Gadis Kecil Milik Tuan Harvey

Gadis Kecil Milik Tuan Harvey
Bab. 56~ SEASON 2


__ADS_3

Mama Allen yang mendengar perkataan putrinya, sudah siap mendengarkan protes yang akan diajukan Ainsley, begitu juga dengan Harvey.


" Kenapa nak?" tanya Harvey.


" Suruh koki rumah ini memasaknya lagi. Ada bulu mata dipiringku." ucap Ainsley dengan dingin.


Harvey dan Allen sontak saling melempar tatap. Keduanya pun dengan perlahan bangkit dari duduk, dan siap meninggalkan ruang makan saat merasa situasi sudah tidak mengenakkan.


" Papa, kenapa belum mengganti koki rumah kita? Terakhir kali aku mendapat satu helai rambut didalam kuah soup, dan sekarang ada bulu mata di lauk pauknya. Aku ingin dia diganti. Kalau tidak, aku akan angkat kaki detik ini dari rumah." Ainsley menegaskan ucapannya, membuat Papa Harvey dan Mama Allen sontak menghentikan langkahnya.


" Sayang, jangan seperti itu. Lagipula, bisa jadi bulu mata itu milikmu sendiri." terang Mama Allen dengan lembut.


Namun Ainsley justru berdiri dari duduknya dan menatap datar kedua orang tuanya.


" Aku membeli vitamin bulu mata disingapura. Bulu mataku sehat dan kuat, tidak mungkin gugur. Pastikan memecat koki itu sebelum aku kembali dari kamarku." ucap Ainsley dengan tegas dan segera berlalu.


Mama Allen seketika terdiam. Ia tidak tau lagi harus berkata apa, karena memang putrinya yang satu ini sangat over dalam menjaga diri dan kebersihan. Bahkan setiap minggu putrinya— Ainsley akan memesan vitamin rambut dan bulu mata dari luar negeri, hanya untuk memastikan agar bulu mata dan rambut tak ada yang gugur.


Setelah kepergian sang putri, wajah Mama Allen redup. Harvey langsung mengelus pelan bahu istrinya, memastikan agar wanitanya tidak sedih karena tempramen Ainsley.


***


Aku menghadirkan visual anak - anak Papa Harvey dan Mama Allen, ya.

__ADS_1


Visual Haven Murray— Anak kedua.




Visual Ainsley Murray— Anak ketiga.









Lima menit setelah insiden diruang makan, Mama Allen dengan berat hati harus memberhentikan koki dirumahnya. Ia juga sudah memberikan pesangon dua kali lipat, sebagai permintaan maaf karena diberhentikan secara mendadak.

__ADS_1


" Sayang, kau tidak heran melihat anak kita?" Mama Allen berbicara pada suaminya yang tengah membaca majalah disofa dalam kamar. Keduanya tengah bersantai, menikmati waktu berdua disiang hari.


" Mungkin karena mereka lahir bukan diwaktu yang tepat." jawaban santai meluncur dari bibir tipis Harvey.


" Bukan waktu yang salah, tapi dirimu. Andai saja kau tidak memaksaku membuat mereka, anak - anakku lahir tidak akan keras kepala." Mama Allen meralat ucapan suaminya dengan ketus.


Seketika Harvey menurunkan majalah didepan wajahnya dan menoleh pada istrinya yang tampak manyun.


" Sayang, tapi pada akhirnya kan kau mau saja waktu itu." seloroh Harvey dengan enteng.


Allen mendesah kasar.


" Putra keduaku asik mengelola biro jodoh ilegalnya, putri ketigaku terlalu over dalam segala hal, dan putri bungsuku sangat asik mengejar laki - laki yang tidak mencintainya. Hanya putra pertamaku yang berakal sehat." tiba - tiba Allen memaparkan semua hal tentang anak - anaknya.


" Sayang, jangan seperti itu. Bagaimanapun juga mereka adalah anugrah untuk kita." Papa Harvey menasehati sang istri.


" Tapi Sayang.."


" Mama, Papa.." terdengar suara teriakan dari seorang wanita muda— menyela obrolan Mama Allen dan Papa Harvey.


Brak.


Gadis muda nan cantik itu membanting pintu dan menerobos masuk kedalam kamar tanpa mengetuk pintu. Papa Harvey dan Mama Allen langsung menoleh, menatap pada gadis itu yang tak lain adalah Alexa— putri bungsunya.

__ADS_1


__ADS_2