tenang. Dasyah yang juga hadir tentu kini menyeringai dengan senyum tipisnya.


" Saya tidak menerima bukti yang didapatkan secara ilegal. Bukti yang didapatkan karena pengaruh kekuasaan."


Pernyataan Hakim sontak membuat Papa Harvey dan Halbert terkejut. Dua pria tampan itu tak mampu berbicara saat dengan entengnya Pak Hakim melontarkan kalimat itu.


" Kurang ajar, ini jelas konspirasi." Papa Harvey merasa geram, namun putranya Halbert berusaha menenangkan.


" Kak, bagaiman ini? Apa Mama akan kalah? Lalu bagaimana bayi itu?"

__ADS_1


Alexa bersuara, menatap Ainsley dengan gurat wajah penuh kecemasan. Namun Ainsley justru tak menampilkan ekspresi apapun.


__ADS_2