Gadis Kecil Milik Tuan Harvey

Gadis Kecil Milik Tuan Harvey
Bab. 71~ SEASON 2


__ADS_3

Didalam ruangan presdir, tampak Papa Harvey yang duduk disofa dengan Mama Allen yang berada disampingnya.


" Nak, kau tidak apa-apa?" tanya Mama Allen pada putranya yang juga duduk disofa.


" Humm." jawab Halbert seadanya. Ia lalu merogo saku jasnya dan mengeluarkan flashdisk yang tempo hari diberikan oleh seorang wanita.


" Seseorang memberiku ini." ujarnya menaruh benda kecil itu diatas meja didepannya.


Papa Harvey meraih flashdisk itu dan mengamati wajah putranya. "Apa isinya?"


" Aku tidak tau, wanita itu bilang Papa harus membawanya ke kantor polisi agar pelaku penculikanku segera ditangkap." terang Halbert.


Pasangan suami istri itu terkejut mendengar ucapan putra sulungnya.


" Benarkah? Siapa yang memberimu ini?" tanya Papa Harvey.


" Aku tidak tau, aku tidak melihat wajahnya. Dia memakai topi dan masker. Dia juga memberiku ini." jawab Halbert yang kembali mengelurkan pistol dari saku jasnya dan menaruh diatas meja.


" Pistol?" Mama Allen mengernyit.


" Kemarin seseorang hampir menembakku dengan senjata ini, tapi wanita itu menyelamatkanku. Dia memberiku ini untuk berjaga-jaga. Katanya penculik itu hanya sendiri, tidak berkelompok. Papa sebaiknya bawa itu ke kantor polisi dan Mama harus mengadakan konferensi pers." terang Halbert.

__ADS_1


Mendengar ucapan Halbert, baik Papa Harvey ataupun Mama Allen— keduanya terkejut hingga tak bisa berkata-kata.


Sementara Halbert, kini berdiri dan siap meninggalkan ruangan Papanya.


" Halbert." panggil Mama Allen menghentikan langkah putra tampannya.


Halbert menoleh dan tiba-tiba Mama Allen langsung memeluknya dengan penuh kasih.


" Sabarlah, sebentar lagi semua selesai." ujar Mama Allen tanpa melepas pelukannya.


Halbert tak bergeming, dan hanya diam menikmati pelukan hangat Mamanya.


" Aku akan pergi." ucap Halbert dengan datar dan segera melepas pelukan Mamanya.




" Sayang, aku sudah berfikir. Sebaiknya kali ini tidak perlu memberitahu publik bahwa Halbert adalah anak kita. Aku masih ragu, karena orang itu masih dalam proses penahanan. Kita tunggu lima bulan lagi, tepat dihari ulang tahun Halbert." tutur Mama Allen setelah berfikir lama.


" Sayang, aku takut Halbert kecewa. Nanti dia akan berfikir aneh." ujar Papa Harvey— memberi masukan atas keputusan istrinya.

__ADS_1


" Aku yakin Halbert akan mengerti. Aku hanya ingin.. setelah penjahat itu di diberi hukuman, maka aku akan memberitahu pada dunia bahwa aku punya empat anak bersama suamiku." tutur Mama Allen yang masih keras pada pendapatnya sendiri.


Papa Harvey menghela nafas, mau tak mau harus mengikuti ucapan istrinya karena tidak ingin terlibat pembicaraan lama yang pada akhirnya berujung pada debat.


Huek, huek.


Ditengah perbincangan ringan sepasang suami istri itu, tiba-tiba Mama Allen ingin muntah. Ada rasa yang bergejolak dalam lambunya, sehingga itu terus saja membuat dirinya mual-mual tidak jelas.


" Sayang, sepertinya kau kurang enak badan. Bagaimana jika konferensi persnya ditunda dulu, kita bisa melakukannya besok atau lusa saat kau sudah baikan." Papa Harvey memberi saran, namun Mama Allen menolak dengan cepat.


" Kalau begitu kita singgah dulu direstauran. Aku akan memesan makan siang dan kau bisa menggunakan toilet restauran." tawar Papa Harvey lagi.


" Tidak perlu, Sayang. Aku tidak ingin muntah, tapi perutku hanya sedikit tidak enak." lirih Mama Allen dengan lemah.


" Baiklah, tidurlah dulu nanti aku akan membangunkan saat sudah sampai." Papa Harvey memasang bahu kekarnya agar sang istri dapat beristirahat.


Setelah itu dia lalu meraih ponselnya, menghubungi asisten istrinya.


" Hallo, Gery." sapa Papa Harvey saat panggilannya sudah terhubung.


" Iya, Tuan. Ada apa?" balas Gery.

__ADS_1


" Aku sudah diperjalanan bersama Allen. Dengar, istriku tidak baik-baik saja, jadi buat konferensi pers itu berjalan hanya selama tiga puluh menit saja. Aku harus membawa istriku istirahat dirumah." titah Papa Harvey dengan tegas.


" Oh, baiklah Tuan." seru Gery.


__ADS_2