
Halbert yang sejak tadi menjadi penonton keromantisan kedua orang tuanya, kini mengulum senyum. Pria muda itu bersyukur karena memiliki sosok Papa yang penyayang.
*****
Tak lama setelah kepergian Papa Harvey dan Halbert, terdengar derap langkah kaki yang dibalut hils hingga menggema disepanjang koridor tahanan.
Suara hils itu semakin mendekat dan tak lama menampilkan sosok Dasyah dengan penampilan yang modis.
" Bagaimana kabarmu, Kak Allen?" seru Dasyah seraya menyeringai.
" Apa kau yang melakukan semua ini?" Mama Allen melempar tatapan tajam pada wanita dewasa didepannya. Tatapan itu sangat menusuk hingga menggambarkan bahwa sieumpunya tengah berada dipuncak kemarahan.
" Aku harus jujur atau berbohong?" tutur Dasyah setengah bercanda.
Mama Allen tak merespon dan masih menatap Dasyah dengan kemarahan.
" Aish, dasar ****** itu meninggal sebelum aku membunuhnya." gerutu Dasyah kemudian setelah menyadari bahwa kakak iparnya sungguh tiada.
Mendengar ucapan Dasyah— Mama Allen mengernyit. Bingung melanda saat merasa perkataan wanita didepannya seakan menyatakan bahwa orang lain lah yang telah melakukan pembunuhan itu.
__ADS_1
" Apa maksudmu?" tanya Mama Allen.
" Huff.. dengar, ya. Aku memang berniat menyingkirkan ****** itu karena dia sudah berkhianat dibelakang kakakku. Tapi dia cukup beruntung karena meninggal lebih dulu." tutur Dasyah dengan jujur seraya memikirkan sesuatu.
" Ah, aku lupa.. karena secara tidak langsung orang lain memudahkan rencanaku, maka kasus ini akan kubawa ke pengadilan. Aku akan membuat publik mencetak namaku dengan baik." jeda Dasyah.
" Dasyah Rayes, menuntut keadilan atas kematian iparnya." lanjut Dasyah memperagakan kalimat yang akan muncul di surat kabar dan semua media lainnya.
" Apa.. "
Mama Allen tak mampu berucap lagi. Dirinya kini terjebak dalam kebingungan dan juga kemarahan. Ingin menjambak Dasyah, namun terhalang oleh jeruji besi.
•
•
Hari kini berganti, tak terasa waktu yang dinanti Mama Allen sudah tiba. Hari ini dirinya akan dibebaskan dengan surat jaminan. Namun sebelum itu, dia yang saat ini masih berada disel tahanan diberitahukan bahwa seorang jaksa penuntut akan menemuinya.
Selang beberapa detik, dari kejauhan tampak sosok jaksa muda yang terlihat tampan dengan setelan jas dan membawa tas kerja.
__ADS_1
Mama Allen terkejut, dia tidak menyangka bahwa putranya mengunjungi dirinya. Tak kuasa berkata-kata, Mama Allen hanya terdiam seraya mengamati Haven yang perlahan mendekat dan berdiri dibalik jeruji besi itu.
" Haven, ternyata kau mengunjungi Mama." ucap Mama Allen dengan senyuman lebar.
" Humm, aku datang berkunjung untuk melihat lawanku nanti dipengadilan." tutur Haven to the point.
Deg.
" Apa... apa kau yang akan menuntut Mama?" suara wanita cantik itu bergetar.
Haven tak menyahut dan hanya mengamati wajah Mamanya yang sedikit pucat. Dia bersikap seolah tak mengenal sosok Allen.
" Haven, Mama tidak melakukannya. Percayalah, tidak mungkin Mama membunuh seseorang." ucap Mama Allen saat melihat putranya yang diam saja. Suara Ia kecilkan agar penjaga yang berdiri tak jauh dari sel tahanan, tak mendengarkan.
Mendengar penuturan Mamanya— Haven justru menghela nafas kasar. Ia lalu memperbaiki letak kacamatanya yang bertengger dihidung mancungnya dan menatap intens pada wajah pucat Mamanya yang tiba-tiba meneteskan air mata.
" Nyonya Allen, dengarkan aku. Aku disini bukan sebagai seorang anak tetapi sebagai jaksa penuntut." jeda Haven.
" Karena Nyonya belum mengetahui bagaimana dunia kejaksaan, maka aku akan memperkenalkan. Dipengadilan, jaksa penuntut tidak akan peduli apakah tersangka berkata jujur atau berbohong. Karena tujuan jaksa penuntut hanya satu, itu adalah membuat tersangka menjadi terdakwa yang akan dijatuhi hukuman berat oleh hakim. Jadi sebaiknya, jangan mengungkap kebenarannya karena itu tidak akan memengaruhi apapun. Dimata dunia, kau sudah membunuh rekan seprofesimu dan kau akan dijatuhi hukuman atas perbuatan itu." jelas Haven panjang lebar.
__ADS_1