
" Rasain, makanya jangan selalu ikut campur urusan kami." ledek Haven setelah menghentikan tawa renyahnya.
" Duo tampan muncul juga." sahut Ainsley dari belakang Halbert dan Haven.
Kedua pemuda tampan itu menoleh dan hanya menatap nanar pada Ainsley.
" Sley, kapan datang?" tanya Haven.
" Baru saja. Ah, kenapa kalian diruang makan? Apa kalian mau makan? Sebaiknya makan diluar saja, karena koki rumah ini sudah dipecat." tutur Ainsley panjang lebar dan segera meninggalkan kedua pria muda itu.
Haven menggeleng. "Dasar miss perfect. Untung saja dia tidak tinggal disini, karena kalau tinggal dirumah ini pasti semua pelayan akan diganti setiap minggu." omel Haven dan hendak pergi, namun Halbert tiba - tiba menghentikannya.
" Kau harus meninggalkan usaha biro jodoh ilegalmu." titah Halbert serius.
Haven menghempas tangannya hingga terlepas dari Halbert.
" Ck, ck, ck.. kau lagi - lagi selalu mencampuri hidupku dan saudariku. Sebaiknya urus saja perusahaan, jangan kami. Ohya, terserah aku ingin berbuat apapun." ucap Haven dengan tegas.
" Tinggalkan usahamu itu, jika tidak maka aku tidak akan pernah membantumu lagi jika kesusahan." hardik Halbert tak kalah tegas.
__ADS_1
Ia mulai merasa kesal pada sikap Haven yang sangat keras kepala, namun justru sering membuat masalah. Bahkan Haven menjalankan usaha biro jodoh ilegal selama lima bulan belakangan, dan hasilnya semua kacau. Setiap hari hanya akan ada yang datang kerumah dan meminta uangnya dikembalikan karena memang Haven menjodohkan seseorang tidak gratis. Mereka semua harus membayar lunas sebelum berpacaran, senilai seratus lima puluh ribu.
***
Mendengar ancaman Halbert, Haven dibuat mati kutu hingga tak dapat lagi membantah. Namun dirinya segera berlalu tanpa memberi jawaban mengenai usaha biro jodoh ilegalnya.
" Dasar pembuat onar. Andai saja kau bukan adikku, aku akan menggigit telingamu." gerutu Halbert menatap kepergian Haven.
Sementara disatu sisi, tampak Ainsley yang hendak keluar rumah dan berpapasan dengan Mama Allen yang terlihat rapi dengan setelan yang modis.
" Sayang, kau mau pergi kemana?" tanya Mama Allen, melepas kacamata hitamnya.
" Ikutlah dengan Mama. Hari ini Mama ada syuting di sekitaran mall." ajak Mama Allen dengan lembut.
" Tidak perlu. Nanti orang - orang melihat kita dan berfikir apa hubungan Allen Dawnson dengan gadis muda itu." Ainsley menolak dengan dingin membuat Mama Allen mau tak mau hanya bisa pasrah.
" Baiklah, Mama pergi dulu ya. Hati - hati dijalan." ucap Mama Allen dan segera berlalu.
" Tunggu."
__ADS_1
Mama Allen menghentikan langkahnya. Ia berbalik kebelakang dan menatap putri cantiknya yang seolah ingin mengatakan sesuatu.
" Dimana kakaku?" tanya Ainsley.
Mama Allen termangu, terdiam seketika saat pertanyaan yang sama diajukan oleh putrinya. Ia masih bisa mengingat, pertanyaan itu juga ditanyakan oleh Ainsley satu tahun lalu.
" Kakakmu.. bukankah tadi Haven sudah datang?" Mama Allen berpura - pura bodoh.
" Ma, jujurlah. Kak Haven adalah anak kedua, jadi pasti aku punya Kakak pertama. Dimana dia?" tanya Ainsley lagi.
" Ainsley!" sentak Mama Allen untuk pertama kalinya berlaku kasar pada putri tercinta.
" Mama sudah berapa kali mengatakan, jangan pernah menyebut dia atau mempertanyakan dia. Sekali saja kau sebut dia, maka kita tidak tau bahaya apa yang akan mendatanginya. Tolong, jangan tanyakan dia." Mama Allen menegaskan ucapannya.
Namun sekilas, sudut matanya menangkap sosok pelayan yang tengah berdiri tak jauh darinya.
" Kakakmu diluar negeri. Jangan tanya dimana tepatnya, karena Mama tidak akan pernah memberitahu siapapun. Sekarang dia fokus belajar." lanjut Mama Allen, memakai kembali kacamatanya dan bergegas pergi.
Tanpa disadari keduanya, Haven ternyata berada dibalik pilar kokoh— mencuri dengar apa yang dibicarakan Mama dan adiknya.
__ADS_1