
Papa Harvey dan Mama Allen yang menyaksikan kini tersenyum. Namun tanpa diduga Ainsley juga turut mendekat dan ikut memeluk Halbert.
" Kami bahagia.. karena sudah mengetahui siapa kakak kami." seru Ainsley dengan lembut. Ia menumpahkan segala kerinduannya yang selama ini dipendamnya kepada sang kakak sulung, begitu juga dengan Alexa.
" Cih, kalian ini.. aku juga senang karena punya adik yang cantik seperti kalian." balas Halbert dengan hangat.
" Saking kalian cantik, aku ingin sekali menjadikan salah satu dari kalian sebagai pacarku." tambah Halbert menggoda kedua adiknya.
Serentak Ainsley dan Alexa melepas pelukannya dan menatap tajam pada sang kakak. Mendapati tatapan seperti itu, Halbert pun dibuat tergelak. Tanpa aba-aba dirinya kembali memeluk kedua adik cantiknya.
" Sayang, aku juga ingin dipeluk." celetuk Papa Harvey— terharu melihat kehangatan yang diciptakan putra dan putrinya. Ia menoleh dan mengerlingkan sebelah matanya kepada sang istri.
" Ishh, kau ini." Mama Allen memukul lengan suaminya dan tersenyum.
Tok. Tok. Tok.
Suara ketukan pintu membuat Halbert dan kedua adiknya tersadar. Ainsley dan Alexa langsung melepas pelukan dan menatap pada pintu yang tak lama terbuka dan menampilkan Tika.
" Nyonya, Tuan.. diluar ada Tuan Haven yang mau bertemu." ucap Tika dengan sopan.
" Haven?" Mama Allen mengernyit saat mendengar nama putra keduanya disebut.
Sedangkan Papa Harvey, dia segera keluar dan tak lama sang istri ikut menyusul.
" Aku juga mau lihat." jiwa keingintahuan Alexa meronta-ronta, dan dengan cepat dirinya turun dari ranjang. Segera keluar meninggalkan kedua kakaknya.
" Dasar anak itu, dia tidak pernah berubah." Halbert menggeleng melihat tingkah adik bungsunya. Karena merasa penasaran juga, dirinya hendak turun dari ranjang namun Ainsley yang sejak tadi tak bergeming kini menjadi penghalangnya.
" Kenapa kau tidak keluar." tanya Halbert menatap lekat wajah adiknya.
" Aku akan membantumu. Ayo." Ainsley berdiri lebih dulu dan mengulurkan tangannya kepada sang kakak.
" Cih, kau itu romantis sekali padaku." celetuk Halbert meraih tangan adiknya dan segera beranjak dari tempat tidur. Mereka lalu segera keluar dengan posisi Ainsley menggandeng lengan kakaknya.
" Kalau kau seperti ini.. aku bisa menyangka kau menyukaiku." ucap Halbert disela-sela langkah kakinya.
" Memang, aku pernah menyukaimu saat kelas SMP." jawab Ainsley dengan jujur. Seketika Halbert terkejut, dan tak melanjutkan langkahnya. Dia mematung ditempat seraya menatap dalam manik mata adiknya.
Plak.
__ADS_1
" Yah, kau jangan berfikir negatif. Itu dulu, sekarang tidak." seru Ainsley menepuk kening Halbert.
" ishh, kau itu kasar sekali." omel Halbert merasa kesal, namun Ainsley justru tak memperdulikannya dan segera meraih lengan sang kakak untuk dituntun keluar kamar.
Ruang Keluarga.
Duduk disofa bersebelahan dengan putranya— Papa Harvey dan Mama Allen menatap nanar pada Haven yang duduk disofa dengan wajah tanpa ekspresi. Pandangan sepasang suami-istri itu beralih pada gadis muda yang duduk disamping sang putra.
Kedua paruh baya itu tak memutus kontak mata dari gadis cantik yang terlihat pucat itu.
" Papa, Mama."
Suara cempreng Alexa mencairkan suasana. Mereka langsung menoleh pada sumber suara.
" Alexa, ada apa?" tanya Mama Allen.
" Aku ingin bergabung." jawab Alexa seadanya— mengambil duduk ditengah Papa dan Mamanya.
Tak lama Halbert dan Ainsley juga muncul dan langsung duduk disofa kosong.
" Langsung saja, kenapa Kak Haven datang dan siapa wanita itu?" Alexa langsung menyosor begitu saja, membuat gadis disamping Haven tersenyum.
" Aku ingin memperkenalkan wanita disampingku." ujar Haven— menjeda perkataannya.
Halbert dan Ainsley kini satu pemikiran. Mereka sejujurnya masih bingung pada status Haven dan gadis cantik itu.
" Iya, silahkan. Perkenalkan dia." seru Papa Harvey dengan raut wajah yang serius.
" Dia Vincencia, istriku." ucap Haven.
Pengakuan tak terduga itu tentu membuat semua langsung terkejut. Halbert dan Ainsley, meski keduanya memang berfikir gadis itu sebagai istri Haven, namun sebenarnya itu hanya tebakan saja.
" Istri?" bibir tipis Mama Allen bergerak pelan.
" Kapan Kak Haven menikah?" sahut Alexa.
" Lima bulan lalu, saat aku pertama kali menjadi jaksa." jawab Haven.
" Oh, dia cantik. Selamat untuk pernikahan kalian." seru Papa Harvey dengan santai.
__ADS_1
Sontak semuanya melongo mendengar penuturan sang kepala keluarga yang seolah tak keberatan sama sekali.
" Ah, iya. Selamat untuk pernikahan kalian. Dan selamat datang Vincencia dikeluarga kami." Mama Allen turut menimpali ucapan suaminya.
Mau bagaimana lagi, marah? Tentu tidak mungkin. Terlebih lagi ia merasa menantunya adalah wanita baik.
Haven tersenyum mendapati respon baik dari kedua orang tuanya. Ia lalu menoleh kesamping, dan menatap istri kecilnya.
" Selamat untuk kalian." Halbert yang sejak tadi diam menyimak kini bersuara dan kemudian beranjak dari duduknya.
" Terima kasih." balas Haven dengan senyum tipisnya.
" Kau tidak mau memelukku?" tanya Halbert tiba-tiba.
Haven terdiam, mengamati kakaknya yang terlihat tak bercanda.
" Aish, kupikir kau merindukanku seperti Sley dan Alexa." lirih Halbert dengan wajah dibuat sesedih mungkin. Seketika Haven tersadar, ia lalu tersenyum lebar dan beranjak dari duduknya. Memeluk Halbert tanpa berucap sepatah kata.
" Aku rindu, aku rindu dengan kakak sulungku yang selama ini tidak aku tau siapa orangnya." ucap Haven dengan mata berkaca-kaca.
" Tapi kau sudah tau kan." tutur Halbert mengulum senyumnya. Ia merasa bahagia karena setelah sekian lama bersembunyi dari saudarinya, kini akhirnya saling mengenal.
Papa Harvey dan Mama Allen turut bahagia, hingga tanpa sadar Mama Allen meneteskan air matanya karena merasa terharu melihat keakraban kedua putranya.
Lama berpelukan— saling melepas rindu, Haven lalu mengurai pelukannya dan menoleh pada istrinya.
" Kau sudah mengenal keluargaku kan. Mereka berdua kembar, dia adik bungsuku." ucap Haven pada istrinya yang sejak tadi menatap Ainsley dan Alexa.
" Kami bukan anak bungsu, karena ada adik bayi didalam sini." seloroh Alexa dengan polosnya mengelus perut sang Mama.
Perkataan Alexa sukses membuat kakak-kakaknya terperanjak. Begitu juga dengan Mama Allen yang tak tahu menahu. Sedangkan Papa Harvey, dia kini menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Merasa gemas pada putrinya yang terlalu polos dan jujur.
...♡♡♡TAMAT♡♡♡...
Terima kasih semuanya atas suport dan dukungan kalian. Kisah Mama Allen dan Papa Harvey selesai sampai disini, ya. Eits, tapi jangan gak enakan hati, karena aku akan buat novel anak-anak mereka kok.
Sekali lagi terima kasih, dan terus pantengin novel GADIS KECIL MILIK TUAN HARVEY biar bisa tau kapan update novel anak-anaknya. Atau bisa follow ig ku@ ningsih_official07
Love You semua🥰😘😘😘
__ADS_1