
Lama berdiam diri, mengamati gadis cantik itu yang tak merintih kesakitan, Halbert tetap enggan tuk menjauh. Tangannya bahkan masih pada posisi yang sama— menahan agar darah tak keluar lebih banyak.
" Aku tidak akan pergi, jika tidak mau kerumah sakit.. maka biarkan aku menunggu penjemputmu datang." seru Halbert setelah terdiam lama.
" Aku tidak tau kau siapa, aku tidak tau siapa namamu. Aku tidak tau.. darimana dirimu, tapi aku menyukaimu." ungkap Halbert dengan wajah sendu.
Wanita itu tak bergeming, memilih mengunci mulutnya.
" Aku menyukaimu.. menyukai dirimu saat pertama kali melihatmu dibandara." tambah Halbert.
" Aku tidak membutuhkan cintamu. Aku hanya perlu membuatmu aman selama hidupku." ucap gadis itu yang perlahan kehilangan kesadarannya.
Menyadari kondisi gadis didepannya yang kritis, Halbert pun seketika dibuat panik. Ia mencoba membangunkan gadis itu, namun tak mendapat respon. Namun tak lama, selang beberapa detik dua pria bertopi dan mengenakan masker, masuk kedalam ruangan.
" Minggirlah." ucap salah satu pria itu.
" Kalian siapa, apa kalian yang dia tunggu?" Halbert tak bergeser dari posisinya dan justru melontarkan tanya.
__ADS_1
" Aku bilang minggir, dia bisa mati jika kau menghalangi."
Mendengar ucapan pria disisinya, Halbert pun segera beranjak. Ia membiarkan salah satu pria itu menggendong tubuh lemah sang gadis asing. Tapi tanpa disadari, pria yang satu tiba-tiba membekap mulut Halbert dengan sapu tangan yang sudah diberi obat bius.
Seketika itu juga Halbert langsung terkulai lemah kurang dari satu detik saja. Ia ambruk diatas lantai dengan pandangan buram. Tak mampu bergerak dan hanya menyaksikan kedua pria itu berlalu dengan membawa gadis cantik itu.
•
•
Satu hari kemudian~ Kediaman Murray.
Tampak Mama Allen dan Papa Harvey serta Ainsley dan Alexa yang selalu setia menemani Halbert.
" Ma, kenapa Kak Halbert belum bangun." Alexa mulai resah melihat kondisi kakaknya.
" Sabar Sayang. Ingat kata dokter, kakakmu bisa saja kelelahan itu sebabnya belum bangun." tutur Mama Allen dengan lembut.
__ADS_1
Tak lama setelah Mama Allen bertutur ucap, jemari Halnert bergerak serta keningnya mengernyit. Matanya masih terpejam, tapi gerak tubuhnya seakan ia melihat sesuatu dialam bawah sadarnya.
" Tidak.. tidak.. jangan pergi." lirih Halbert yang masih memejamkan mata.
Sontak Papa dan Mamanya serta kedua adiknya kebingungan.
" Halbert, nak.. bangunlah. Jangan membuat kami takut." Mama Allen dibuat cemas hingga tak lama kelopak mata Halbert terbuka.
" Aku dimana?" tanya Halbert seraya bangun dari pembaringannya. Ia memegangi kepalanya yang terasa berat dan berdenyut hebat.
" Ini dikamarmu, Sayang." jawab Mama Allen— merasa senang melihat putranya sudah sadar.
" Apa yang terjadi, Halbert? Kenapa kau bisa pingsan dipengadilan?" Papa Harvey yang sejak kemarin menyimpan rasa penasarannya kini tak sanggup lagi menahan hingga langsung mengajukan tanya pada putra sulungnya.
" Entahlah, aku tidak ingat. Aku hanya mengingat saat keluar dari ruang sidang." jawab Halbert merasa aneh— seakan ada ingatan yang hilang.
Ia lalu mengangkat pandangannya, dan tepat saat dirinya melihat Alexa menitikkan air mata, Halbert seketika menautkan kedua alisnya.
__ADS_1
" Ada apa denganmu?" tanya Halbert dengan wajah datarnya.
" Aku takut terjadi sesuatu dengan kakak." tangis Alexa pecah, dia langsung naik keatas ranjang dan menghambur memeluk kakaknya dengan erat.