Gadis Kecil Milik Tuan Harvey

Gadis Kecil Milik Tuan Harvey
Bab. 94~ SEASON 2


__ADS_3

Apartemen Fresya.


Setelah mendapat surat izin dari kantor, Haven kini langsung terjun ke tempat terjadinya perkara. Dia yang ditemani oleh pemuda magang kini sudah berada didalam hunian mewah milik mendiang Fresya.


Haven mulai melakukan penyidikannya dengan mengamati semua ruangan didalam apartemen.


" Aku tidak mendapatkan barang milik Mama dimanapun. Jika Mama memang kesini dan membunuh Fresya, berarti mereka pasti berkelahi dulu."


Haven bermonolog dalam hati. Mengamati setiap sisi ruangan namun tak ada yang didapati.


" Pak, sepertinya pelaku hanya masuk membunuh dan segera keluar." seru pemuda magang itu.


" Benarkah?" Haven menimbang-nimbang hasil penyidikan bawahannya.


" Iya, Pak. Lihatlah, ruangan didalam sini tidak berantakan. Dan juga didalam kamar tidur utama, semua masih rapi dan tersusun pada tempatnya."


Haven mengangguk mendengar laporan pemuda magang itu.


" Bagaimana hasil autopsi jenazah korban?" tanya Haven yang masih sibuk memeriksa semua benda diruang tamu.

__ADS_1


" Hasil autopsinya, diperkirakan korban sudah tidak bernafas sekitar dua puluh menit sebelum datangnya bantuan medis." seru pemuda itu seraya membaca selembar kertas yang merupakan hasil laporan autopsi.


Mendengar penjelasan pria disampingnya, Haven terdiam. Dia menyadari sesuatu yang penting.


" Dua puluh menit?" lirihnya seakan memikirkan sesuatu.


" Rumah sakit dekat dari sini, jika Mama waktu itu langsung menghubungi bantuan medis, maka ambulance akan datang dalam sepuluh menit saja. Berarti pelaku sesungguhnya baru meninggalkan tempat sekitar delapan menit sebelum kedatangan Mama." gumam Haven dalam hati.


Alibi Haven sangat meyakinkan dirinya bahwa Mamanya benar tidak melakukan pembunuhan itu. Namun Haven tidak dapat bertindak jauh karena dirinya bertugas bukan sebagai hakim melainkan jaksa penuntut.


" Pak, sepertinya pembunuhan ini dilakukan oleh orang profesional. Dia hanya melakukan pekerjaannya tidak lebih dari sepuluh menit dan juga tidak meninggalkan bukti apapun." terang pemuda magang itu.


Haven terdiam, dalam hati sebenarnya merasa lega karena Mamanya bukanlah pelaku pembunuhan Fresya.


" Dengar, jangan tinggalkan tempat ini." seru Haven dengan panik dan segera berlari keluar— hendak menyusul pria itu.


*****


Haven saat ini masih mengejar pria itu hingga sampai diluar apartemen. Mereka berdua berlari dengan mengerahkan semua tenaga, melewati trotoar hingga tiba diperempatan jalan— pria bertopi itu tersandung dan tersungkur ditanah.

__ADS_1


Haven dengan cepat menangkap pria itu dan melepas topi yang dikenakan.


" Siapa kau, apa kau pelakunya?" nafas Haven masih tak beraturan, imbas dari pengejarannya.


Bukk.


Tanpa aba-aba pria asing itu menghadiahi Haven bogem tepat diwajah hingga membuatnya terlepas dari cegatan Haven. Setelahnya pria itu kembali berlari dengan cepat.


" Aakkh, sial.. bedebah itu." umpat Haven merasa frustasi setelah kehilangan jejak.


Ia segera bangkit dengan mengedarkan pandangannya, namun lelaki tadi menghilang dengan cepat. Mau tak mau Haven memutuskan untuk tidak mengejar pria itu terlebih lagi dirinya saat ini tengah bekerja. Haven mundur dan kembali ke apartemen Fresya.


*****


" Pak, ada apa denganmu."


Pemuda magang itu terkejut saat Haven muncul dari luar pintu dengan memar diwajah juga jejak darah dari hidung.


" Aku mengejar pelakunya, tapi dia lepas." jawab Haven merasa perih dibawah matanya.

__ADS_1


" Jadi pria itu pelakunya, Pak?"


Haven mengernyit, heran atas pertanyaan pemuda magang itu. "Kenapa kau bertanya seperti itu?"


__ADS_2