Gadis Kecil Milik Tuan Harvey

Gadis Kecil Milik Tuan Harvey
Bab. 67~ SEASON 2


__ADS_3

" Jangan melepas topi ini, disini banyak orang. Dimana-mana banyak reporter, mereka juga pasti mencarimu." seru Ainsley dan kembali merapikan kopernya.


" Apa seorang pramugari memiliki topi seperti ini?" tanya Halbert kemudian.


" Tidak." jeda Ainsley.


" Seseorang pernah menegurku, katanya aku mirip dengan Allen Dawnson. Jadi setiap lepas landas, aku biasa memakai topi agar orang-orang tidak bisa melihat wajahku." lanjutnya.


" Aku tau kau adalah Kakakku." tambahnya membuat Halbert seketika terkejut.


" Kapan kau mengetahuinya?" tanya Halbert kemudian.


" Humm.." Ainsley tampak berfikir. "Setahun lalu."


Mendengar ucapan gadis cantik didepannya, Halbert terdiam.


" Kau tau, alasan aku menjadi pramugari adalah supaya aku tidak tinggal dirumah. Supaya aku selalu keluar kota dengan kesibukanku agar tidak pernah melihat berita tentang Mama." tiba-tiba Ainsley bercerita dengan wajah sendu, sesuatu yang pertama kali dilihat oleh Halbert.


" Pulanglah. Mama pasti sedikit terhibur jika kau ada." ujar Halbert mengalihkan pembicaraan.

__ADS_1


Setelahnya Ia segera berlalu tanpa melepas topi hitam yang dipakaikan Ainsley.


*****


Tiba diluar bandara, Halbert yang akan berjalan menuju tempat dimana mobilnya terparkir, mendadak panik saat dari arah belakangnya terdengar suara tembakan yang begitu menggelegar. Sontak suasana dibandara menjadi rusuh, semua orang berlarian melindungi diri sendiri. Sedangkan Halbert, Ia justru menoleh pada sumber suara itu. Dan betapa terkejutnya dia saat melihat seorang wanita dan pria yang tengah adu bela diri dengan sengit.


Halbert mematung, mengamati pertikaian dua orang itu yang tak jauh darinya. Pandangannya hanya terarah pada sosok wanita bertopi hitam itu yang memakai masker hingga hampir seluruh wajah tertutupi.


Semakin dia mengamati, Halbert pun sadar bahwa wanita itu yang entah siapa berusaha melindunginya dengan menghantam tubuh sang lawan dengan tinju dan tendangan kuat. Terlihat wanita itu begitu pandai seni bela diri.


Selang beberapa saat, dua orang yang Halbert amati kini sudah usai bertikai— pria yang yang menjadi lawan kini sudah terkapar ditanah. Sedangkan wanita itu pun menghampiri Halbert tanpa melepas topi dan masker hingga Halbert tak dapat mengenalinya.


" Siapa kau?" tanya Halbert.


" Kau tidak perlu tau. Ini.. ambil ini dan berikan pada Ayahmu. Setelah itu masalah keluargamu akan selesai." wanita itu memberikan flashdisk pada Halbert— sebuah benda yang sangat kecil.


Halbert menerima dengan kebingungan. Setelahnya, wanita itu segera berlalu namun kembali lagi menemui Halbert.


" Ambil ini, dan simpan baik-baik. Meski musuhmu hanya satu orang, kau harus tetap berhati-hati. Oh, satu lagi.. suruh Ayahmu membawa barang itu ke kantor polisi supaya pencuri yang pernah menculikmu segera masuk ditahanan." jelas wanita itu— memasukkan sebuah pistol disaku jas Halbert dan segera pergi menjauh.

__ADS_1


Halbert membeku ditempatnya, menatap pada wanita itu yang perlahan menghilang seiring jauh melangkah.


" Dia tau tragedi delapan belas tahun lalu?" lirihnya— menanyai diri sendiri.




Kediaman Murray.


Tampak Mama Allen yang kini sudah tiba dirumah megahnya. Berjalan lesuh menuju kamarnya dan sesampainya didalam kamar, Ia sudah mendapati suaminya yang tengah duduk disofa dengan laptop dipangkuan.


Mata Mama Allen semakin berkaca-kaca, sementara Papa Harvey yang melihat raut wajah sedih istrinya tentu mengerti bahwa wanitanya itu ingin menangis. Dirinya lalu menghampiri sang istri dan langsung memeluknya dengan penuh kasih.


" Hiks.. Hiks.. Hiks.. " tangis Mama Allen pecah. Ia membalas pelukan suaminya dan menenggelamkan wajahnya pada dada bidang sang suami.


" Sayang, tenanglah. Beritanya mulai redam, aku sudah mengurusnya." Papa Harvey mengelus lembut punggung sang istri— berusaha menenangkan wanitanya yang tak hentinya menangis.


" Aku tidak masalah dengan beritanya, Hiks.. Hiks.." disela isak tangisnya, Mama Allen bersuara.

__ADS_1


" Aku hanya khawatir, bagaimana jika penjahat itu ternyata akan paham bahwa Halbert sebenarnya anak kita." tambahnya dengan suara parau.


__ADS_2